Subang dalam Cita-cita; Optimisasi Pelayanan Publik (Bagian 1)

Kantor Bupati Subang

KOTASUBANG.com, Subang – Ketika berbicara tentang pelayanan publik, sudah sangat wajar jika pelayanan publik di jadikan kajian utama dalam sebuah pemerintahan, sebab tugas sebuah pemerintahan atau negara jelas untuk melayani masyaraktnya. Jika pelayanan publik tidak berfungsi dengan baik, tingkat kepuasan masyarakat akan berkurang dan tentu saja ini akan jadi masalah laten yang kelak akan menimbulkan konflik dan jurang pemisah antara masyarakat dan pemerintahan , antara rakyat dan pejabat.

Jurang pemisah tersebut akan menimbulkan masalah baru yang lebih besar. Dua point besar masalah yang berpotensi muncul justru akan timbul di 2 bidang utama yaitu pendidikan dan kesehatan yang pemenuhan ny jelas bukan tugas individu saja.
1. Dalam Pendidikan: Ketidaknyamanan masyarakat dalam pelayanan publik di bidang ini menjadi sangat fatal. Sebut saja biaya sekolah yang tinggi, kualitas yang kurang memadai dan masalah klasik pendidikan lain nya
2. Dalam kesehatan: “Orang miskin tak boleh sakit”, semboyan lama yang sangat terkenal, padahal baik orang kaya atau pun miskin sama-sama tidak mau sakit.

Ketidakoptimalan pelayanan publik selalu disangkutkan dengan berita negatif tentang para pejabat kita. Korupsi lah, nepotisme lah, atau apapun yang selalu saja negatif. Jika kita mau sedikit saja berpikir tentang hal lain dan yang lebih positif, mungkin kita bisa lebih sabar dan tidak saling menyalahkan. Terlepas dari data-data yang ada tentang isu-isu kotor para pejabat, lebih sederhana lagi jika berpikir tentang keberadaan bangsa Indonesia ini. Indonesia merdeka 1945 sampai sekarang berdaulat, sederhana nya masih ada orang-orang yang mengabdi dan bekerja untuk kedaulatan bangsa kita. So, stop lah berpikir negative dan apatis, kasian juga jika yang di ekspos oleh media hanya negatif, sangat kontra produktif (setuju?).

Mari kita lihat data-data dengan ilmiah , sehingga kita bisa lebih terbuka dan berani bertanggung jawab untuk tidak hanya mengeluh, tapi juga bersabar dan saling menguatkan.

1. Dalam pendidikan: Lihat saja angka jumlah murid, jumlah sekolah, dan jumlah guru. Sangat tidak proporsional. Kita membutuhkan lebih banyak sekolah dan lebih banyak guru untuk membuat pelayanan di bidang pendidikan lebih baik lagi.
2. Dalam kesehatan: sekali lagi, kita lihat proporsinya. Kita butuh lebih banyak dokter, rumah sakit, dan sarana kesehatan lainnya. Lihat di http://subangkab.bps.go.id/

Hal yang paling krusial di sebuah sistem negara adalah pendidikan warga negaranya. Pendidikan harus jadi fokus utama agar generasi mendatang bisa bangkit dan terus membangun dengan kelebihan nya sebagai warga muda. Lantas apa hubungan nya optimisasi pelayanan publik dan bidang pendidikan dan kesehatan??.

Dalam pendidikan dan kesehatan, karena kekuatan kita tidak cukup memadai untuk membangun secara bersamaan sarana prasarana yang total baru dan banyak. Kita harus melakukan peng optimisasian. Jelas pembangunan butuh tahapan dan kesabaran. Sebagai contoh yang real dalam studi kasus berikut:

a. Subang memilliki anggaran 1 M untuk sarana sekolah, lantas pertanyaan yang muncul. Apa yang harus didahulukan, bagian mana yang harus didahulukan, dan daerah mana yang paling sangat terdeapan untuk pembangunan apa. Itu semua sangat rumit dengan parameter sosial yang variable-nya saja sudah banyak

b. Begitu juga dengan kesehatan, sangat rumit sekali dengan jumlah dana yang terbatas untuk membangun langsung semuanya. Mustahil jika sekaligus dengan sumber terbatas, negara dan sistem manapun sangat mustahil.
(Operation Research nama tema ilmiah nya).

Lalu solusinya apa? Untuk mengoptimalkan sumber yang terbatas dan pembangunan ???, Solusinya metodologi, tentang bagaimana supaya optimal dan diterima masyarakat.

Banyak orang-orang pintar di Subang, bahkan banyak juga orang di pemerintahan yang mengerti tentang riset ini. Di bidang pendidikan dan kesehatan, Subang harus melakukan riset pembangunan yang mana yang harus didahulukan, mana dulu yang krusial, sehingga pembangunan yang ada adalah sustainable (berkelanjutan).

Nah, problem yang penulis lihat dalam sebuah riset adalah tidak terkoneksinya data yang ada dengan baik. Dalam artian seperti ini. Sebuah riset di Subang membutuhkan banyak faktor dalam keputusan nya. Tidak hanya survei tradisional atau yang berupa angket juga turun langsung. Harus ada sistem yang saling terkoneksi dan sistem yang memadai. Memang itu semua butuh waktu, tapi dengan adanya keyakinan, kita semua bisa untuk melakukan. Nama teknisnya OLAP (Online Analitycal Processing), dengan bantuan beberapa ahli IT, kita bisa membuat riset itu sangat lebih mudah dan kecepatan yang “real time“. Untuk itu paradigma pemanfaatan teknologi harus sangat diutamakan, karena dengan teknologi, semuanya jauh lebih mudah. Dan tentu saja dengan teknologi yang proporsional, kita bisa lebih baik (teknologi yang over tidak dibahas disini)

Memang sistem ini terlihat baru, tapi di negara-negara maju sistem berbasis data ini sangat diperlukan untuk pengoptimalan pengambilan data dan optimisasi kebijakan. Di bagian 2, akan dijelaskan lebih mengerucut ide awal, infrastruktur pendukung, perkiraan biaya dan teknisnya.

(Penulis : CEVI HERDIAN, Master Risk Management and Financial Services, Berlin University of Applied Sciences).

Berita Terkait: