Jejak Sambas Sang Pencipta Manuk Dadali di Subang

KOTASUBANG.com, Subang – Anda lahir di tahun 80-90an? Bila Anda gemar mendengarkan radio, Anda pasti ingat suara khas seorang lelaki yang biasa mengisi acara-acara di Radio Republik Indonesia (RRI). Suaranya yang berat dan jelas pengucapannya mampu membawa suasana menjadi lebih hidup.

Masih teringat, rasanya ingin senyum-senyum sendiri terkenang bagaimana nada suara penyiar radio olah raga waktu itu. Bila boleh dilukiskan dengan kata-kata, nadanya campuran ada yang sedih, semangat, berteriak, datar sampai seperti marah-marah. Nada-nada itulah yang membuat pendengar dan pemiarsa merasa emosinya teraduk-aduk.

Uniknya, nada yang mengaduk-aduk emosi tersebut tidak lantas membuat orang yang mendengarnya senantiasa terjaga. Beberapa pengalaman penulis bila mendengarkan penyiar radio yang enerjik justru membuat nyenyak saat tidur. Namun ada pula seperti Penulis, berjam-jam pun betah mendengarkan radio sampai bersedekap di depan meja.

Tentulah semakin dewasa semakin penasaran dengan sosok penyiar radio di atas. Apalagi bila rindu dengan seorang bapak, rasanya begitu terharu ingin mengulang masa-masa lalu yang penuh kesederhanaan dengan ditemani angin sepoi-sepoi. Dialah Sambas Mangundikarta, beliau merupakan jurnalis sekaligus penyiar radio ternama.

Perjalanan Sambas Mangundikarta
Ciri khas yang sering kita jumpai dari seorang Sambas ialah ketika membawakan acara olah raga. Seringkali pengulangan kata-kata yang mengandung muatan nasionalisme yang kuat dan rasanya bangga meledak-ledak menjadi Indonesia. Misal, seperti pemilihan kata saat menyapa pemirsanya dengan sapaan “Saudara-saudara tanah air di manapun berada”.

Beliau lahir di Bandung tepatnya 21 September 1926. Sebagaimana seseorang dalam mencapai tangga kesuksesannya, beliau tidak dengan mudah menjalaninya hingga sampai level nasional. Pada tahun 1946 sampai 1952, beliau menjadi anak buah Jenderal Dr. Mustopo. Bertempat di Subang Jawa Barat, beliau diminta untuk membantu menjadi penyiar Radio Perjuangan Jawa Barat. Setelah itu, beliau ditugaskan di Madiun dan Blitar Jawa Timur.

Dalam kegiatan reportasenya, beliau lebih sering ke olah raga sepakbola dan badminton. Kejuaran-kejuaraan olah raga tersebut antara lain Thomas Cup di Kuala Lumpur (1970), All England (1976, 1977 dan 1981), Pre World Cup di Singapura 1977 dan Uber Cup di Tokyo (1981).

Menginjak tahun 1982, Sambas tidak hanya melakukan reportase di bidang oleh raga, saat itu beliau juga pernah menjadi pembawa acara Dari Desa ke Desa. Acara tersebut dapat dibilang sukses karena mampu menyedot banyak perhatian masyarakat terhadap TVRI. Perhatian tersebut tidak lain dikarenakan program yang dibawakannya banyak menyangkut aktivitas pedesaan meliputi cocok tanam, beternak dan aktivitas-aktivitas lain yang dilakukan wong cilik.

Saking suksesnya acara tersebut, dikutip dari Majalah Tempo, pada tahun itu pula sewaktu Sambas pensiun, Presiden Soeharto memanggil dirinya untuk kembali membawakan acara tersebut. Menurut presiden, acara tersebut sangat bermanfaat terbukti dapat menjadi jembatan media yang efektif dalam hal komunikasi antara rakyat dengan masyarakat pusat.

Dari beberapa reportasenya, kita merasakan aliran kecintaan mendalam beliau terhadap Indonesia. Beliau pun menciptakan lagu Manuk Dadali. Berkat suara emas barithonnya, ia sering membantu RRI Studio Jakarta dalam bidang seni suara. Tergabung dalam Orkes Dupa Nirmala pimpinan Ping Astono, saat itulah pemilihan bintang radio diselenggarakan. Sambas pertama kali mengikuti bintang radio pada 1951 dan ia berhasil memasuki babak final.

Ia pun mencoba menjelajahi dunia lagu. Di karirnya tersebut, ia menciptakan dua lagu yang berbeda bernuansakan keindonesiaan dan lagu-lagu daerah Sunda. Dari kedua nuansa tersebut, lagu-lagu daerah lebih mendapatkan tempat di hati para pendengarnya. Lagu-lagu tersebut sempat dipopulerkan oleh beberapa artis nasional seperti Upit Sarimanah, Fenty Effendy, Etty Kusumah dan lain sebagainya. Adapun lagu-lagu ciptaan lainnya berjudul Pileuleuyan, Peuyeum Bandung dan Pepeling.

Manuk Dadali Lagu Daerah yang Fenomenal
Sejak mengikuti tangga-tangga lagu, Lagu Manuk (baca disini lirik lagu Manuk Dadali dari berbagai versi bahasa) Dadali mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Lagu ini selama enam bulan menduduki peringkat teratas tangga lagu di RRI Bandung. Lagu tersebut sangat popuper hingga sekarang, apalagi menjelang hari Kemerdekaan Republik Indonesia, lagu Manuk Dadali diputar di berbagai radio. Tak hanya itu saja, lagu yang bernafaskan semangat kebangsaan ini juga kerap digunakan sporter PERSIB saat melakukan pawai menuju lapangan sepak bola.
Kini, sosok Sambas telah mendahului kita. Pada 30 Maret 1999, ia wafat di Jakarta. Suara yang menggertak nan penuh semangat itu kini tetap menjadi peninggalan yang tak terlupakan. Adakah penggantinya untuk generasi saat ini?

Memilih Subang Sebagai Peristirahatan Terakhir

Sebagai penghargaan kepada Sambas, tahun 2015 lalu sempat ada wacana penamaan jalan protokol dengan nama Sambas di Subang. Menurut ketua DPRD Subang Ir. Beni Rudiono lagu Manuk Dadali yang diciptakannya sampai saat ini dikenang oleh semua kalangan dan  mampu memberikan semangat Persatuan dan Kesatuan.

“Alasan DPRD dan Pemkab Subang menganugerahkan nama salah satu Jalan Protokol di Kota Subang untuk Almarhum Sambas, meskipun Almarhum Sambas, bukan Putera Subang, tetapi Almarhum meminta kepada Keluarganya untuk dimakamkan di Subang, tepatnya di TPU Dunguswiru Kelurahan Cigadung Subang” kata Beni  Selasa (29/9/2015) seperti dikutip dari RRI.

Namun, hingga saat ini belum ada tanda-tanda wacana tersebut akan diwujudkan. (academia.edu)