Subang Bisa Jadi Pusat Penelitian Penyebaran Rumpun Austronesia di Indonesia

KOTASUBANG.com, Subang – Penemuan kerangka manusia beserta bekal kuburnya pada ekskavasi Balai Arkeologi di situs Subang Larang, Nanggerang, Binong pada akhir Februari 2016 ternyata bisa membuka tabir jejak awal pendaratan atau hunian pertama rumpun Austronesia di pantai Utara Jawa yang selama ini belum bisa diketahui karena masih minimnya tinggalan arkeologis yang ditemukan. Bahkan menurut Lutfi Yondri, Arkeolog dari Balai Arkeologi Bandung, dengan temuan ini ke depan Subang bisa saja menjadi pusat penelitian nasional penyebaran rumpun Austronesia. (baca juga : Mencengangkan, Ini Temuan Balai Arkeologi di Situs Subang Larang)

Menurut Lutfi Yondri gagasan untuk pencarian lokasi awal pendaratan Masyarakat Austronesia di pantai Utara Jawa sudah dikembangkan oleh Sofwan Nurwidi sejak beberapa tahun belakangan dan juga sudah mulai dikembangkan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional melalui penelitian gabungan yang dilakukan pada November 2015 yang lalu di Karawang. Namun, dari hasil ekskavasi yang dilakukan tersebut belum diperoleh temuan arkeologis yang terkait dengan hal tersebut.

SITUS SUBANG LARANG

Gerbang menuju situs Subang Larang

Untuk mengungkap jejak awal pendaratan atau hunian pertama rumpun Austronesia tersebut, arkeolog melakukan dua kegiatan yaitu survey dan ekskavasi di tempat yang dicurigai sebagai bagian dari kawasan hunian pertama atau kawasan awal dari pendaratan Austronesia di masa lalu. Di Subang, selain ekskavasi di situs Subang Larang, survey juga dilakukan di daerah yang diperkirakan merupakan daerah garis pantai kuno atau pantai pada jaman dahulu, diantaranya di daerah Sindang Sari dan Kawunganten, Cikaum dan Kalijati Timur ditemukan berbagai tinggalan berupa manik-manik, gerabah dan batu bata kuno. Berdasarkan penelitian geologis, garis pantai kuno di Subang atau Jawa Barat pada jaman dahulu berada di bagian tengah Jawa Barat, tidak seperti saat ini yang berada lebih ke utara. Ekskavasi lanjutan di daerah-daerah tersebut perlu dilakukan guna mencari jawaban kapan sebenarnya bangsa Austronesia ini mulai bermigrasi ke Indonesia.

pantai kuno subang

Bagian yang berarsir diperkirakan merupakan daerah pantai kuno termasuk wilayah Nanggerang< Binong

austronesi di indonesia

Ekskavasi di situs Subang Larang dilakukan guna mengetahui awal pendaratan rumpun Austronesia di Jawa Barat

Austronesia merupakan satu rumpun budaya yang khas dengan wilayah persebaran hampir meliputi lebih dari separuh belahan dunia, 2/3 manusia di dunia saar ini berasal dari rumpun Austronesia tersebut. Dari Madagaskar di sebelah barat hingga Easter Island di sebelah timur, dari Taiwan  dan Melanesia di sebelah utara hingga Selandia Baru di sebelah selatan.

Berdasarkan pandangan yang dikemukakan Blust (1976), Belwood (2000), Tanudirjo (2012) menyimpulkan bahwa Austronesia sampai dan berkembang di Indonesia melalui lima tahapan.
Tahap I merupakan tahap migrasi para petani dari Cina selatan mencapai Taiwan (5000 tahun SM),
Tahap II, migrasi dari Taiwan ke Filipina (2.500 SM),
Tahap III, migrasi dari Filipina ke arah selatan dan tenggara (menjelang 2000 SM),
Tahap IV, migrasi dari Maluku Utara ke selatan dan timur (2000 SM), dan,
Tahap V migrasi dari Papua Utara ke barat dan ke timur.

Dari lima tahapan tersebut, menarik untuk ditelusuri lebih lanjut untuk wilayah Indonesia bagian barat adalah tahap IV (2000 SM). Pergerakan migrasi (proto) Melayo-Polynesia-Barat bergerak ke selatan atau barat bermigrasi ke Jawa dan Sumatera. Hal inilah yang saat ini tengah diteliti di situs Subang Larang. (baca juga : Menguak Sejarah Subang Larang)

SUBANG LARANG SITUS

Arkeolog Litfi Yondri tengah menjelaskan mengenai hasil temuannya kepada Muspika kecamatan Binong di lokasi ekskavasi

Selain ditemukan peninggalan yang diperkirakan pada masa prasejarah sekitar 500 tahun Sebelum Masehi di loksi situs Subang Larang juga ditemukan peninggalan budaya Bunian yang diperkirakan berkembang pada abad 2 – 5 Masehi. Hal ini menurut Lutfi dapat diketahui diantaranya dari jenis peningalan gerabah yang khas Bunian. Sebaran peninggalan budaya Bunian meliputi wilayah pesisir utara Banten dan Jawa Barat. (baca juga: Menguak Jejak Budaya Bunian di Situs Subang Larang)

Temuan kerangka beserta bekal kuburnya yang salah satunya merupakan senjata dari logam, melengkapi penemuan benda prasejarah masa paleometalik atau masa perundagian (mengenal logam) di Subang. Salah satu penemuan paling fenomenal masa perundagian di Subang adalah bejana perunggu terbesar di Indonesia yang ditemukan di Serang Panjang tahun 2007 lalu. Kemudian corak yang terdapat pada permukaan bejana perunggu tersebut pada tahun 2014 diinisiasi untuk dijadikan motif batik khas Subang dan telah dibuatkan Perda Batik pada tahun 2016. (baca juga : Jalan Panjang Perda Batik Bejana Purba).