Nyakseni Subang Nyeni, Ternyata Anak Muda Subang Itu Keren

KOTASUBANG.com, Subang – Anak muda Subang itu keren. Demikian yang tergambar setelah menyaksikan gelaran Subang Nyeni di Pendopo Pemkab Subang, Jumat sore (10/2/2017). Bagaimana tidak, puluhan anak muda dengan piawai mementaskan berbagai seni pertunjukan mulai dari tari, musik, teater hingga pantomim yang jarang dipentaskan. Yang lebih keren, mereka juga berhasil memadukan seni pertunjukkan tradisional dengan modern dengan apik.

Sebut saja kumpulan anak muda yang tergabung dalam Et Labora Foni. Grup musik kontemporer ini berhasil menyajikan suguhan world music atau kolaborasi alat musik dari berbagai belahan dunia. Tentunya tidak ketinggalan alat musik sunda, termasuk Toleat yang merupakan alat musik khas Subang.

Ada pula grup Musik Simphony 1C. Jauh dari hingar bingar musik yang digemari anak muda saat ini, Simphony 1C berhasil memperkenalkan musik keroncong kolaboratif kepada ratusan anak muda yang menyaksikan gelaran tersebut. Lebih unik lagi, keroncong yang ditampilkan dimainkan dengan alat-alat karawitan sunda. Genre musik yang dianggap “tua” oleh sebagian orang ini berhasil memukau penontonnya yang mayoritas anak muda. Tampilan apik mereka akan mengubah pandangan anak muda yang hadir di sana terhadap musik keroncong.

Yang paling unik adalah Pantomim. Seni pertunjukkan yang sudah berusia ratusan tahun ini diperkenalkan oleh Habib Mime. Saat ini dirinya mungkin merupakan satu-satunya seniman Pantomim yang ada di kota Subang. Beruntung sebelum pementasan dia bertemu Dirga, bocah kecil yang berani menemaninya tampil.

Pertunjukkan Subang Nyeni ditutup dengan penampilan Longser dari Teater Lika 04. Sebelumnya disajikan tarian tradisional sunda dan rajah. Longser yang merupakan seni pertunjukkan teater khas sunda ini ditampilkan apik dengan humor-humor segar sehingga membuat penonton tak mau beranjak hingga akhir acara.

Panitia penyelenggara dan antusiasme penonton muda dalam Subang Nyeni ini harus diapresiasi, meskipun masih ada sedikit ketidaksempurnaan. Berdasarkan pengamatan KOTASUBANG.com, satu-satunya kekurangan dalam pagelaran ini adalah kondisi Aula Pemkab yang memang tidak diperuntukkan sebagai ruang pertunjukkan. Hal ini menyebabkan detil suara dari para perfomer tidak sampai sempurna ditelinga penonton. Karenanya sudah saatnya Pemkab segera mewujudkan gedung Kebudayaan yang sesuai dengan standar pertunjukkan. Bukan hanya sekedar wacana.

Pagelaran Subang Nyeni berlangsung 10-11 Februari 2017 di Aula Pemkab Subang dengan beberapa kali pertunjukan, siang, sore dan malam.