Kisah Heroik Tentara Siliwangi dan Rakyat Ciseupan, Tanjungsiang pada Perang Kemerdekaan

KOTASUBANG.com, Subang – Monumen perjuangan itu berdiri kokoh di salah satu sudut kampung Ciseupan dipinggir sungai desa Cibuluh. Ada 4 bagian utama monumen tersebut yaitu relief yang menggambarkan perang gerilya, relief lidah api menjulur yang menggambarkan semangat juang rakyat Cibuluh, tulisan Monumen Perjuangan 45 dan patung maung Siliwangi yang berdampingan dengan patung seorang pejuang Indonesia.

Adanya monumen perjuangan 45 di desa Ciburuh merupakan penanda terjadinya peristiwa heroik sekaligus tanda penghormatan bagi para pejuang yang gugur dalam pertempuran melawan penjajah Belanda di Ciseupan. Dikutip dari buku Sejarah Kabupaten Subang dan Facebook Kampung Ciseupan berikut kronologis peritiwa heroik tersebut.

Pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda kembali melancarkan Agresi Militer untuk yang kedua kalinya, Ibu Kota Republik Indonesia di Yogyakarta di rebut Belanda, Soekarno-Hatta beserta beberapa pimpinan Indonesia lainnya ditawan. Jenderal Soedirman beserta seluruh Angkatan Perang pun masuk hutan untuk menjalankan perang gerilya melawan Belanda.

monumen-ciseupan-subang-2 monumen-ciseupan-subang

Sementara itu Pasukan Siliwangi yang hijrah ke Yogyakarta segera melakukan Long March menuju Jawa Barat pada tanggal 20 Desember 1948. Pada umumnya mereka menuju daerah-daerah dimana mereka berjuang sebelum hijrah. Batalion Engkong Darsono menuju daerah gerilya Jakarta, Bogor, Bekasi, Cianjur, Batalion Lukas menuju gerilya Karawang Purwakarta, Batalion Suparjo menduduki daerah gerilya Ciasem.

Hari kamis, tanggal 4 Februari 1949 sebanyak 1500 prajurit RI dari Batalion 3001 Prabu Kian Santang Brigade XIII-Divisi Siliwangi sekembalinya dari Yogyakarta menuju Bandung singgah di Desa Rancamanggung untuk berisitirahat. Jumlah pasukan di bawah pimpinan Mayor Engkong Darsono  ini tidak tertampung semua di desa Rancamanggung. Karenannya kemudian disebar ke daerah lain termasuk ke kampung Ciseupan, Desa Cibuluh, tepatnya di Pasirserah.

monumen-ciseupan-tanjungsiang-subang

Demi kelancaran dan keamanan, Mayor Engkong Darsono selaku pimpinan Batalion kemudian mengirim surat kepada Kepala Desa Cibuluh dan ditujukan kepada pimpinan Markas Besar Belanda yang berada di Cidongkol, namun dikarenakan jauh maka surat disampaikan kepada Markas Belanda terdekat yang ada di kampung Cikaramas dan Gardusayang. Surat tersebut berisi permohonan ijin menginap dan permohonan bantuan keamanan perjalanan menuju kota Bandung. Pihak Belanda kemudian mengijinkan Tentara RI menginap dengan syarat semua persenjataan harus diikat.

Namun, pada hari Jum’at tanggal 5 Februari 1949 sekitar pukul 04.00 dini hari, pasukan Belanda dari arah Bolang mendatangi kampung Ciseupan dan dengan paksa tentara Belanda mengumpulkan pemuda dan masyarakat Ciseupan untuk menunjukan keberadaan pasukan Siliwangi. Setibanya di Pasirserah tentara Belanda melakukan penyergapan secara tiba-tiba dan berhasil merampas senjata milik tentara Siliwangi. Karena pasukan tidak seimbang tentara Siliwangi mundur ke daerah Rancamanggung untuk meminta bantuan dari tentara Siliwangi lainnya.

monumen-ciseupan-subang-4 monumen-ciseupan-tanjungsiang-subang-3

Di bawah komando Mayor Engkong Darsono tentara Siliwangi melakukan penyerangan kembali terhadap tentara Belanda yang melakukan penyergapan di daerah Ciseupan maka terjadilah pertempuran besar-besaran. Dengan kemampuan dan semangat yang gigih akhirnya pasukan Belanda dapat dilumpuhkan.

Namun sayang, peristiwa tersebut juga menyebabkan jatuhnya korban jiwa dari pihak Indonesia. Lima prajurit Siliwangi dan 2 penduduk sipil gugur, 3 orang prajurit luka berat, 2 orang penduduk sipil luka tembak. Selain itu 2 ekor kerbau milik penduduk juga turut tertembak mati. Sementara itu dari pihak Belanda 1 tentara berpangkat mayor, 5 orang tentara berpangkat letnan dan 35 orang prajurit Belanda meninggal.  Seusai petempuran tersebut 3 pucuk senjata mesin (Bren Gun) berikut peluru mesinnya, 2 pucuk mortar berikut 16 butir peluru serta 48 senjata LE/Sten Gun milik Belanda dapat dirampas oleh Pasukan Siliwangi.

Untuk mengenang peristiwa tersebut  Monumen Perjuangan 45 didirikan di kampung Ciseupan, Desa Cibuluh, Kecamatan Tanjungsiang dan diresmikan pada tanggal 20 Mei 1976.