Urun Rembug Soal #SubangBARU, Ini Kata Mereka

KOTASUBANG.com, Subang – Puluhan peserta yang terdiri dari komunitas, birokrasi, mahasiswa dan organisasi kepemudaan, Sabtu sore (1/4/2016) mengikuti Rembug Publik #SubangBARU yang diinisiasi oleh Tim Relawan Pengkaji Informasi Publik (TRPIP) di kampus STIE Sutaadmadja. Dalam kesempatan tersebut berbagai pihak urun rembug mengungkapkan gagasan dan pikirannya masing-masing.

Jamal Kumaunang dari KNPI berharap kondisi perkara bupati Subang yang tengah tersangkut hukum itu tidak kemudian membuat pelayanan publik menjadi menurun atau bahkan terganggu. Ke depan, di #SubangBARU pelayanan publik harus menjadi prioritas.

Asep Millenium dari komunitas Subang Creative mengungkapkan saat ini komunikasi antara elit dengan komunitas dirasa sangat buruk. Padahal menurutnya komunitas  tidak bisa bergerak sendiri. Perlu dukungan dari dalam birokrasi.

“Perlu “Saluran Komunikasi” yang lebih efektif untuk #SubangBARU. Kami bisa menyiapkan beberapa blue print untuk #SubangBARU,” ungkapnya.

Eko, peserta rembug lainnya yang juga seorang jurnalis, mengungkapkan, Untuk #SubangBARU tidak hanya terfokus pada pemimpinnya (Bupati/Wabup). Menurutnya pengawasan birokrasi internal sangat penting dan lebih penting lagi pengawasan dari eksternal.

“Kita juga harus berpikir sampai 2018 untuk edukasi pemilih,” katanya.

Dari pihak media lainnya, Lukman, menyoroti hadirnya TRPIP di Subang. Secara kelembagaan media, TRPIP adalah suatu Oase Baru di Subang. Menurutnya semoga TRPIP merupakan sebuah tanda atau fenomena suatu daerah akan maju. Gerakan kajian/data merupakan syarat dasar suatu daerah maju. TRPIP ke depan bisa menjadi lembaga “referensi” bagi Publik.

“Tidak ada suatu negara yang tidak didasari kajian itu tidak maju. Puluhan tahun Subang hanya diwarnai kegiatan “teriak”, ungkapnya.

Kaka Suminta mengatakan pemerintah Subang sebelumnya sistemnya Top Down. Meskipun sebenarnya di Indonesia  juga jarang pemerintahan daerah yang buttom up. Ke depan semoga di Subang bisa di dorong pemerintahan yang buttom up.

Subangbaru

Sementara itu aktivis lainnya Kelvie menyoroti pentingnya diskusi seperti rembug #SubangBARU. Bagaimana caranya kata Kelvie, diskusi ini bisa melahirkan kepercayaan masyarakat kembali tehadap pemerintah dan politik. Karena menurutnya masyarakat cerdas (mahasiswa) belum cerdas secara politik. Kejadian-kejadian yang terjadi di Subang selama ini terkait kebijakan cenderung dibiarkan. Seperti Perda Waralaba, mahasiswa kurang mengkritisi padahal banyak saluran yang bisa digunakan seperti tulisan, medsos dan sebagainya.

“Dari kejadian seperti ini malah timbul kegaduhan yang menyebabkan masyarakat anti politik, diskusi ini semoga menjadi solusi,” katanya.

Suhenda, dari HMI mengatakan Pemerintah saat ini banyak kekurangannya. Komunikasi pemerintah terhadap masyarakat tidak baik. Selain itu dirinya juga menyoroti peran legislatif. Menurutnya Legislatif kalah dengan forum di Facebook. Warga lebih sering berkeluh kesah di FB bukan kepada wakilnya di DPRD.

“Selain itu masih banyak organisasi yang menjadi alat kepentingan pribadi atau kelompoknya saja bukan untuk masyarakat. HMI akan tetap menjadi oposisi / berkoalisi dengan masyarakat,” ujarnya.

Mahasiswa UPI Ia Dahlia mengungkapkan  perlu adanya perubahan untuk #SubangBARU yang lebih baik, yang menghilangkan kesenjangan antar wilayah di Subang. Sebagai masyarakat yang tinggal di perbatasan dirinya dan masyarakat merindukan pemimpin ideal, yaitu : pemimpin yang memiliki visi dan misi yang jelas soal identitas Kabupaten Subang dan berkomitmen pada pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Kabupaten Subang.

Aktivis Buruh yang juga ketua Karang Taruna desa Lengkong, Geveng Sadewa berharap di #SubangBARU pemerintahan daerah dan pemerintahan Desa itu menjadi lebih transparan. Saat ini banyak pembangunan tersendat karena tidak transparannya pengelolaan anggaran.

Dosen STIESA Bismantara, mengatakan #SubangBaru bisa dimulai dari Keterbukaan Informasi.

“Misal, APBD kita dipakai untuk apa saja? Dimana bisa diakses? dan seterusnya,” katanya.

Sementara itu menurut Rizki Rahmat aktivis Subang Landmark mengatakan, hal terpenting adalah “harmoni”. Tanpa harmoni, Subang tidak akan bergerak. Dan menurutnya semua potensi Subang ini bisa dioptimalkan, tinggal bagaimana pemimpin kita nantinya.

“Dan yang penting bagaimana ke depan ada komunitas di “ring” pemimpin kita, yang mengingatkannya agar bergaul dengan komunitas yang “benar” dan “kreatif” bukan yang fokus pada materi,” ungkap Rizki. (baca juga : Rembug Publik #SubangBARU; Reformasi Birokrasi Jadi Sorotan)