Peta Sosial Politik Subang Kemarin, Kini dan Nanti : Riset Empiris Political Marketing (2)

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIESA pada Tahun 2014 telah mengadakan sebuah penelitian political marketing dengan topik peluang keterpilihan caleg dapil subang, majalengka dan sumedang. Hasil penelitian untuk daerah pemilihan (dapil) Subanglah yang akan menjadi bahan analisa dalam tulisan ini. Adapun hal-hal yang akan menjadi bahasan meliputi : pertama, profil demografis calon pemilih; kedua, perilaku dan persepsi calon pemilih; ketiga, hubungan, regresi dan determinasi antara popularitas, akseptabilitas, dan elektabilitas kandidat; keempat, elektabilitas partai. (baca juga : Peta Sosial Politik Subang Kemarin, Kini dan Nanti : Riset Empiris Political Marketing )

Metodologi

Survey dilakukan dengan wawancara langsung/tatap muka menggunakan instrumen kuisioner/angket oleh pewawancara yang sudah dilatih sebelumnya. Sampel responden diambil secara gugus bertahap yang mewakili masing-masing 7 daerah pemilihan (Subang 1-7). Responden adalah mereka yang sudah memiliki hak pilih pada pemilu 2014. Total responden dalam survei ini adalah 240 responden yang tersebar di 20 Kecamatan. Analisa data menggunakan statistik deskriptif dan inferensial.

Profil Demografis

Jenis kelamin calon pemilih sebanyak 63% didominasi oleh perempuan sedangkan sisanya 37% adalah laki-laki. Apabila disandingkan dengan data KPUD Subang (2014) menunjukkan jumlah calon pemilih perempuan sebesar 51% dan laki-laki sebesar 49%. Dengan demikian, terkonfirmasi bahwa jumlah pemilih perempuan di Kab. Subang memang lebih banyak dari laki-laki. Adapun dari sisi usia calon pemilih rata-rata berusia 40 tahun. Apabila kita sandingkan dengan data BPS (2014) maka rentang usia 35-39 tahun berjumlah diangka 120 ribu, menempati posisi nomor dua setelah rentang usia 25-29 tahun yang berjumlah dikisaran 124 ribu. Dari sisi Agama yang dianut, calon pemilih mayoritas beragama Islam (99,58%) dan berlatar belakang suku Sunda (94,58%) dan suku Jawa (4,58%). Adapun segi pendidikan calon pemilih dapat diketahui berlatar belakang pendidikan SD (38,33%), SMA (30%), SMP (24,17%). Selanjutnya faktor demografis lainnya yaitu dari sisi pekerjaan calon pemilih dapat diketahui 4 (empat) peringkat teratas jenis pekerjaan berturut-turut adalah Ibu Rumah Tangga (37,5%), wiraswasta (32,08%), dan Buruh & Petani masing-masing (10,42%).  

Secara garis besar dapat ditarik kesimpulan profil demografis calon pemilih Subang tahun 2014 adalah pemilih yang rata-rata berusia 40 tahun, berjenis kelamin perempuan, seorang muslimah, orang Sunda, berlatar belakang pendidikan lulusan SD dan dalam keseharian bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga atau wiraswasta.

Perilaku dan Persepsi

Calon Pemilih diukur sejauhmana sentimen mereka terhadap akhlaq, dan mayoritas menilai Sangat Penting (75,8%) seorang kandidat itu taat beragama. Selanjutnya calon pemilih ditanya dalam hal sentiment etnis (suku) dan dapat diketahui sebesar 40,8% memandang netral dan tidak penting (27,1%) soal sentimen suku ini. Untuk sentimen agama calon pemilih menilai sangat penting (42,5%) dan penting (30,8%) seorang kandidat itu berstatus muslim. Adapun aspek yang diukur lainnya yaitu sentimen primordial dan calon pemilih menilai penting (36,7%) dan sangat penting (30%) seorang kandidat itu putra daerah. Terkait dengan sentimen korupsi dapat diketahui bahwa calon pemilih menilai sangat penting (84,6%) seorang kandidat itu bebas korupsi.

