Cerita Dari Rembug Publik 2 #SubangBARU di Desa Perbatasan Subang

KOTASUBANG.com, Cipeundeuy – Derit suara mesin menahan beban overload bersahutan dengan deru knalpot truk-truk pasir yang lalu lalang di desa Cimayasari, kecamatan Cipeundeuy. Udara di desa itu tak pernah benar-benar bersih, debu pasir yang di bawa truk setiap saat beterbangan tertiup angin mengotori lantai-lantai rumah warga. Di sudut lain desa ini sebuah perahu masih menjadi andalan warga untuk menyebrangi sungai Cilamaya yang memisahkan Subang – Purwakarta. (baca juga : #SubangBARU)

Suasana itulah yang menjadi latar  rebug publik 2 #SubangBARU yang digelar Sabtu (24/4/2016) di balai musyawarah RW 05, kampung Cihuni, desa Cimayasari. Puluhan peserta yang turut serta dalam rembug 2 tersebut turut urun rembug untuk mewujudkan #SubangBARU.

Seorang ibu, yang merupakan guru di sana menyambut baik digelarnya rembug publik tersebut. Dirinya berharap, ke depan daerahnya akan menjadi lebih baik.

“Saat ini kami hanya bisa pasrah, dengan kondisi seperti ini sudah tak tahu lagi mengadu ke mana,” katanya yang mengaku pernah beberapa kali jatuh dari motor dalam perjalanan mengajar karena kondisi jalan yang rusak parah.

Penyeberangan Subang – Purwakarta di Cimayasari, Cipeundeuy

13086861_1396912250322663_4304743946786697841_o

Ratusan truk pasir lalu lalang di desa Cimayasari setiap harinya

“Saya jadi faham kenapa rembug 2 ini diadakan di sini jauh dari pusat kota. Ketika kita sampai di Cihuni, baru terasa bahwa “pemerintah daerah tidak hadir” atau  “terasing dari warganya sendiri”. Sayang masalah ini tidak terdengar sampai di kota Subang,” kata Tita Terista peserta rembug lainnya asal Subang kota.

Karenanya menurut Tita #subangBARU bisa bermakna gerakan yang menggugah kehadiran pemerintah daerah untuk lebih hadir lagi di tengah masyarakat.

Dalam rembug publik 2 ini kepedulian elemen perguruan tinggi mulai terlihat ditandai dengan hadirnya elemen mahasiswa dan dosen dari Unsub, Stiesa, UPI dan UI

Syarif Hidayat dekan fakultas ilmu komputer, jurusan sistem informasi, Universitas Subang mengatakan untuk melangkah menuju #SubangBARU kita harus melihat potret Subang hari ini seperti apa. Saat ini menurutnya masalah Subang sangat kompleks mulai dari rekruitment politik yang masih sarat politik transaksional, fungsi kontrol yang sangat kurang termasuk dari mahasiswa dan Undang-undang keterbukaan publik yang tidak jalan.

n

Dosen UNSUB turut urun rembug untuk #SubangBARU

“Intinya perubahan #SubangBARU harus “by sistem” bukan “by person” dalam #SubangBARU tersebut masyarakat turut berperan diantaranya dengan ikut mengawasi dan semua elemen terintegrasi, kata Syarif.

Seniman Subang Aef Ruslan mengungkapkan #SubangBARU juga harus menyentuh ranah seni budaya.

“Subang terkenal dengan budayanya. Seni budaya Subang adalah barometer kesenian Jawa Barat. Ini harus diberdayakan,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan Nugraha, menurutnya saat ini pemerintah Subang tidak/belum mengapresiasi seniman-nya sendiri.

“Gedung kesenian juga kita belum punya, padahal Subang itu lumbung seni, Di #SubangBARU aktivitas kesenian harus dihidupkan kembali,” katanya.

k

Perumusan Manifesto

Dalam rembug 2 yang dipandu oleh H. Ade Mulyana ini selain masih menyerap aspirasi dari peserta juga mulai dirumuskan sebuah pernyataan sikap secara terbuka dalam menyikapi kondisi kekinian di kabupaten Subang yang disebut manifesto perubahan #SubangBARU. Perumusan manifesti ini disesuaikan dengan kaidah dan data-data ilmiah.

Menurut pegiat TRPIP, Yanu Endar Prasetyo, Manifesto tersebut akan terdiri dari 3 subtansi besar yaitu Mukadimah,  Batang tubuh dan Penutup.  Dalam Mukadimah akan memuat Potret potensi besar (positioning) Subang di Jawa Barat dan Nasional serta ringkasan permasalahan dari hasil Rembug I, II & III. Sedangkan dalam Batang Tubuh akan menuat pernyataan sikap terbuka atas tema-tema permasalahan dan solusi alternatif yang ditawarkan, diantaranya akan memuat (a) Kepatuhan pemangku kebijakan, (b) Keterlibatan pemangku kepentingan, (c) Subang Crisis Centre (d) Sistem kepemimpinan dan kriteria pemimpin. Sedangkan pada Penutup akan berisi tuntutan/arahan pada pemangku kebijakan, pemangku kepentingan dan publik luas.

l

Yanu juga menerangkan ruang lingkup #SubangBARU tersebut yaitu perubahan yang muncul dalam sebuah sistem pemerintahan yang lebih baik dan perubahan yang muncul dalam peningkatan kesadaran dan partisipasi publik dalam mendorong perubahan itu sendiri. Manifesto Perubahan tersebut juga akan melingkupi aspek-aspek Kewilayahan, Administratif, Komunitas/Pergerakan, Kelas/Stratifikasi Sosial dan Sektor-Sektor lainnya.

Pegiat TRPIP lainnya Gugyh Susandy mengungkapkan gerakan #SubangBARU dan Manifesto perubahan ini perlu masukkan berbagai pihak. Dirinya juga mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada berbagai pihak yang telah mendukung gerakan ini.

“Nantinya manifesto ini juga akan dibuat dalam sebuah “buku”, dalam rangka membentuk masyarakat #SubangBARU sebagai masyarakat literal,” katanya.