Subang Pecahkan Rekor MURI Hasil Panen Padi Tertinggi

KOTASUBANG.com, Pamanukan – Museum Rekor Indonesia (Muri) mencatat rekor baru yaitu hasil panen tahun 2016 sebanyak 10,2 ton per hektare sebagai yang tertinggi di Indonesia. Hasil panen itu memecahkan rekor sebelumnya, 9,6 ton per hektare di Jember, dua tahun lalu.

Penyerahan piagam rekor Muri produksi padi tertinggi per hektare itu berlangsung di Desa Rancasari, Kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang, Rabu 23 November 2016. Piagam Muri diserahkan kepada Direktur PT Kertopaten Kencana, Hermawan Sutantio dan Perwakilan Kelompok Tani Srimukti.

“Hasil hitungan panen yang memecahkan rekor Muri tahun ini di lahan Haji Aas, Desa Rawagempol. Hasil ubinannya 57,2 kg sehingga hasil panen per hektarenya mencapai 10,214 ton. Hasil itu memecahkan rekor lama 9,6 ton per hektare di Jember, dua tahun lalu,” kata Senior manager Muri, Yusuf Ngadri seusai penyerahan piagam.

Dia mengatakan, tak menutup kemungkinan ke depannya akan ada rekor baru bila ada hasil panen per hektare yang melebihi hasil saat ini.

“Kami berharap ini bisa menjadi motivasi bagi petani lainya sehingga berlomba-lomba meningkatkan produksi. Malahan, kami berharap ke depan ada yang bisa menghasilkan 12 ton atau 14 ton per hektare sehingga bisa memecahkan rekor yang sekarang,” ujarnya.

Hermawan, penerima piagam Muri mengatakan, dia mendukung kegiatan dengan menyiapkan pupuk majemuk pada saat demplot sehingga hasilnya bisa memecahkan rekor Muri.

“Pencapaian ini kami dedikasikan bagi para petani Indonnesia. Potensi bisa menghasilkan produksi padi lebih tinggi masih terbuka, tentunya dengan menerapkan teknologi,” ujarnya.

Dia mengatakan, target awal rekor Muri bisa 12 ton per hektare tetapi cuaca sangat ektrem sehingga tak memungkinkan mencapainya. “Deplot di Subang sebenarnya ada yang bisa mencapai 11,7 ton tapi menjelang panen, cuaca sangat ektrem sehingga yang tercatat di rekor Muri jadinya 10,2 ton,” katanya.

Dia berharap pemecahan rekor kali ini bisa memotivasi petani lainnya dan memecahkan rekor hasil panen melebihi saat ini. Apabila produksi terus naik, tentunya swasembada pangan nasional bisa lebih mudah dicapai. Apalagi, bila diimbangi dengan harga gabah yang bagus yang bisa menambah semangat dan menyejahterakan petani.

“Yang paling penting, hasil panen bisa bagus dan petani bisa dapat harga tinggi saat mereka panen sehingga kesejahteraannya bisa meningkat,” ujarnya. (Pikiran Rakyat)