Secara garis besar dapat ditarik kesimpulan calon pemilih di Subang tahun 2014 memiliki perilaku dan persepsi menyukai/akan memilih Kandidat jika ia seorang yang bebas korupsi, muslim, taat beragama, Putra Daerah, bisa laki-laki maupun perempuan dan dari suku bangsa mana pun (non Sunda).

Popularitas, Akseptabilitas, dan Elektabilitas

Pertimbangan bagi calon pemilih kandidat di Subang tahun 2014 dapat diketahui karena faktor figur (45%), kombinasi figur dan partai (43,33%) dan faktor pertimbangan partai hanya sebesar (7,08%).

Adapun temuan yang berkenaan dengan hubungan Popularitas (kenal kandidat) dengan Akseptabilitas (suka kandidat) terdapat korelasi Negatif sebesar -0,259 artinya hubungan tidak erat dan Tidak Signifikan. Hubungan Popularitas (kenal kandidat) dengan Elektabilitas (percaya) terdapat Korelasi Negatif sebesar -0,493 artinya hubungan sedang dan tidak signifikan. Dapat difahami bahwa calon pemilih yang menyatakan kenal dengan kandidat, belum tentu suka dan percaya (akan memilih) kandidat tersebut.  

Sedangkan hubungan Akseptabilitas (suka kandidat) dengan Elektabilitas (percaya kandidat) terdapat Korelasi Positif yaitu sebesar 0,908 artinya sangat erat dan signifikan. Dapat difahami bahwa calon pemilih yang menyukai kandidat maka akan memiliki kepercayaan terhadap kandidat.

Adapun bila dilihat dari sisi pengaruh Popularitas dan Akseptabilitas terhadap Elektabilitas secara Simultan/bersama-sama menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan (uji F). Sedangkan, pengaruh Popularitas terhadap Elektabilitas secara parsial tidak signifikan (uji t). Pengaruh Akseptabilitas terhadap elektabilitas secara parsial signifikan (uji t). Dapat difahami bahwa kandidat tidak hanya harus dikenal saja namun harus disukai oleh calon pemilih. Elektabilitas dipengaruhi oleh Popularitas dan Akseptabilitas sebesar 85,5% maka sisanya yaitu 14,5% oleh faktor lainnya.

Fenomena empiris menunjukan Caleg populer, berhubungan negatif dengan tingkat aksepta dan elekta artinya ada ketidakpuasan terhadap kinerja caleg incumbent. Hubungan tingkat aksepta dan elekta sangat erat. Fenomena empiris menunjukan Caleg Popuper berpengaruh negatif terhadap tingkat elektabilitas, artinya ada ketidakpuasan terhadap kinerja caleg incumbent. Pengaruh tingkat akseptabilitas terhadap elektabilitas besar dan signifikan. Pengaruh Popularitas dan Akseptabilitas terhadap elektabilitas secara bersama-sama signifikan, dengan determinasi sebesar 85,5%.

Elektabilitas Partai

Calon pemilih tahun 2014 di Subang ketika ditanyakan mana partai yang paling dipercayai maka hasilnya dapat diketahui sebagai berikut : PDIP (24,17%), GOLKAR (20,83%), DEMOKRAT (10,42%), NASDEM (5,42%), PKS (4,17%), HANURA (4,17%), PAN (3,75%), GERINDRA (2,92%), PKB (2,92%), PPP (2,92%), PBB (0,83%) dan Tidak Menjawab (17,50%). Dengan masih banyaknya sekitar 17,50% calon pemilih yang masih merahasiakan pilihannya maka peta ini sebagai gambaran dasar elektabilitas partai di Kab.Subang waktu tahun 2014 yang lalu.

