58 % Buruh Perempuan Gantikan Peran Suami Jadi Tulang Punggung Ekonomi

KOTASUBANG.com, Subang – Berdasarkan hasil survei Tim Relawan Pengkaji Informasi Publik (TRPIP) menunjukkan bahwa 61% buruh perempuan berstatus menikah dan memiliki suami, 32 % belum menikah/gadis dan 6 % yang pernah menikah dan sekarang menjadi janda. Data ini menggambarkan  bahwa mayoritas buruh turut serta menjadi tulang punggung ekonomi rumah tangga karena tidak hanya menanggung dirinya sendiri, melainkan ada anggota keluarga yang lain yaitu suami dan anak.

Sayangnya, dari jumlah buruh perempuan yang telah menikah tersebut, hanya 42 % saja yang suaminya memiliki pekerjaan tetap. Sejumlah 43 % responden memiliki suami yang bekerja serabutan dan ada 15 % yang suaminya tidak bekerja atau menganggur. Dengan demikian, dapat dianalisa bahwa sekitar 58 % responden merupakan tulang punggung ekonomi keluarga disebabkan suaminya tidak bekerja atau bekerja serabutan dengan pendapatan yang tidak pasti.

12804443_10205866212554376_1045448005_n(1)

Jika dilihat lebih detail lagi, ada perbandingan yang menarik dari tiga zona industri yang menjadi lokasi penelitian survei ini. Sebagai contoh, zona industri Purwadadi terlihat cukup tinggi tingkat “pengangguran” laki-laki-nya, sekitar 21% suami dari responden buruh perempuan tidak bekerja atau menganggur. Sebaliknya, zona industri Cipeundeuy paling tinggi suami yang bekerja (50%) sedangkan zona industri Kalijati menunjukkan mayoritas suami buruh perempuan disana bekerja secara serabutan (59%). (baca juga : Mayoritas Buruh Perempuan Lulusan SMP )

Pendapatan Buruh Perempuan

Rata-Rata Pendapatan Buruh Perempuan sebesar Rp. 2.001.567 per bulan sementara rata-rata kebutuhan Pengeluaran per bulan adalah sebesar Rp.2.833.328 artinya belum dapat mencukupi kebutuhan buruh setiap bulannya.

Rata-rata Pendapatan Rumah Tangga Buruh hanya sebesar Rp. 821.483, artinya  pendapatan suami masih dibawa pendapatan buruh perempuan, hal ini menguatkan telah terjadi transformasi peran ekonomi buruh perempuan dalam rumah tangga.

Hal ini juga menunjukkan bahwa penghasilan buruh masih bersifat aktif income, buruh perempuan belum memiliki kemampuan untuk menciptakan asset yang dapat menghasilkan penghasilan atau dengan kata lain passive income.