Antara Tugu Seeng Tanjungsiang dan Bandung Lautan Api

KOTASUBANG.com, Subang – Peristiwa Bandung Lautan Api, 23 Maret 1946, menjadi salah satu peristiwa paling bersejarah di Bandung. Ketika itu ratusan ribu warga Bandung membakar rumahnya sendiri kemudian mengungsi keluar kota. Hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda untuk dapat menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Sejarah mencatat ratusan ribu warga Bandung tersebut mengungsi ke daerah pegunungan di selatan kota Bandung, namun ternyata selain mengungsi ke daerah selatan ada pula yang mengungsi ke utara kota Bandung, yaitu ke daerah Subang.

Warga yang mengungsi ke daerah Subang diantaranya berasal dari daerah Cileunyi. Mereka mengungsi ke daerah Tanjung Siang. Mata pencaharian sebagian warga yang mengungsi ke daerah Tanjungsiang tersebut adalah pengrajin dandang atau seeng. Usai perang kemerdekaan tak semua warga pengungsi tersebut pulang ke daerahnya, sebagian malah menetap di Tanjungsiang dan meneruskan kehidupan di daerah baru tersebut dengan mata pencaharian membuat dandang. Dari saat itulah pembuatan dandang atau seeng berkembang di Tanjungsiang hingga saat ini. Saat ini masih ada 10 kelompok pengrajin dandang di Tanjungsiang. Demikian tutur Ade Somantri salah satu pengrajin dandang.

tugu seeng tanjung siang 2

Awalnya menurut Ade yang dibuat para pengrajin adalah dandang tembaga merah, namun sejak sekitar tahun 1975 mulai berkembang dandang putih dengan bahan baku yang lebih murah. Era tahun 80 sampai dengan 90-an dandang produksi Tanjungsiang mencapai puncak kejayaannya. Saat ini selain membuat seeng dirinya bersama 10 kelompok pengrajin lainnya juga membuat berbagai bentuk alat dapur lainnya, seperti ketel, susuk dan lainnya.

Seeng Tanjung siang ternyata tak sepenuhnya ditinggalkan penggemarnya. Di beberapa daerah seperti Banten, seeng masih menjadi alat masak pilihan warga. Menurut Ade mungkin hal itu disebabkan karena masih banyak warga Banten yang tinggal di pinggiran hutan atau perkebunan sehingga masih banyak sumber kayu bakar yang bisa digunakan warga untuk memasak, sehingga mereka memilih menggunakan seeng. Selain dijual ke Banten, dandang dan alat dapur produksinya juga di jual ke Bogor, Indramayu dan beberapa kota lainnya.

Untuk menandai daerah Tanjungsiang sebagai sentra pembuatan seeng atau dandang, sekitar tahun 90-an dibangun tugu seeng di pinggir jalan raya Cisalak – Tanjungsiang. Namun karena adanya pemekaran kecamatan, saat ini lokasi tugu tersebut menjadi masuk ke wilayah kecamatan Cisalak. Sayang kondisi tugu seeng tersebut kini (2016) tak terawat.

“Mungkin karena sekarang tugu tersebut masuk wilayah Cisalak, jadi tak terawat, sementara kan pengrajin seeng adanya di daerah Tanjungsiang,” ujar Ade menyayangkan.

Dirinya sebenarnya menginginkan adanya tugu seeng yang baru di wilayah Tanjungsiang namun menurutnya tak ada lokasi yang strategis untuk membangun kembali tugu seeng yang baru.

Berita Terkait: