Bermalam di Cimuncang Pasir, Curug Cileat

KOTASUBANG.com – Cisalak, Hari mulai sore ketika KOTASUBANG.com dan rombongan tiba di ujung kampung Cibago, desa Mayang, Kecamatan Cisalak. Mendung yang mulai menggelayut sore itu, tak meyurutkan semangat untuk melanjutkan perjalanan menuju Cimuncang Pasir, tempat kami bermalam sebelum mengeksplorasi sekitar Curug Cileat keesokan paginya. Tak lama kami bersiap, petualangan pun kami mulai.

Pemandangan sawah menghijau langsung menyambut kami di ujung kampung, menemani perjalanan hingga kami memasuki hutan. Kabut tebal perlahan menyergap puncak-puncak bukit diantara pesawahan tersebut. Tak jauh dari sana, mengalir sungai jernih berarus deras meliuk-liuk menuju Curug Cileat yang berhulu di gunung Bukit Tunggul. Suara gemuruh air sungai itu masih terdengar hingga kami memasuki jalan setapak di tengah hutan. Lambat laun, suara gemuruh itu digantikan oleh suara kicauan burung dan suara-suara serangga hutan. Terdengar syahdu, harmoni dengan suguhan keindahan alam. Sebuah sore yang tak biasa.
curug citorok cileat subang

Curug Citorok

curug cimuncang pasir cileat subang

Curug Cimuncang Pasir

curug cimuncang lebak cileat subang

Curug Cimuncang Lebak

Setelah berjalan sekitar 1 jam melewati jalan setapak yang cukup panjang dengan kontur tanjakan, akhirnya kami sampai di sebuah curug. Warga sekitar meyebutnya curug Citorok. Curug ini merupakan satu dari 3 curug yang akan dilewati sebelum sampai di Curug Cileat. Puluhan monyet menyambut kedatangan kami di curug ini. Mereka berteriak bersahutan diantara rimbunan pohon di atas curug.

Perjalanan selanjutnya lebih menantang. Suasana hutan tropis makin kental. Kami melewati jalan setapak yang berada di antara tebing dan jurang yang kadang dalam. Suasana menjadi sedikit gelap karena rimbunan pohon yang semakin rapat hingga kami tiba di curug kedua. Curug Cimuncang Lebak namanya. Curug ini lumayan besar, jauh lebih besar dari Curug Citorok.

Tak jauh dari curug Cimuncang lebak, setelah sekitar 10 menit perjalanan kami sampai di curug ketiga. Warga sekitar menamakannya curug Cimuncang pasir. Sesuai namanya curug ini tak terlalu jauh dari lokasi camping area Cimuncang Pasir.

IMG_20160206_173100_HDR

Kabut tebal menyambut kami setibanya di Cimuncang Pasir

Gerimis tipis dan kabut yang semakin tebal menyambut kedatangan kami di camping area Cimuncang Pasir. Kami bergegas memasang tenda sebelum hari menjadi gelap dan turun hujan.

Benar saja, tak lama setelah tenda terpasang hujan pun turun membuat kami tak bisa melakukan banyak aktivitas di malam hari kecuali beristirahat.

Lokasi camping area Cimuncang Pasir berupa tanah datar diantara pesawahan milik keluarga Abah Danu. Konon dibekas lahan tersebut ada 7 bangunan rumah tempat leluhur abah Danu tinggal. Menurut keluarga abah Danu, leluhurnya tinggal ditengah perbukitan di sana untuk menghindari cultuurstelsel yang diberlakukan pemerintah Hindia Belanda ketika itu. Rumah-rumah leluhurnya tersebut dihancurkan ketika pecah gerakan DI/TII sekitar tahun 1958 dan tak pernah dibangun kembali hingga kini.

cimuncang pasir cileat subang

Pagi di Cimuncang Pasir

cimuncang pasir cileat subang 2

Sawah berundak di Cimuncang Pasir sementara di kejauhan gumpalan awan masih membeku diantara bukit-bukit

cimuncang pasir 3 cileat 1

Gumpalan awan masih membeku diantara bukit-bukit

cimuncang pasir cileat subang 1

Lokasi kami bermalam di Cimuncang Pasir

Pagi menjelang, sayup-sayup suara Adzan Subuh menyeruak diantara lautan awan yang terlihat membeku diantara bukit-bukit. Sinar mentari perlahan muncul dari balik puncak gunung Canggah, menghangatkan tubuh kami yang menggigil. Sementara petani telah mulai beraktivitas di sawahnya. Pemandangan indah ini menemani kopi hangat dan sarapan pagi kami. Tak lama melakukan persiapan, pagi itu kami langsung menuju curug Cileat.

Curug terbesar di Kabupaten Subang ini dapat kami capai sekitar 30 menit dari Cimuncang Pasir. Siapa yang tak takjub melihat keindahannya, tumpahan air jatuh diantara tebing batu setinggi sekitar 100 meter. Debit airnya deras menimpa bebatuan dan membentuk sebuah kolam kecil di bawahnya. Para pengunjung biasanya tak melewatkan untuk bermain air di sana. Menikmati kemegahan curug Cileat sambil menikmati sejuk airnya. Sebuah anekdot mengatakan, belum sah menjadi orang Subang kalau belum merasakan tumpahan air curug Cileat….

curug cileat subang

Curug Cileat, curug terbesar di Subang

cileat subang

Tumpahan Curug Cileat menimpa bebatuan di bawahnya