Media Menjadi Sosial (Leason Learned from Netherlands)

Pada awalnya, Media tidak memiliki sifat sosial. Manusialah yang memiliki sifat sosial. Situasi lingkungan telah berubah, hari ini Manusia dapat menggunakan media sosial untuk bersosialisasi di luar tatap muka, melakukan kontak dan melakukan percakapan tanpa dibatasi ruang dan waktu. Media, sekarang bisa memiliki sifat ‘sosial’ dengan terlibat dalam sebuah percakapan.

Layanan seperti Twitter, Facebook, Google+ dan LinkedIn menggabungkan mode percakapan dengan pilihan grup-pesan. Setiap media sosial memiliki dinamika tersendiri, dengan beberapa fitur yang khas dimana lebih banyak menciptakan-konten dan mendistribusikan nilai-konten daripada yang lain.

Semua platform media sosial menawarkan opsi kepada penggunanya dapat membuat halaman mereka sendiri (Facebook), akun (Twitter), halaman merek (Google+) atau halaman perusahaan (LinkedIn). Twitter dan Facebook memiliki perbedaan, ketika berbicara tentang hubungan antara pengguna, di Facebook jumlah teman yang menjadi penting, di Twitter jumlah pengikutlah yang menjadi penting.

Kita mengenal istilah pendengar/penonton, yaitu sekumpulan orang yang menjadi penerima pesan. Dengan demikian penonton/pendengar adalah konsep pasif. Berbeda dengan istilah pendengar ataupun penonton, adapun komunitas/masyarakat adalah organisme hidup, bersifat aktif di luar masukan dari salah satu sumber utama informasi. Masyarakat tidak hanya mendistribusikan informasi, juga menciptakan konten dengan komentar dan memperkaya serta menambahkan nilai.

Piet Bakker, Sanne Hille, and Marco van Kerkhoven [1] menyelidiki bagaimana Media Belanda (Koran dan Televisi) menggunakan media sosial. Apa strategi mereka ketika menggunakan media ini, dan seberapa sukses. Pada tahun 2011, dengan mengambil sampel 64 media yang dianalisis untuk mengakses bagaimana mereka menggunakan Facebook. Apakah mereka memiliki fanpage Facebook? Dapatkah pemirsa menyukai suatu artikel media, merekomendasikan dan berbagi artikel media? Berikut adalah hasilnya:

Dari sampel yang dianalisis 64 Media, hampir semua telah memiliki Fanpage Facebook (92%), namun hanya 60% yang memiliki tombol Find Us On Facebook, lalu sekitar 50% telah memiliki tombol Follow Us on Facebook, kemudian prosentasi yang hampir sama dikisaran 50% telah memiliki tombol Share, sebanyak 34% media memiliki tombol Recommend dan sebanyak 28% media memiliki tombol like pada website resmi yang dimiliki media.

Media, bisa memiliki sifat ‘sosial’ dengan terlibat dalam sebuah percakapan. Hasil penelitian diatas menjadi catatan bagi media dan kita semua.

[1] Social Media Strategies and Practices of Integrated Media Companies, Piet Bakker, Sanne Hille, and Marco van Kerkhoven. Handbook of Social Media Management Value, Springer 2013

gugyhPenulis :

Gugyh Susandy, SE, M.Si,

Akademisi, Penulis Buku Emotional Marketing

Berita Terkait: