Kaswati Petani Subang Jadi Inspirasi Dunia

IMG_4516cr-629x467

Kaswati (tengah) Bersama Ibu-ibu Pembuat Keripik Nangka (Foto : IPS)

14 tahun yang lalu Kaswati, seorang wanita berusia 45 tahun hanyalah petani miskin di kampung nya Pagon, Subang, Jawa Barat. Setengah hektar sawah yang dimilikinya tidak bisa menjadi tumpuan keluarganya. Jauhnya saluran irigasi membuat sawahnya sering kekurangan air sehingga tidak memberikan hasil yang maksimal. Ia hanya bisa menanam padi 2 kali dalam setahun tidak 3 kali tanam seperti sawah lain di daerahnya.

Namun beruntung, pada tahun 1999 sebuah program yang didanai Dana Internasional untuk Pengembangan Pertanian (IFAD) menghampirinya. Program IFAD ini diselenggarakan guna membantu Indonesia mangatasi dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian.

Dengan program ini, yang berlangsung 1999 hingga 2006, setiap perempuan termasuk Kaswati mendapat pinjaman bank sekitar 40 dolar (Rp 400 ribu) untuk modal usaha. Pinjaman dengan tingkat bunga satu persen itu, harus dilunasi secara mencicil selama 12 bulan.

Selain memberi pinjaman modal, program ini mengajarkan Kaswati dan rekan-rekan di kampungnya untuk memulai usaha termasuk belajar pembukuan. Saat itu Kaswati dan yang lainnya memulai bisnis pembuatan pupuk kompos. Namun ditengah jalan semua temannya meninggalkan usaha tersebut, kecuali Kaswati. Sekarang usaha komposnya telah membawa perubahan ekonomi keluarganya.

Bahkan tahun ini, Kaswati mendapat pesanan untuk memasok 348 ton pupuk kompos. Namun, karena tidak bisa memenuhinya kemudian ia mengajak kembali kawan-kawannya untuk memproduksi kompos untuk kemudian dijual kepadanya.

Dia membeli kompos dengan harga rata-rata 51 dolar (Rp 510 ribu) per ton dan menjualnya seharga 77 dolar (Rp 770 ribu) per ton, sehingga memberi keuntungan yang lumayan bagi keluarga dan teman-teman sekampungnya juga.

Pada tahun 2008 ia memperluas bisnisnya dengan mencoba memproduksi keripik nangka bersama 24 perempuan lain di kampungnya. Saat ini produknya sudah dijual hingga ke Jakarta.

Bisnisnya semakin berkembang. Bahkan awal tahun ini dia berani mengambil pinjaman bank 40 juta rupiah untuk mengembangkan usahanya. Berkat kegigihannya, kini ia telah mampu membiayai pendidikan putrinya hingga ke perguruan tinggi.

Bulan lalu belasan wartawan dari seluruh dunia bersama IFAD datang ke kampungnya, untuk meliput kesuksesannya dan menyebarkannya keseluruh dunia, agar menjadi inspirasi bagi petani lain di seluruh dunia.