Pecinta Alam : BPBD Harga Mati !!

KOTASUBANG.com, Subang – Bertempat di hutan kota Ranggawulung, hari ini, Selasa sore (31/5/2016) Keluarga Besar Pecinta Alam (KBPA) Subang menggelar diskusi dengan tema “BPBD Harga Mati!”. Hadir dalam diskusi tersebut beberapa komunitas pecinta alam dan umum, diantaranya Mahapala STKIP, TMA, FK3I, Jarambah, Massal dan beberapa komunitas lainnya.

Gigin Sujalaga ketua KBPA mengungkapkan, pertemuan ini merupakan lanjutan dari diskusi serupa tentang perlunya Badan Penanggulangan Bencana Daerah  (BPBD) yang digelar pada temu akbar pecinta alam di Ponggang, Serang Panjang beberapa waktu lalu sebelum terjadinya bencana Cisalak.

“Saya juga tahu sebenernya kita sudah muak ngobrolin BPBD, namun kita harus terus pressure pemerintah,” katanya.

Sementara itu Dimas, mewakili MASSAL mengungkapkan keheranannya mengenai terhambatnya pembentukan BPBD di Subang ini.

“Setahu saya BPBD merupakan badan teknis pemerintah yang memerlukan dorongan legislatif dan eksekutif untuk pembentukannya. Saya tidak tahu apakah dari sumberdaya manusianya atau dari birokrasi yang saat ini tersendat atau hal lainnya yang menyebabkan lambatnya pembentukan BPBD di Subang. Kalau kita sudah tahu penyebab lambatnya pembentukan BPBD ini, kita bentuk tim untuk forum seperti ini dan turun kembali mendesak pemerintah,” jelasnya.

KBPA

Ahmad Dwi dari FK3I mengatakan desakan pembentukan BPBD ini sudah digulirkan tahun 2010 lalu ketika terjadi banjir bandang di Ciater.

“Bahkan Pemkab berjanji tahun 2015 akan terbentuk, namun hinga saat ini tak terealisasi,” ungkapnya.

Hadir pula dalam diskusi tersebut Gugyh Susandi dari Tim Relawan Pengkaji Informasi Publik (TRPIP). Gugyh mengatakan dilihat dari sisi manapun BPBD ini harus segera dibentuk. Dalam peta rawan bencana pun menurutnya sudah jelas banyak terdapat zona merah (rawan bencana) di Subang.

“Mengatasi bencana itu tidak seperti memadamkan api yang langsung selesai, kadang  justru lebih dahsyat pasca bencana utama terjadi. Dengan adanya BPBD penanganan bencana mulai dari A to Z diharapkan bisa tuntas,” jelas Gugyh.

Sementara itu pecinta alam lainnya Yudo dari Jarambah memiliki pendapat lain. Menurutnya jika Pemkab memang sulit mewujudkan BPBD, dirinya mengajak komunitas pecinta alam untuk membuat tim sendiri khusus rescue bencana. Hal ini diamini oleh pecinta alam lainnya.

“Kalau tahun ini BPBD tak juga terbentuk di Subang, saya setuju dengan pendapat kang Yudo, kita bentuk saja tim rescue sendiri,” katanya.

Diskusi yang berlangsung hingga menjelang Magrib tersebut memutuskan untuk menggelar diskusi lanjutan dengan peserta lebih banyak untuk mendesak pemerintah membentuk BPBD. Disamping itu mereka juga sepakat untuk membentuk tim rescue penanganan bencana sendiri.