Saya Bangga, Menjadi Muslim dan Menjadi Indonesia

Dua hari ini, kebanggaan saya sebagai muslim dan sebagai Indonesia membuncah. Bagaimana tidak, Jumat dan Sabtu (2-3/12/2016) saya menjadi saksi 2 peristiwa sejarah yang membangkitkan nasionalisme. Setelah kemarin saya turut serta bersama jutaan muslim dalam aksi bela Islam III, hari ini saya bersama kawan-kawan, Alhamdulillah, berkesempatan turut menyaksikan pertandingan Sepak Bola Timnas VS Vietnam di stadion Pakansari, Bogor.

Lelah memang, setelah Jumat dini hari berangkat ke Jakarta untuk aksi 212 dan baru pulang Jumat tengah malam, kemudian Sabtu pagi harus berangkat lagi dengan kawan-kawan yang lain untuk Aksi Bela Timnas 312, dan sekarang pukul 01.35 WIB saya masih berada di tol Jagorawi menuju kota Subang tercinta. Namun lelah itu terbayar dengan sebuah kebanggaan akan Indonesia yang akan menjadi cerita buat anak cucu kelak.

Kemarin sebenarnya saya tak berniat mengikuti aksi 212, namun saya terenyuh ketika melihat ribuan santri dari Ciamis yang rela berkorban dengan berjalan kaki dari Ciamis ke Jakarta setelah pemerintah melarang PO Bus disewa untuk aksi 212. Sungguh, mereka setia dalam keyakinannya. Karenanya, akhirnya saya berangkat, ikut bersama rombongan beberapa teman sekampung.

58410ef09cb97-foto-udara-aksi-damai-212-di-monas_663_382
Sumber foto : Antara/Sigid Kurniawan

Meskipun hanya bisa sampai di bundaran BI dan tidak bisa sampai ke Monas karena banyaknya umat yang hadir, saya sangat puas. Disana saya bertemu dengan banyak sekali orang yang berbicara bahasa jawa, bahasa padang dan bahasa lainnya yang saya tak tahu pasti dari mana asal mereka. Siapa yang tak bangga menjadi bagian dari jutaan umat yang berasal dari berbagai suku ini, melaksanakan aksi super damai dengan tertib dan beradab. Banyak peserta aksi yang saling mengingatkan, agar tak merusak pohon atau taman. Di televisi saya melihat rumput Monas tetap hijau, para santri yang bersih-bersih setelah masa bubar, bahkan Kapolri mengatakan tak sepotong cabang pohon pun rusak karena aksi damai ini. Sebuah prestasi yang menunjukkan kualitas umat Islam dan matangnya demokrasi di Indonesia. Belum pernah ada rasanya ada aksi di Indonesia yang diikuti jutaan manusia dan berjalan begitu damai. Dunia pun menyaksikannya.

Di sana berkali-kali saya merinding, mendengar jutaan umat memekikan takbir, mendengar suara adzan ditengah lautan manusia. Bahkan dalam hujan!. Dan ketika jutaan umat muslim mengumandangkan lagu Indonesia Raya secara bersama-sama, kebanggaan menjadi Indonesia semakin membuncah. Pekik takbir mengakhiri Lagu Indonesia Raya itu. Sungguh menggetarkan dada. Saya juga melihat ada beberapa orang yang menitikan air mata haru. Sebuah peristiwa yang mungkin tak akan terulang.

Jika saja dicatat rekor MURI mungkin aksi kemarin sudah memecahkan berbagai rekor. Rekor menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan jumlah jutaan orang, rekor aksi dengan peserta terbanyak, rekor shalat Jumat dengan jumlah makmum terbanyak dan lain-lain. Tapi yang terpenting, disana terlihat persatuan umat Islam dalam kebhinekaan.

1385790282607956759

Saya teringat dengan pidato Ketua MUI Sumbar (Buya Gusrizal Gazahar -red)  yang menggetarkan  jiwa kemarin. Katanya, para pahlawan nasional, yang menegakkan syiar, yang menegakkan semboyan merdeka atau mati, semua itu tegak di atas keyakinan terhadap janji-janji Al-Quranul Kariim.

“Jangan coba-coba sentuh kitab suci dengan penodaan, yang menjadi keyakinan para pejuang untuk mengangkat senjata, memerdekakan negara ini. Kami siap mempertahankan Negara Kesatuan, tetapi jangan rusak keimanan,” ujarnya ketika itu, disambut takbir oleh umat.

Namun sayang, indahnya aksi damai itu tak mengetuk nurani sebagian orang di media sosial. Masih saja ada diantara teman-teman medsos yang nyinyir dengan aksi tersebut. Dan mereka sebagian yang nyinyir itu masih teman-teman muslim. Mulai dari status yang membahas dana aksi yang lebih baik digunakan untuk kemanusiaan, sholat jumat yang katanya tidak sah, hingga pertanyaan kemana jutaan muslim ini ketika masjid di Tolikara dibakar. Semua boleh berpendapat, tapi alangkah elok lebih baik menahan diri jika tak sependapat. Tapi ah sudahlah, yang penting saya bersyukur Jumat kemarin saya bisa bergabung dengan jutaan umat dan menjadi saksi sejarah.

Dan malam ini sekali lagi saya bangga menjadi Indonesia. Bersama presiden Joko Widodo dan puluhan ribu supporter Timnas, kembali mengumandangkan Indonesia Raya menyemangati para Garuda. Dan yang lebih membanggakan Indonesia menang melawan Vietnam. Alhamdulillah.

Sekali lagi saya bangga, menjadi muslim dan menjadi Indonesia…

Penulis : Sangara,

Ditulis di Tol Jagorawi- Cipali dalam perjalanan Bogor – Subang

Sumber foto header : CNN/Facebook

 

Artikel Terkait:

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here