Menyimak Peta Tua Subang Jaman P & T Land

KOTASUBANG.com, Subang – Menyimak peta kuno jaman Pamanoekan dan Tjiasem Landen tahun 1900-an ternyata bentuknya sama persis dengan peta Subang saat ini. Dalam peta tersebut batas sebelah timur adalah afdeling Krawang dengan sungai Cilamaya sebagai pemisahnya. Sebelah selatan tertulis Residentie Preanger Regentschappen dengan deretan gunung Burangrang, Tangkuban Parahu dan Gunung Bukit Tunggul sebagai pemisahnya sama seperti saat ini. Sementara di sebelah barat adalah Residentie Preanger Regentschappen dan Residentie Cheribon dengan pembatas sungai Cipunagara dan kali Sewo sedangkan di utara berbatasan langsung dengan laut jawa.

peta SOEBANG 1900
Peta Pamanoekan & Tjiasemlanden tahun 1900an. Arsir berwarna hijau merupakan daearh yang dihuni masyarakat (Media-KITLV)
peta subang-a11
Peta Subang tahun 2016

Topografi daerah pantai terlihat sedikit berbeda dengan saat ini, hal ini disebabkan abrasi dan sedimentasi di beberapa bagian pantai utara yang terus terjadi hingga saat ini. Hal lain yang dapat diamati dari peta P and T Land dan peta Subang saat ini adalah terlihat adanya pengalihan aliran utama sungai Cipunagara bagian hilir beberapa kilometer yang asalnya bermuara di Mayangan dan Pangarengan dialihkan menjadi bermuara di sekitar Patimban. Hal ini kemungkinan dilakukan untuk mengatasi banjir dari meluapnya sungai Cipunagara.

Dalam 3 buah peta P and T Land yang milik Universiteit Leiden tergambar Subang ketika itu berupa perkebunan-perkebunan luas seperti kopi, teh dan karet. Sementara pusat peradaban atau kampung-kampung masih terpencar. Pusat peradaban atau daerah yang banyak dihuni ketika itu adalah di sekitar Pamanukan sampai ke Mayangan (sepanjang daerah hilir sungai Cipunagara sebelum dialihkan), baru kemudian muara Ciasem dan pusat kota Subang.

peta subang
Peta Subang tahun 1900an dan 2016. Topografi daearah pantai terlihat berbeda. Hilir Sungai Cipunagara terlihat berubah / dialihkan

Hal menarik diketahui dari peta kuno tersebut diantaranya adalah adanya daerah-daerah yang namanya sedikit berbeda dengan saat ini dan ada pula nama daerah yang kini sudah tak digunakan lagi atau berubah nama. Di pusat kota Subang misalnya, ternyata dulu ada daerah Salep dan Kandang yang kini tak pernah kita dengar lagi sebutan itu. Contoh lain di Dawuan ada daerah bernama Koemendung yang kini telah berubah menjadi Sukamulya.

Dan yang paling menarik  dari peta tersebut adalah bahwa Subang jaman dulu memiliki rel lori yang menghubungkan Subang kota (berawal dari Atelir / sebelah selatan Alun-alun) – Pamanukan – Sukamandi – Purwadadi atau sekitar 70  km. Namun, saat ini tak sedikitpun rel itu tersisa. Seandainya saat ini rel tersebut masih ada, mungkin Subang akan memiliki moda transportasi yang unik. Sangat disayangkan…

Berita Terkait: