Mencicipi “Gaharnya” Lumpia Basah Neki, Subang Jawa Barat

lumpia

Lumpia Basah (Foto : Jejakrasa)

Waktu hampir mendekati magrib pertanda buka puasa. Tetapi, puluhan orang masih berkerumun di dekat sebuah gerobak yang dipajang di atas trotoar jalan Panglejar, kota Subang, Jawa Barat, Kamis 25 Juli 2013 petang.

Mereka mengantri untuk mendapatkan pesanan lumpia basah Neki Cineki, perempuan paru baya yang kini sedang naik daun di Subang. Selama ramadan, lumpia basah Neki, makin diburu para penggemarnya dari berbagai penjuru Subang bahkan daerah luar untuk kudapan saat berbuka.

“Soalnya enak dipakai menu saat berbuka, rasanya gahar dan bikin keringetan,” kata Yeni, seorang penggemar lumpia basah dari Kecamatan Dawuan. Ia rela datang ke kota Subang yang berjarak 10 kilometer dari rumahnya demi lumpia basah.

“Sehabis menyantap lumpia basah, rasanya badan yang tadinya lemes, jadi segar lagi,” timpal Dedeh, pembeli lainya asal Kecamatan Pagaden yang jaraknya 20 kilometer dari kota Subang yang memesan lima kotak.

Makanan selingan yang baru “dirilis” delapan bulan lalu oleh Neki tersebut berbahan dasar sederhana dan lumrah, seperti seperti garam, gula pasir, bawang merahputih, kemiri dan merica. Bumbu dapur tersebut, lalu diracik dan dijadikan satu, lau tambahannya ada sosis dan sosis yang sudah diiris-iris dan telur.

Cara mengolahnya pun sederhana. Digongseng diatas wajan ukuran sedang, dengan diawali mematangkan minyak goreng, lalu rackan bumbu ditaburkan bersamaan dengan itu ikut ditaburkan irisan baso dan sosis serta telur.

Setelah diaduk secukupnya hingga merata sesuai banyaknya pesanan, lalu giliran taoge segar ditaburkan di atas bumbu yang tampak “seksi dan merangsang” itu.

Kemudian bumbu dan taoge diaduk secara teratur, dalam waktu kurang dari 10 menit, lumpia basah sudah siap saji dan bisa disantap atau dihidangkan di atas amparan kulit lumpia di atas kotak pembungkus.

Neki mengaku racikan bumbu lumpia basah buatannya adalah resep buatan bakat kreativitas anaknya, Marina Widia, sarjana lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung yang dikenal sebagi maniak lumpia basah. “Tapi, bumbu intinya sama dengan yang lain,” ujarnya. Ada resep rahasia” “Biasa aja ah,” ujar Neki.

Ia mengaku, lumpia basah buatannya laris manis sepanjang hari, termasuk ramadan pertama dalam sejarah jualannya. Harganya pun sangat terjangkau, Rp 6.000 per porsinya. Gerobak martnya selama bulan puasa setiap hari buka mulai pkl.16.00 hingga 20.00. “Selama ramadan, setiap hari jualan kami laku rata-rata 300 hingga 400 kotak,” ujarnya.

Penikmat lumpia basah buatan Neki, konon tidak saja datang dari seantero Subang. “Tapi ada juga yang dari Bekasi, Purwakarta dan Karawang,” ujar Neki. Ia menambahkan, lumpia basah buatannya, tahan sampai lima jam. (Tempo)