Tempat-Tempat Berikut Jadi Saksi Sejarah Pertempuran Rakyat Subang Pertahankan Kemerdekaan RI

KOTASUBANG.com, Subang – Selepas Kemerdekaan Indonesia diproklamirkan 17 Agustus 1945, pemerintah Belanda tidak pernah mau mengakui kedaulatan Indonesia. Bahkan meskipun telah menandatangani perjanjian Linggarjati yang isinya mengakui secara de facto wilayah Republik Indonesia, untuk wilayah Jawa dan Madura, namun Belanda nyatanya melakukan Agresi militer I tanggal 27 Juli – 5 Agustus 1948 dan Agresi Militer II pada 19–20 Desember 1948. Untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, ketika itu masyarakat Subang juga turut berjuang bersama para tentara.

4 Februari 1949, pertempuran besar sempat terjadi di Ciseupan, Kecamatan Tanjungsiang. Ketika Batalion Engkong Darsono tengah beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan long march dari Yogyakarta, tiba-tiba datang serangan dari empat penjuru. Namun dengan semangat yang tinggi, pasukan Engkong Darsono berhasil memenangkan pertempuran meskipun ada beberapa korban tewas ketika itu. Untuk memperingati bahwa pernah terjadi pertempuran dengan pasukan Belanda di Ciseupan, di sana kemudian dibuat Monumen Perjuangan 45 Ciseupan.

10 Juni 1948 pertempuran sengit juga terjadi di Warungdoyong, Desa Pring­kasap, Kecamatan Pabuaran antara pasukan Belanda dengan pasukan Gelang Kencana di bawah pimpinan A.S Wagianto. Dua anggota Pasukan Gelang kencana gugur dan Wagianto sendiri mengalami luka-luka.

Agustus 1948 terjadi penyerangan terhadap pos tentara Belanda oleh Pasukan dari Batalion Chandra Birawa 88. Di Stasiun Tanjungrasa mereka berhasil merampas kereta api. Pada bulan yang sama perampasan lokomotif oleh pasukan pejuang kembali terjadi. Kemudian lokomotif yang telah dipasangi bendera merah putih tersebut dijalankan tanpa manusia dan berhasil sampai ke stasiun Cikampek. Pasukan Belanda di Cikampek menjadi kalang kabut.

Bulan September 1948 Belanda menyerang Pabuaran dari semua arah dengan mengerahkan pasukan dari darat dan udara. Pada waktu itu daerah Pabuaran dipertahankan oleh Batalion Naga Merah yang dipimpin Kapten Romli beserta Kesatuan Ber­senjata 88. Pertempuran berlangsung mulai pukul 05.00 sampai pukul 14.00 WIB. Dalam pertempuran itu Komandan Kompi Naga Merah bernama Ontareja gugur. Selanjutnya kapten Romli memepersatukan pasukan komando dan SP 88 dan bergerak di daerah Pabuaran, Pringkasap, Sukamandi, Pasirbungur dan Kalijati.

Sejarah mencatat, masyarakat Subang bersama TNI berjuang bahu membahu mempertahankan kemedekaan Indonesia.