Peta Sosial Politik Subang: Kini dan Nanti

Selanjutnya menarik untuk kita telaah kutipan pendapat dari sosiolog Yanu Endar Prasetyo (2016) sebagai berikut “Tahun 2013-2016 adalah tahun-tahun dimana pembangunan fisik gencar dan pesat dilakukan di Subang. Pada tahun-tahun politik saat itu, Tol Cipali dibangun dan resmi dioperasikan. Menyusul kemudian kantong-kantong industri baru yang menjadi magnet bagi urbanisasi, meski dengan skala yang masih belum besar namun membawa perubahan demografi yang cukup signifikan. Pesatnya industri baru merekrut buruh perempuan misalnya, dari hasil kajian TRPIP tahun 2016, menunjukkan bahwa jumlah pemilih perempuan dari kalangan pekerja/buruh dan ber KTP Subang kemungkinan juga akan meningkat. Profil pemilih perempuan di kantong industri (Kalijati, Cipeundeuy dan Purwadadi) dengan rata-rata usia 27 tahun, aktif di sosial media dan menjadi anggota serikat buruh tentu tidak bisa diremehkan sebagai basis suara dalam pemilihan kepala daerah. Belakangan, kekuatan buruh juga telah cukup membuktikan bagaimana bargaining position mereka dalam berbagai isu di Kabupaten Subang, sehingga kekuatan buruh sangat patut untuk diperhitungkan oleh para calon pemimpin di Kabupaten Subang. Kendati pun tidak semua serikat atau aliansi buruh di Subang solid dan memiliki komitmen yang sama, namun setidaknya mereka telah menunjukkan eksistensinya dan sangat mungkin menjadi kekuatan utama seiring industri yang terus merangsek masuk ke kabupaten Subang. Pertumbuhan ekonomi berbasis industri tidak hanya berpusat di zona-zona industri yang ada, akan tetapi juga melebar hingga ke pantura Subang. Hadirnya rencana pembangunan pelabuhan internasional Patimban tahun depan akan mengubah arah ekonomi pembangunan Subang. Siapa pun pemimpin Subang nantinya harus memiliki sikap dan merespon dinamika sosial dan ekonomi ini. Mereka harus mampu menjelaskan kemana arah pembangunan ekonomi Subang akan berlabuh? Dinamika politik Nasional dan Regional pada 2017-2019 juga akan sangat mewarnai tren politik lokal di Kabupaten Subang. Sebagaimana di awal tulisan ini, siapa kelak figur kepala daerah di Jakarta, sedikit banyak juga akan mewarnai preferensi publik terhadap calon bupati dan wakil bupatinya. Apakah dari militer? pengusaha? birokrat? akademisi? atau politisi? Masyarakat tentu merindukan figur pemimpin yang bisa membuat hati mereka terpaut. Membuat mereka merasa dekat, terlibat dan merasa memiliki. Sekali lagi, meskipun popularitas-elektabilitas itu penting dan akan mengantarkan pada kemenangan Pilkada, sejarah membuktikan bahwa itu saja tidak cukup untuk menjadi kepala daerah yang amanah dan selamat. Tanpa jejaring riil ke akar rumput, visi yang kuat, integritas, moralitas dan keberpihakan pada kepentingan yang lebih luas, maka singgasana yang telah dibangun dengan teramat mahal itu akan runtuh dengan sekejap mata. Disamping itu, kita juga tidak bisa naif, bahwa selain proses politik di atas mimbar terbuka dan media, ada banyak pergerakan politik di bawah tanah dan di ruang-ruang tertutup yang kadang menggulung habis aspirasi publik. Selalu ada kepentingan lain, entah itu intelejen, pusat, taipan dan bahkan kekuatan lain yang teramat kabur dan “ghaib” untuk dipahami publik. Tentu saja mereka ada dan akan terus bekerja” (baca juga : Peta Sosial Politik Subang : Elit dan Akar Rumput)

Menarik dengan situasi dan kondisi Subang saat ini dan kedepan yang akan sangat berbeda, perlu untuk dikonfirmasi Peta Sosial Politik Subang secara akurat melalui suatu riset political marketing selanjutnya. (baca juga :  Peta Sosial Politik Subang : Kemarin, Kini dan Nanti)

gugyhPenulis :

Gugyh Susandy, SE, M.Si,

Akademisi, Penulis Buku Emotional Marketing

Berita Terkait: