Warung Dadakan Mulai Menjamur di Pantura, Subang, Jawa Barat

imagesSudah menjadi tradisi setiap tahunya, mudik lebaran menjadi ladang meraup rupiah bagi warga yang terlintasi jalur arus mudik. Salah satunya warga di sepanjang jalur Pantura Kabupaten Subang yang mendirikan warung dadakan berukuran sekitar 2×5 meter di sepanjang jalur mudik Pantura.

Salah seorang pemilik warung, Rusmana (35) menuturkan, dirinya membutuhkan waktu sekitar tiga hari untuk medirikan warung tersebut dan menghabiskan biaya sekitar Rp700 ribu hingga Rp1 juta. “Pokoknya dari mulai membangun sampai modal, habis Rp3 juta,” ujar Rusmana saat di temui INILAH.COM di jalur mudik Pantura Subang, Minggu (28/7).

Rusmana sendiri merupakan warga Kampung Kedung Jaya, Desa Batang Sari, Subang dan menjual berbagai camilan dan minuman di warung dadakannya. Seperti kopi, mie instan, air mineral, dan makanan ringan lainnya. Hal ini, sudah dilakoninya sejak empat tahun silam atau sudah dijalani sebanyak empat kali arus mudik/balik lebaran.

Berdasarkan pengalaman di tahun sebelumnya, Rusmana mengaku, keuntungan yang bisa dia raih bisa mencap[ai Rp3 juta. “Alhamdulilah lumayan untungnya, tahun kemarin, keuntungan dari jualan seperti ini dalam satu minggu sekitar Rp3 juta,” akunya.

Meningkatnya pembeli, lanjutnya, jika terjadi kemaceran yang signifikan. Sedangkan pengunjung terbanyak pada tahun kemarin rata-rata merupakan pengendara roda dua. “Sekali berhenti di warung ini, tahun kemarin, ada 50 sampai 200 kendaran roda dua,” katanya.

Warga lain, Endar (40) menambahkan, jelang arus mudik tahun ini, jumlah warung dadakan lebih banyak dibanding tahun sebelumnya. “Tahun kemarin di jajaran ini hanya ada 5 warung, sekarang yang lagi buat lebih dari 18 warung,” terang Endar.

Biasanya, lanjut warga Sukasari RT 15/11 Desa/Kecamatan Sukasari ini, pengujung paling banyak di malam hari. “Kalau pemudik yang berhenti, untuk sekedar istrihat dan jajan paling banyak itu terjadi di malam hari,” tandas pria yang sudah berjualan sejak tiga tahun lalu ini. (Inilah)