Peta Sosial Politik Subang : Elit dan Akar Rumput

Penulis :

Yanu Endar Prasetyo, Pegiat Subang Baru, saat ini penulis sedang menempuh S3-nya

di University of Missouri, Amerika Serikat.

Subang sedang mengalami “paceklik kepemimpinan”. Sebuah masa dimana sulit mencari figur ideal dalam birokrasi dan kepemimpinan. Badai KPK telah mengubah struktur politik lokal menjadi demikian cair dan membutuhkan proses untuk kembali menguat pada poros-porosnya. Subang tentu tidak sendirian, paceklik kepemimpinan ini dialami pula – bahkan lebih dulu – oleh ratusan daerah lain yang merupakan anak kandung otonomi daerah. Sebuah era dimana raja-raja kecil menjadi penguasa mutlak di daerah. Subang pun pernah mengalami tren sentralisasi kekuasaan oleh raja kecil itu, dimana penempatan orang sangat jauh dari prinsip“the right man in the right place”. Kepentingan umum dilupakan karena sengaja diletakkan di bawah kepentingan pribadi dan golongan. Masa dimana publik mengeluhkan segala hal, tapi tak kuasa berbuat apa-apa karena didera ketakutan untuk bersuara. Rezim semacam ini merayakan otonomi secara berlebihan dan kebablasan, hingga pada akhirnya digulung pula oleh peribahasa politik klasik dari sejarawan John Dalberg-Acton yang mengatakan bahwa “power tends to corrupt, and absolut power corrupts absolutely”. Para pemimpin dari rezim lama itu, baik yang tua maupun muda, akhirnya bergiliran satu per satu menginap di hotel prodeo.

Namun, realitas politik tidak pernah absolut. Ia dinamis dan tak pernah berhenti di tempat. Meskipun kita akui kegagalannya dalam memproduksi birokrasi yang bersih, namun harus kita akui pula bahwa otonomi daerah juga berhasil membidani lahirnya pemimpin-pemimpin yang berprestasi. Mereka adalah angin segar bagi demokrasi kita di tengah pengapnya politik transaksional yang sering melukai nalar dan akal sehat. Pilkada DKI menjadi contoh tampilnya angin segar kepemimpinan di ibu kota, dimana keenam kandidat yang tampil adalah tokoh-tokoh pemimpin ideal dari basisnya masing-masing.

Terlepas dari dinamika politik praktis di dalamnya, mereka telah menjadi oase bagi demokrasi elektoral dan prosedural yang terus digugat oleh ketidakpercayaan publik ini. Pun di negara yang didongengkan sebagai corong demokrasi seperti Amerika Serikat, seorang Hillary Clinton juga sedang berusaha mencatatkan sejarah menjadi presiden perempuan pertama di negeri itu. Tentu tidak mudah. Tren ini menambah angin segar bahwa meskipun compang-camping dan tidak sempurna, sistem demokrasi masih memberi kita sedikit ruang dan kepercayaan bahwa setiap orang – terlebih orang baik dan berkompeten – masih memiliki kesempatan yang relatif sama untuk menjadi pemimpin. Demokrasi tidak hanya milik para mafia.

Elit dan Akar Rumput

Itu hingar bingar dinamika politik di level makro. Lalu bagaimana dinamika di akar rumput Subang sendiri? Sejatinya ditengah-tengah masyarakat Subang tidak pernah sepi dari obrolan politik. Masyarakat kita adalah tipikal masyarakat yang gemar bergosip. Selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan orang lain, terlebih pada para pemimpinnya. Politik bukan barang asing, bahkan di pedesaan sekali pun. Mereka merayakan banyak pesta-pesta politik, mulai dari pemilihan ketua RT, RW, Kepala Desa, memilih pengurus masjid, karang taruna, terlibat dalam organisasi massa, laskar-laskar, hingga menjadi partisipan aktif dalam pilkada, pilpres dan berbagai momen demokratis lainnya. Politik uang juga bukan barang baru, malahan sering dinanti-nanti pada masa perayaan demokrasi. Tidak selamanya calon pemimpin membodohi rakyat, seringkali masyarakat juga mencurangi para petualang politik itu. Kecurangan dibalas dengan kecurangan lain. Pada sisi ini barangkali kita masih membutuhkan proses panjang untuk demokrasi yang lebih substansial. Diawali dengan mengubah paradigma politik para patron lokal terlebih dahulu agar kebiasaan konstituen (client) di lapisan ini berubah menjadi lebih substantif.

Pada lapisan menengah yang lebih berpendidikan dan melek teknologi, kehadiran internet dan media sosial tentu menjadi referensi politik yang tak terbatas bagi mereka. Mereka adalah golongan yang mengidentifikasikan diri sebagai kaum urban dan kelas pekerja. Orientasi politik mereka tidak lagi mengikuti patron lokal atau tokoh masyarakat, melainkan dari jejaring lintas wilayah, group-group di facebook, twitter atau berita-berita dari media lainnya. Mereka tampil lebih percaya diri dan berani mengkritisi segala hal. Massa pada lapisan ini juga tumbuh secara signifikan. Bentang geografis tidak lagi menjadi halangan bagi lapisan menengah ini untuk saling terkonekasi. Geopolitik subang utara, tengah dan selatan yang selama ini dianggap sebagai batas pemisah untuk menganalisis perilaku pemilih, nampaknya akan semakin melebur dan tidak lagi relevan. Ke depan, opini publik pada lapisan inilah yang akan menentukan peta politik lokal, bukan hanya di Subang, tetapi juga di seluruh daerah yang semakin terjangkau dengan teknologi informasi.

Lalu, bagaimana dengan elit politik Subang saat ini melihat dinamika sosial politik yang ada? Sebagian masih gagal fokus dan menganggap tidak banyak perubahan yang akan terjadi saat ini dan ke depan. Sebagian lagi terpaksa tiarap seiring dengan hilangnya figur patron yang selama ini memayungi. Sebagian kecil lainnya adalah mereka yang responsif dan membaca tanda-tanda jaman dengan perhitungan yang lebih realistis. Elit Partai politik Subang nampaknya masih banyak yang gagal fokus dan tiarap. Kikuk menempatkan diri di tengah berbagai isu yang berkembang. Bisa dimaklumi karena memang telah demikian lama partai politik – apa pun warnanya – dikondisikan atau tersandera pada zona nyamannya masing-masing. Mereka kehilangan figur dan kepercayaan diri sekaligus di hadapan publik. Meski, ada satu Parpol besar yang berhasil dengan cepat beradaptasi, yaitu yang telah dengan cepat memiliki pemimpin baru yang cukup menjanjikan sebagai patron/figur yang ditawarkan kepada publik di masa mendatang. Sementara itu, panggung politik Subang umumnya masih diramaikan oleh manuver elit-elit ormas dan aktivis yang berharap akan mampu menarik perhatian publik dan menjadi elit alternatif di tengah masa transisi dan membisunya parpol-parpol ini. (selanjutnya >> Peta Sosial Politik Subang : Kemarin, Kini dan Nanti)

Artikel Terkait:

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here