Katanya Urang Subang itu Ramah?

KOTASUBANG.com, Subang – Kabupaten Subang merupakan salah satu tempat yang ada di Jawa Barat. Kota ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Bandung Barat di ujung paling selatan yang dibelah oleh Gunung Tangkuban Parahu. Jika kita mulai berjalan-jalan ke sebelah utara melalui jalur pantura, Subang juga akan bertemu dan berpapasan langsung dengan Kabupaten Karawang. Diantara Subang dan Karawang, mereka memiliki kesamaan yaitu sama sama bernomor kendaraan T. Selain itu bahasa yang digunakan oleh kota-kota dan kabupaten yang ada di Jawa barat adalah bahasa Sunda umumnya, termasuk masyarakat Kota Subang.

Sebagai sebuah kabupaten yang berlokasi di tanah Pasundan, mayoritas bahasa yang digunakan dalam komunikasi sehari harinya adalah bahasa Sunda. Makanya tidak mengherankan apabila ketika orang Subang berbicara dalam bahasa Indonesia, terkadang mereka terlihat kaku atau memiliki aksen ke-sunda-sunda-an. Banyak orang luar daerah Jawa yang mengatakan bahwa orang Sunda itu halus-halus dan lemes ketika berbicara, padahal hal itu bukan semata-mata mereka buat namun karena memang budaya dan didikan dari ancestors atau nenek moyang masa lalu yang memang mengajarkan kami untuk berkomunikasi seperti itu. Jika melihat dari segi tata karma, ada sebuah budaya khusus yang dimiliki oleh orang subang yang dituliskan dalam sebuah dokumen bernama piagam purwadadi.

Piagam Purwadadi merupakan sebuah pernyataan yang dirumuskan oleh komunitas budaya di kabupaten Subang dan diluncurkan pada tanggal 6 Juni 2015 di Lapangan Ciela, Desa Wanakerta atas prakarsa komunitas Buah Sadulur. Dinamakan piagam Purwadadi karena lokasi deklarasi piagam tersebut berada di Kecamatan Purwadadi. Isi piagam itu menggambarkan secara keseluruhan bagaimana perilaku-perilaku dan nilai nilai dasar yang secara umum menggambarkan warga kabupaten Subang. Sehingga hal ini dapat dijadikan sebagai sebuah dasar bagi masyarakat dalam berperilaku sehari-harinya. Adapun mengenai isi dari piagam purwadadi adalah sebagai berikut.

“Someah hade ka semah”

Kalimat yang terdiri dari empat suku kata itu memiliki makna yang sangat luas. Dalam bahasa Indonesia, kalimat itu bermakna menghormati tamu yang datang ke rumah atau emerging the best service to the visitors dalam istilah bahasa Inggrisnya. Ini merupakan sebuah simbol dari keramahan orang Subang yang pertama. Biasanya setiap orang yang bertamu ke salah satu warga yang ada di Subang, pemilik rumah selalu memberikan pelayanan yang terbaik. “Nu teu aya oge sok diaya-ayakeun”  biasanya hal-hal yang tidak ada juga suka mendadak jadi ada ketika ada tamu, karena pada prinsipnya orang Subang harus someah hade ka semah. Hal itu dapat tercermin ketika perayaan hari raya Idul Fitri contohnya. Momen liburan dan ajang bersilaturahmi ini dapat menjadi simbol dari betapa hangatnya sapaan dari urang Subang. Biasanya mereka suka rela dengan sengaja mempersiapkan “dengeun ngopi”  atau makanan-makanan ringan yang dapat diberikan kepada para pengunjung sebagai tanda bahwa mereka menyambut kedatangannya dengan baik. Pintu rumah orang-orang Subang, khususnya yang tinggal di desa jarang tertutup, mereka selalu welcome kepada siapapun yang ingin datang ke rumah.

Pindah cai pindah tampian”

Ini merupakan sebuah prinsip dimana orang-orang harus menyesuaikan dengan pola adat-istiadat yang berlaku di masyarakat. Ditengah-tengah arus globalisasi dan industrialisasi yang saat ini sedang melanda kabupaten Subang, ada banyak masyarakat yang datang mengunjungi kota cantik ini. Bagaikan sebuah magnet, dalam sekejap wilayah ini tersulap dari yang tadinya sepi sunyi hingga menjadi kawasan crowded area or city gridlock atau daerah yang padat penduduk. Selain bangsa pribumi, ada juga orang luar Subang yang datang berkunjung. Dengan adanya prinsip pindah cai pindah tampian, tentu saja para pendatang harus menghormati dan menaati adat istiadat yang berlaku pada masyarakat Kabupaten Subang. Penduduk lokal akan selalu someah hade ka semah hade ka semah apabila para pendatang juga bersikap menghargai budaya lokal. Hal ini juga berlaku bagi orang Subang yang berkunjung ke daerah yang lain, mereka akan selalu berusaha untuk menghargai dan menghormati budaya dan adat istiadat tempat

“Jati ulah kasilih ku junti”

Prinsip ini adalah dimana kepribadian orang Subang yang tidak akan pernah tergantikan atau dilenyapkan oleh orang lain. Meskipun pada saat ini telah terjadi sebuah arus yang berusaha masuk ke wilayah kabupaten Subang, baik itu kebudayaan, gaya hidup, dan yang lainnya, namun orang Subang harus tetap pada prinsip dengan memegang teguh nilai-nilai dasar urang Subang. Bisa dilihat bahwa saat ini ada sekitar tujuh zona industri di Kabupaten Subang yang salah satunya ada di Kecamatan Purwadadi. Banyak para pendatang yang berusaha untuk mencari nafkah keluarganya, dan hal ini tentunya mereka juga membawa budaya sendiri. Harapannya dengan prinsip ketiga dari piagam purwadadi ini, masyarakat lokal tetap dapat mempertahankan budaya tanpa terjadinya akulturasi kebudayaan.

Ketiga hal itu adalah nilai-nilai yang terkandung dalam piagam purwadadi yang dapat dijadikan sebagai gambaran umum perilaku masyarakat Kabupaten Subang. Meskipun kota kecil ini berada di tengah-tengah Jawa Barat yang sangat luas, namun para pengunjung dan tamu akan merasakan kehangatan ketika pertama kali menginjakan di tanah pasundan yang satu ini.

Mari berkunjung ke Subang…

(Penulis : Asep Rudi Casmana, S.Pd / Guru Pendidikan Kewarganegaraan)

Berita Terkait: