Terjebak Kabut di Hutan Jamuju Puncak Curug Cileat

KOTASUBANG.com, Cisalak – Jam menunjukan pukul 12 siang, kabut tipis mulai kembali menyergap puncak gunung Canggah yang berada dihadapan Cimuncang Pasir, tempat kami bermalam. Sesuai rencana, setelah puas menikmati keindahan curug Cileat dari bawah, siang itu kami berencana mencapai puncak Curug Cileat, menyaksikan kemegahannya dari atas. Menurut Pak Lili pemandu kami, estimasi waktu mencapai puncak Curug Cileat sekitar 2 jam dari Cimuncang Pasir tempat kami bermalam. (baca juga : Bermalam di Cimuncang Pasir, Curug Cileat)

Tak banyak melakukan persiapan, kami bergegas mengikuti langkah kaki Pak Lili. Dari Cimuncang Pasir kami berjalan ke arah barat, kemudian melalui pinggiran sawah penduduk perjalanan mengarah ke selatan melalui jalan setapak memasuki hutan Jamuju. Tak banyak orang yang memasuki hutan ini, hal ini tampak dari jalan setapak yang kami lalui yang banyak tertutup rimbunan semak pertanda jarang dilalui. Meskipun demikian Pak Lili bercerita seringkali ada pemburu dan pembalak hutan yang menjarah hutan ini. Hal ini lah yang sangat disayangkan oleh Pak Lili.

“Padahal mah burung-burung teh jangan diburu, biar kita bisa dengar kicauannya di hutan” ujar Pak Lili menyayangkan.

DCIM100MEDIA
Rute yang harus dilalui berupa jalan setapak yang terus menanjak di dalam hutan Jamuju

Sementara warga sekitar seperti Pak Lili biasanya terpaksa memasuki hutan menuju hulu Cileat untuk mengalirkan air ke sawahnya. Kadang ia pun dimintai pertolongan untuk mencari orang yang tersesat ditengah hutan Jamuju. Terakhir dirinya mencari 3 orang mahasiswa yang tersesat di sana, hingga di temukan di sebuah situ di hutan Sumedang.

Sejak memasuki hutan, rute yang kami lalui terus saja menanjak melalui jalan setapak dengan vegetasi hutan bambu. Melihat kami kelelahan karena terus menanjak, Pak Lili kemudian berinisiatif menggunakan rute yang tak biasa yang lebih landai. Namun ia sendiri pun mungkin jarang menggunakannya karena semak yang harus dilalui sangat rimbun, seperti membuka jalan baru.

Pak lili curug cileat
Pak Lili, pemandu kami. Dirinya sudah terbiasa keluar masuk hutan Jamuju

Benar saja, jalan yang kami lalui lebih landai, namun ternyata lebih berbahaya bagi kami. Selain tanah dan serakan daun bambu yang licin, pijakan kaki kami terkadang sangat sempit sementara di sisi kiri kami jurang menganga. Kami terus bersahutan untuk saling mengingatkan satu sama lain tentang kondisi jalan yang dilalui.

“Awas daun bambu licin, pijakan cuma satu kaki, selalu ambil kanan, kiri jurang,” teriak barisan paling depan yang kemudian diteriakan berantai hingga barisan belakang.

Sekitar 20 menit kami harus melalui rute berbahaya tersebut hingga akhirnya sampai di tanah yang lebih datar. Di sini kami sedikit beristirahat. Sementara kawanan lutung berkejaran dari satu pohon ke pohon di atas kami.

Perjalanan kami lanjutkan. Dari sini vegetasi pohon hutan Jamuju lebih beragam, tidak di dominasi pohon bambu seperti sebelumnya. Tiba-tiba Pak Lili bercerita mengenai jalan setapak yang tengah kami lalui. Bahwa ternyata dahulu jalan ini pada jaman kolonial merupakan bekas jalan mobil menuju perkebunan kina yang kemudian tembus ke Bukanagara. Secara sekilas saya tak bisa membedakan kalau jalan tersebut merupakan bekas jalan yang lebar karena rapatnya pepohonan. Selama puluhan tahun hutan Jamuju telah berhasil merebiosasi dirinya sendiri. Namun jika diperhatikan seksama jalan dengan lebar sekitar 3 meter tersebut dapat terlihat dari batas tebing di satu sisinya dan jurang di sisi lainnya.

hutan jamuju cileat subang
Dahulu jalan yang dilalui ini, berupa jalan mobil menuju Bukanagara dan perkebunan kina. Hutan Jamuju telah mereboisasi dirinya sendiri.

Belakangan saya memperoleh cerita dari orang tua Pak Lili, menurutnya dahulu di puncak bukit hutan Jamuju tersebut ada rumah Belanda yang mereka sebut Gedong beserta sekitar 150 rumah lainnya yang dilengkapi dengan fasilitas listrik. Dirinya pun pernah bekerja di perkebunan tersebut hingga 4 kali pergantian tuan tanah. Namun perumahan ini kemudian dibumihanguskan ketika pecah gerakan DI/TII. Sisa-sisa bangunan tersebut masih ada hingga saat ini.

Setelah beberapa lama melalui jalan “kuno” tersebut kemudian kami melihat tali rafia kecil yang dikatkan pada sebuah batang semak. Rupanya ini penanda cabang jalan yang entah dibuat oleh siapa. Jika kami meneruskan perjalanan lurus maka kami akan sampai di Bukanagara, namun karena tujuan awal kami puncak curug Cileat maka kami harus berbelok kembali memasuki jalan setapak.

Dari sana jalan setapak menurun hingga kemudian kami sampai di sebuah sungai jernih berarus deras. Rupanya inilah aliran sungai curug Cileat yang berhulu di gunung Bukit Tunggul. Lagi-lagi kami harus menantang bahaya. Kami harus menyebrangi sungai tersebut. Dengan berpegangan pada seutas tali kami harus menyebrang satu persatu. Meskipun ketinggian airnya hanya selutut, aliran airnya cukup deras, jika sampai terpeleset kita akan terjun bebas ke Curug Cileat. Tamatlah riwayat kita. Sebenarnya ada jembatan kayu untuk menyeberangi sungai itu, namun kondisinya sudah lapuk dan berbahaya. Pak Lili mengatakan, jembatan tersebut dibuat oleh peziarah yang akan mengunjungi makam di atas bukit.

sungai cileat hutan jamuju subang
Melintasi sungai Cileat di pedalaman hutan Jamuju, tak jauh dari air sungai tumpah di curug Cileat

Melintasi sungai Cileat di pedalaman hutan Jamuju, tak jauh dari air sungai tumpah di curug Cileat

Alhamdulillah, semua bisa menyeberang sungai dengan baik. Namun, selamat dari bahaya sungai kemudian kami harus melalui jalan yang terjal hingga kemiringan 80 derajat. Kami harus ekstra hati-hati karena sangat licin, seutas tali yang kami bawa kembali menjadi penolong.

Kabut mulai turun ketika kami berhasil melalui tanjakan terjal, pucuk-pucuk pohon sejenis pandan raksasa mulai menghilang ditelan kabut. Suasana berubah menjadi sedikit “horor” bagi kami yang tak pernah mengalami hal itu. Melihat ujung kabut yang merayap perlahan menyergap pucuk-pucuk pohon, hingga pohon-pohon menghilang dari pandangan tertutup tebalnya kabut.

Tak berapa lama kami berjalan, akhirnya kami tiba di salah satu puncak bukit hutan Jamuju. Di sana terdapat sebuah makam yang entah sudah berusia berapa lama. Di sekitarnya berserakan sesajen dari para pejiarah atau mungkin para pemburu wangsit. Meskipun tidak mengetahui siapa yang dimakamkan di sana, kami menyempatkan berdoa di makam tersebut.

hutan jamuju cileat cisalak
Kabut tebal menyambut kami di salah satu puncak Hutan Jamuju
makam hutan jamuju cileat subang
Makam Eyang Ali di puncak bukit hutan Jamuju

Pak Lili mengatakan makam tersebut adalah peristirahatan Eyang Ali atau warga sekitar menyebutnya Mbah Jaga Pohara. Namun sayang, ketika ditanyakan siapa beliau, baik Pak Lili maupun orang tuanya tidak bisa menerangkan secara jelas siapa dan berasal dari mana Mbah Jaga Pohara itu.

Kabut semakin tebal di puncak bukit tersebut, membuat pandangan tak lebih dari 7 meter. Sebenarnya, untuk melihat puncak curug Cileat kami tinggal menuruni punggung bukit tersebut beberapa puluh meter saja. Namun hal itu terlalu berbahaya, menuruni punggung bukit yang terjal dan licin dalam kabut terlalu beresiko. Beberapa dari kami pun sudah mencobanya tapi urung dilakukan karena kabut terlalu tebal. Maka, gagal lah misi kami untuk melihat dan memotret curug Cileat dari puncaknya sesuai rencana kami.

Hanya sekitar 15 menit kami berada di sana, kemudian Pak Lili menyarankan untuk segera turun kembali. Ia khawatir hujan yang turun di gunung Bukit Tunggul membuat banjir bandang aliran sungai yang sebelumnya kami lalui. Mendengar hal itu, kami bergegas mengikuti Pak Lili untuk kembali ke perkemahan di Cimuncang Pasir.

sawah cimuncang pasir cileat
Pesawahan di Cimuncang Pasir tertutup kabut tebal ketika kami turun dari hutan Jamuju

Meskipun tak jadi melihat puncak curug Cileat, kami tak kecewa. Setidaknya kami bisa mengetahui cerita di balik kabut yang melingkupi hutan Jamuju. Pak Lili berjanji untuk mengajak kami menjelajah kembali hutan Jamuju dan mengurai rahasia di balik kabutnya di kemudian hari.

Fisik yang mulai terkuras membuat kami tak banyak bicara, hanya suara hutan yang menemani perjalanan kami pulang. Kadang menjadi sangat sunyi, hanya terdengar derap langkah para pejalan senyap menuju peraduan di Cimuncang Pasir.

Di Cimuncang Pasir kami berikrar satu janji kepada alam. Hutan Jamuju, Gunung Canggah dan Curug Cileat menjadi saksinya. Kami akan kembali….

Berita Terkait: