Inilah Danau Keramat di Cupunagara, Hulu Sungai Cipunagara

KOTASUBANG.com, Cisalak – Sungai Cipunagara adalah sungai terpanjang di Kabupaten Subang, membentang lebih dari 80 km dari ujung selatan Subang hingga bermuara di laut jawa di ujung utara. Daerah Aliran Sungainya meliputi 24 sungai dan 74 anak sungai, dan merupakan DAS terluas di Kabupaten Subang yaitu 1200 km2 . Tahukah anda dimana sungai yang merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat Subang ini berhulu ?

Salah satu hulu sungai Cipunagara adalah danau atau situ Cipabeasan yang terletak di bawah puncak gunung Bukit Tunggul di kampung Bukanagara, desa Cupunagara, kecamatan Cisalak. Di sini  terdapat mata air yang keluar dari sela bebatuan yang kemudian membentuk situ Cipabeasan. Dari situ Cipabeasan inilah kemudian air mengalir kemudian membentuk sungai Cipunagara. (baca juga : Membuka Kisah Bukanagara 1 (Catatan 2013))

Salah satu mata air di situ Cipabeasan, Bukanagara

Batu-batu yang dipercaya sebagai makom/petilasan Eyang Mangkunegara, di bawahnya terdapat mata air yang mengalir ke situ Cipabeasan

Situ ini merupakan salah satu situs yang dikeramatkan oleh warga sekitar, pada waktu tertentu banyak para peziarah yang datang kesana. Menurut juru kuncinya, Mamah Romlah (71) jumlah kunjungan terbanyak biasanya pada bulan Maulud. Makom Eyang Mangkunegara merupakan tujuan para peziarah yang datang ke sana. Salah satunya berupa batuan besar dimana sumber mata air berada di bawahnya. Dari mata air inilah sungai Cipunagara bermula. (baca juga : Membuka Kisah Bukanagara 2 (Catatan 2013))

Mitosnya jika pengunjung mandi di sana kemudian air dari sumber mata air warnanya berubah menjadi putih seperti air beras, maka hajatnya akan dikabul. Namun warna mata air tersebut hanya akan berubah warna menjadi putih pada waktu yang tidak tentu, sehingga tidak setiap pengunjung beruntung datang pada waktu yang tepat. Inilah yang kemudian menjadi nama situ tersebut yaitu situ Cipabeasan, karena pada waktu tertentu warna air yang keluar dari mata airnya berwarna putih keruh seperti air beras.

Peziarah bersama juru kunci di makom Eyang Mangkunegara di pinggir situ Cipabeasan

Situ Cipabeasan, sebagian situ dipenuhi tanaman Bayongbong

 

Situ Cipabeasan tidak tampak seperti situ yang luas, karena hampir semua bagiannya ditumbuhi tanaman yang oleh masyarakat Bukanagara disebut tanaman Bayongbong padahal situ ini menurut warga luasnya hampir 1 hektare. Tanaman Bayongbong yang tumbuh di tengah situ ini juga dikeramatkan oleh sebagian warga. Mereka percaya jika tanaman ini ditanam di sudut pematang sawah pada musim tanam maka padi yang ditanam akan tumbuh baik.

Terlepas dari kepercayaan maupun mitosnya, situ Cipabeasan merupakan salah satu aset desa Cupunagara. Karena keberadaanya harus dijaga oleh masyarakat setempat. Menurut Rudi, Kasi Cagar Budaya dan Museum Disdikbud Kabupaten Subang, situs Cipabeasan sudah teregistrasi secara nasional karenanya situsnya secara fisik harus dilindungi, nilai filosofis dan kesejarahannya pun harus dicatat dan dibukukan.

Sepakat dengan itu, Kepala Dusun Bukanagara, Ita, juga mengungkapkan pihaknya juga menginginkan penataan situs Cipabeasan dan penertiban pengelolaannya mengacu pada aturan yang ada.

Salah satu ruas jalan padati yang dibangun 1847. Kedua sisi nya adalah tebing batu. kemungkinan kedua tebing ini asalnya merupakan batu raksasa yang di pahat untuk di buat jalan di tengahnya.

Tugu prasasti di halaman pabrik teh. Tertulis di sana, jalan padati (Cisalak – Bukanagara) dibangun tahun 1847 oleh Hofland

Sementara itu menurut Sekdes Cupunagara, Ade Rohendar, selain wisata ziarah, Cupunagara juga memiliki potensi wisata lainnya, salah satunya adalah situ Kamulyan. Hanya saja situ ini perlu dinormalisasi terlebih dahulu karena kini hampir semua bagiannya juga sudah mengalami sedimentasi.

Potensi wisata lainnya di Cupunagara adalah wisata sejarah. Di sana terdapat bangunan-bangunan peninggalan perusahaan perkebunan Belanda P n T Land, sebagian diantaranya masih dipergunakan hingga kini. Di pinggir jalan Cisalak – Cupunagara juga masih dapat dilihat sisa goa peninggalan Belanda. Sementara itu jalan tersebut dikenal sebagai jalan Padati yang dibangun pada masa P n T Land tahun 1847, hal itu tertera pada tugu prasasti yang terdapat ditengah lapangan pabrik teh Bukanagara. (baca juga : Membuka Kisah Bukanagara 3 (Catatan 2013))

Goa di pinggir jalan Cisalah – Bukanagara. Menurut warga, goa ini dibangun pada zaman Belanda tahun 1930-an

Bagian dalam goa, hanya tersisa beberapa meter saja karena sudah tertutup kembali oleh longsoran tanah

Kini di Puncak Eurad, tapal batas Cupunagara – Lembang juga sudah dibuat tempat istirahat dimana di sana dibangun sebuah menara pandang untuk menikmati keindahan lembah kampung Cibitung, Cupunagara yang merupakan kampung terujung Kabupaten Subang.

Arief Budiman, salah seorang pemuda setempat juga menyatakan kesiapannya bersama pemuda lainnya di Cupunagara, untuk bersama-sama mengembangkan potensi wisata di desanya. Sehingga, Cupunagara semakin dikenal dan perekonomian di desa terujung di Kabupaten Subang ini semakin menggeliat. (baca juga : Memandang Kampung Terujung Subang di Tapal Batas Puncak Eurad)

 

 

  • tino junaidi

    kenapa ngga dibuat wisata kubangan jalan dan pasir di desa bunihayu, itu bagus dan banyak ruginya buat masyarakat