Separuh Warga Subang Miskin, Relawan #SubangBARU Lakukan Riset Etnografi

KOTASUBANG.com, Subang – Separuh warga Subang termasuk kategori miskin bahkan seperempat diantaranya masuk zona sangat miskin. Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Subang, H. Yayat Sudrajat ketika menjadi pembicara dalam Workshop Dasar Riset Etnografi Teknik Observasi untuk para relawan, sore tadi, Rabu (29/6/2016) di kampus STIESA.

“Hampir sebanyak 811.000 warga Subang masuk ke zona miskin,” kata Kepala Dinas Sosial Kabupaten Subang, H. Yayat Sudrajat di hadapan puluhan peserta workshop yang terdiri beberapa elemen pemuda relawan termasuk mahasiswa.

Sementara itu berdasarkan data PPLS tahun 2011 (sumber Bappeda Kab. Subang) Jumlah Rumah Tangga Miskin sejumlah 149.900 KK. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dalam 3 tahun sebelumnya tahun 2008. Sedangkan menurut data RTM 2011, sebaran rumah tangga miskin peringkat 3 tertinggi berturut-turut adalah Kec Ciasem, Kec. Subang dan Kec. Patokbeusi. Gejala awal menunjukkan bahwa ternyata batas bawah kemiskinan tidak jauh dari titik 0 km Subang karena ada di daerah jantung kota Kecamatan Subang.

13517571_850948295011806_7832117064435853452_o
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Subang, H. Yayat Sudrajat
13502527_850948808345088_4314606733063123235_o
Ade Mulyana, S.Ag, M.Pd (pemerhati dunia pendidikan)

Kadinsos H. Yayat Sudrajat menyatakan siap 24 jam bahu membahu bersama relawan (peneliti, akademisi, mahasiswa, dll) untuk melakukan evaluasi dan perbaikan penanganan masalah kemiskinan dan problem sosial lain di Kabupaten Subang.

Workshop ini merupakan bagian dari kegiatan Mapay Lembur (Observasi Batas Bawah Kemiskinan dari Titik 0 KM Subang) yang diselenggarakan oleh Tim Relawan Pengkaji Informasi Publik (TRPIP) dan relawan ‪#‎SubangBARU‬. Selain workshop, pada kegiatan Mapay Lembur hari pertama tersebut juga dilakukan pengumpulan data sekunder ke Dinas Sosial dan Bappeda Kab. Subang, serta berdiskusi bersama Forum Masyarakat Peduli (FMP), Lembaga Swadaya Masyarakat yang konsisten membantu warga miskin Subang. Selanjutnya pada hari berikutnya para peserta akan terjun langsung melakukan riset etnografi di kantong-kantong kemiskinan Kab. Subang.

13502676_850948761678426_4703545137967775651_o
Sosiolog LIPI Yanu Endar Prasetyo, S.sos, M.Si
13568829_850948591678443_3316453246121074857_o
Gugyh Susandy, SE, M.Si, ekonom STIESA

Dalam workshop tersebut Ade Mulyana, S.Ag, M.Pd (pemerhati dunia pendidikan) menyampaikan sebuah perspektif mengenai urgensi pendidikan dalam menyiapkan SDM yang unggul bagi tatanan Generasi. Menurutnya pemecahan masalah kemiskinan pun harus melibatkan pendekatan pendidikan baik secara kultural maupun struktural.

Sementara itu Sosiolog LIPI Yanu Endar Prasetyo, S.sos, M.Si memberikan perspektif menyeluruh mengenai kemiskinan baik absolut atau relatif dan baik kultural atau struktural. Yanu mengungkapkan untuk menjadi seorang periset etnografi (etnografer), harus mau turun dari menara gading, bukan hanya selesai di rasa empati namun terjun langsung mengalami dari dalam suatu objek yang akan diteliti dalam hal ini kemiskinan dengan segudang perliaku masyarakat miskin di dalamnya.

13582188_850949041678398_226693342145466439_o
Berdiskusi bersama Bapak Asep Sumarna Toha dan jajaran pengurus Forum Masyarakat Peduli (FMP)

13580545_850948951678407_2787348725418063806_o

Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi bersama Forum Masyarakat Peduli (FMP), mengurai permasalahan dasar keluarga miskin di pelosok Kab. Subang. FMP merupakan potret Lembaga Swadaya Masyarakat yang konsisten dengan kerja-kerja sosial nyata membantu permasalahan masyarakat miskin kabupaten Subang. Dari FMP diantaranya bisa belajar best practice model penanganan pasien GAKIN berbasis komunitas dan menggali data primer berbasis pengalaman empiris identifikasi daerah kantong kemiskinan.

Gugyh Susandy, SE, M.Si, ekonom STIESA yang juga pegiat TRPIP mengungkapkan riset etnografi kemiskinan Subang dengan menemukan batas bawah kemiskinan ini penting dilakukan, karena riset ini akan lebih tepat dalam mendekati objek penelitian sehingga diharapkan dapat diperoleh cara pemecahan yang lebih tepat juga.

Hasil riset ini juga akan melengkapi isi Buku Manifesto Perubahan ‪#‎SubangBaru‬ yang ditulis oleh para Relawan TRPIP. Sebuah persembahan yang lahir dari semangat berbagi dan memberi kontribusi atas penentuan kompas perubahan bagi sebuah daerah dengan menggunakan helicopter view dan berbasis data & informasi yang memadai.

 

Berita Terkait: