Kisah Pilu Bocah Korban Banjir Bandang di Cisalak

KOTASUBANG.com, Cisalak – “Kaditu cai…kaditu cai… kaditu cai…“, teriak Neng (8) mengigau dalam tidur siangnya, Senin (23/5/2016) di rumah saudaranya yang menjadi rumah pengungsian sementara. Trauma mendalam sepertinya dialami dirinya, setelah pengalaman pahit harus dialami anak sekecil itu Minggu malam (22/5/2016), ketika ia dan keluarganya harus bejibaku mempertahankan hidup ditengah derasnya aliran air bah yang memasuki kediamannya di kampung Sukamukti, desa Sukakrti, Kecamatan Cisalak.

“Ketika itu saya baru mau beranjak beristirahat, cape sekali sejak pulang dari sawah sore hari,” kata Isur (45) ibu dari Neng.

Tapi tiba-tiba suara gemuruh terdengar dari balik rumahnya, dan tak lama kemudian air dengan derasnya masuk ke dalam rumah. Balok-balok kayu berukuran besar terdengar berdentum menambrak dinding rumahnya. Sementara itu suaminya Sumarna (50) berupaya mendorong balok-balok kayu tersebut agar tak mengenai kaca rumahnya.

Allahuakbar…tolong..tolong…,” teriak Isur. Demikian juga dengan Neng yang terus menerus memanggil-manggil ibu dan ayahnya. Namun apalah daya suara teriakan mereka kalah kencang dengan suara gemuruh air bah yang datang menerjang. Lagi pula tetangganya pun bernasib sama dengan mereka.

Di tengah kepanikan dan air yang terus menerjang, Sumarna berupaya membuat jembatan darurat dari balok-balok kayu dan bambu yang terbawa arus air. Dengan tumpukan kayu dan bambu tersebut akhirnya mereka bisa selamat keluar dari rumah ke daratan yang lebih aman.

Saksi mata lainnya Umuh (52) warga kampung Cihideung mengatakan, ketika itu hujan deras mengguyur kampungnya. Suara gemuruh tiba-tiba terdengar dalam derasnya hujan. Setekah melihat arus sungai Cihideung berubah menjadi air bah, sontak ia bersama warga lainnya berupaya mengungsikan seluruh warga ketempat lebih tinggi. Dalam sekejap suasana kampung menjadi panik, semua warga kemudian mengungsi meninggalkan rumah.

Umuh menyaksikan sendiri kedahsyatan air bah yang menerjang kampungnya. Dirinya melihat kandang domba hayut terbawa arus sungai, masih lengkap dengan domba di dalamnya, demikian juga dengan kandang ayam yang penuh dengan ayam-ayamnya. Ratusan ton ikan dalam kolam air deras terbawa arus, ikan-ikan yang lepas itu memenuhi halaman-halaman rumah warga.

Sementara di kampung yang berada lebih kehulu yaitu dikampung Sukamukti keadaan lebih parah. Bahkan menurut Umuh ada warga yang harus berjuang mempertahankan hidup dengan memanjat pohon kelapa hingga banjir surut.

Menurut Umuh banjir bandang tersebut terjadi dalam 3 gelombang. Gelombang ke tiga merupakan yang terbesar dan meluluhlantakan kampung disekitar aliran sungai Cihideung. Penyebab air bah tersebut adalah longsor di tiga titik di daerah Bukanagara yang merupakan hulu sungai Cihideung. Longsoran tersebut membendung menutup aliran sungai sebelum kemudian jebol dan menyebabkan banjir bandang.

Enam orang dinyatakan tewas dalam banjir bandang yang menimpa desa Sukakerti, Kecamatan Cisalak tersebut. Beberapa mengalami luka-luka dan lebih dari 300 orang terpaksa diungsikan karena belasan rumah mengalami kerusakan.

 

Berita Terkait: