Subang, Januari 2035

Minggu, 31 Desember 2034

Hujan turun rintik-rintik ketika mobil yang dibawa Ayah saya mulai memasuki wilayah Subang di jalan tol Jakarta – Semarang ruas Cipali. Kendaraan tampak menjejali jalan tol yang diresmikan 20 tahun yang lalu ini. Sama seperti saya mereka juga ingin menikmati malam pergantian tahun 2035 di tempat istimewa.

Dua buah gapura raksasa menyambut kedatangan kami pertanda kami sudah tiba di kampung halaman. Saya langsung membuka jendela ketika memasuki wilayah Pabuaran, maklum sudah hampir 4 tahun tak menghirup udara Subang.

Saya tak hentinya celingukan melihat ke luar jendela, beberapa cerobong asap terlihat mengepul di kawasan industri Subang. Kata Ayah, kini ada 3 kawasan industri di Subang, satu diantaranya sengaja dibangun untuk merelokasi pabrik-pabrik yang asalnya dibangun dilokasi yang tak sesuai rencana tata ruang.

Mendekati gerbang tol Subang, di kiri – kanan jalan tol terlihat bilboard-bilboard raksasa yang menampilkan foto-foto destinasi wisata dan budaya Subang. Ada bilboard bergambar Buaya, Gedung Wisma Karya, Sisingaan, Kebun Teh, Tangkuban Parahu dan beberapa lainnya, cukup menggambarkan Subang sebagai kota wisata alam, sejarah dan budaya.

Tak lama kemudian kami tiba di gerbang tol Subang, sebuah patung Sisingaan raksasa menyambut kami sesaat sebelum keluar tol Cipali. Seandainya saya pulang pas hari jadi Subang, saya bisa menyaksikan festival Sisingaan.

Mobil kemudian memasuki kota Subang. Dari jalan raya Pagaden – kota Subang, mobil kemudian diarahkan ke jalan Darmodiharjo karena jalan Otista hanya berlaku searah ke utara. Jalan Darmodiharjo semakin sesak, deretan ruko memadati jalan ini. Di jalan ini pula gerbang Sirkuit Gery Mang terlihat gagah. Sirkuit ini baru direnovasi tahun 2032 lalu. Lokasi yang berdekatan antara sirkuit, pasar dan terminal membuat daerah ini kerap terjadi kemacetan. Sebenarnya bukan titik ini saja yang kerap macet, beberapa ruas jalan lainnya juga mengalami hal yang sama. Pemkab tengah berupaya melakukan berbagai rekayasa lalulintas, pelebaran dan pembangunan jalan baru untuk mengatasi hal ini.

Di ujung jalan Darmodiharjo tugu berbentuk perahu lengkap dengan nelayannya terlihat gagah di bundaran depan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Subang. Tugu ini menggambarkan Subang sebagai daerah maritim selain juga daerah agraris. Sementara tugu petani terdapat di antara jalan Otista-Pejuang 45-DI Pandjaitan. Kata ayah saya tugu perahu ini dibangun untuk menggantikan tugu sebelumnya yang kontroversial karena dinilai tak memiliki nilai filosofi maupun sejarah.

Kendaraan kemudian langsung diarahkan ke Ciater, sebagian keluarga kami sudah menunggu disana untuk merayakan malam pergantian tahun bersama. Namun, kami menyempatkan dulu mampir di Ranggawulung, sekedar berfoto sebentar di salah satu land mark Subang. Selain taman, hutan Ranggawulung juga sudah di tata menjadi kebun raya, sayang kami tak punya waktu mengunjunginya.

subang 3
Taman Ranggawulung tahun 2016

Sekira pukul 14.00 WIB kami baru sampai di bundaran tugu nanas Jalancagak, kendaraan yang mengarah ke Ciater mulai padat saat itu.

Melihat tugu nanas ternyata bikin saya ngiler, maklum sudah 4 tahun tak mencicipi segarnya nanas Subang.  Untuk memenuhi hasrat saya, kemudian saya mengajak Ayah menepi di kios nanas Simadu tak jauh dari tugu. Sambil menikmati nanas Ayah bercerita, katanya saat ini Bupati Subang tengah gencar melakukan kembali penanaman nanas Subang. Hal ini dikarenakan produksi nanas Subang yang semakin menurun padahal sejak puluhan tahun lalu Subang dijuluki kota nanas.

“Masih pantaskan dijuluki kota nanas, kalo nanasnya sudah jarang yang menanam?” ujar Ayah saya.

Puas mencicipi nanas, akhirnya kami tiba di pemadian air panas Sari Ater. Ibu dan adik-adik saya sudah menunggu di sana. Sambil berendam di air hangat kami melepas rindu, sambil menunggu pergantian tahun.

Jam 00 pun tiba, warna warni kembang api menyeruak ditengah-tengah kebun teh menghiasi langit Ciater. Indah sekali malam itu….

Selamat tahun baru 2035…

Senin, 1 Januari 2035

Pagi yang indah, kabut tipis masih menyelimuti Ciater ketika kami menuju Tangkuban Parahu, gunung yang menjadi ikon Jawa Barat. Tiba di kawah Ratu pukul 08.00, ternyata sudah sesak oleh pengunjung, maklum semua orang masih merayakan tahun baru 2035. Seperti biasa saya langsung menuju spot favorit saya di roof top kantor informasi, memandang jauh ke utara menyaksikan bentangan indah Subang dari titik saya berdiri hingga jauh ke pantai utara nun jauh disana. Indah, betapa luasnya wilayah Subang…

Tak lama kami di sana, setelah puas berfoto ria bersama keluarga kami langsung menuju ke pusat kota Subang. Ada pertunjukkan seni special tahun baru di gedung kebudayaan Titim Fatimah.

Pukul 10.30 WIB kami sudah tiba di gedung Kebudayaan Titim Fatimah, Jalan Ahmad Yani, Pasir Kareumbi. Namun ternyata, kami datang terlalu pagi, petugas gedung mengatakan pagelaran baru digelar pukul 14.00 WIB. Memanfaatkan waktu yang kosong, kami gunakan untuk berjalan-jalan di pusat kota Subang. Kami putuskan untuk berjalan kaki menyusuri pedestrian menuju area Wisma Karya. Berdekatan dengan gedung kebudayaan ada tugu penanda nol kilometer Subang, tentunya tak lupa kami berfoto sejenak di sana.

Kini, pedestrian kota Subang lebih lebar dan tertata apik, lampu-lampu jalan dengan ornamen etnik berjajar cantik di sepanjang pedestrian. Mirip di Eropa lah. Bukan lagi hal yang aneh melihat turis bahkan turis mancanegara berlalu lalang di kota ini. Di bawah pimpinan Bupati yang kini memasuki periode kedua kepemimpinannya, Subang memang tengah dibenahi, termasuk di pusat kota sebagai etalse Subang itu sendiri. Bupati ingin menampilkan Subang sebagai kota sejarah dan budaya selain sudah lebih dulu dikenal dengan wisata alamnya.

Wisma Karya tahun 1996
Wisma Karya tahun 1996

Kesan kota perkebunan masa kolonial langsung terasa ketika kita berada di sekitaran pusat kota, terutama ketika kita berjalan kaki mulai dari Jalan Agus salim- Ade Irma-Wisma Karya – S. Parman – Wangsa Goparana – Lampu Satu (Gedung Bekas Kantor Besar P n T Land). Pedestrian di sepanjang Agus Salim tampak makin cantik dengan sungai kecil disampingnya. Sungai ini dilengkapi dengan penjernih air, sehingga ikan-ikan mas yang sengaja dipelihara di sungai tersebut tampak jelas.

Pedestrian di jalan Ade Irma depan cafe Big House di buat sangat lebar. Di tengah pedestrian tersebut selain berjajar lampu taman juga diselingi pepohonan yang tidak terlalu tinggi. Jika musim kemarau pohon-pohon ini berbunga oranye, indah sekali. Selain Big house yang kini difungsikan sebagai cafe, beberapa bangunan kolonial sepanjang jalan Ade Irma Suryani juga difungsikan sebagai guest house. Bangunan-bangunan ini hanya berpagar pendek di halamannya menghampar rumput yang hijau.  Para turis sangat senang bermalam di guest house, menikmati sensasi Subang jaman P n T dulu. Kata Ayah saya dulu bangunan-bangunan kolonial di pusat kota banyak yang dimiliki pihak swasta, namun secara bertahap Pemkab berupaya memiliki kembali.

Demikian pula dengan area Wisma Karya yang merupakan ikon kota Subang kini ditata sedemikian rupa. Gedung yang tahun 2033 lalu meraih penghargaan sebagai museum dengan pengelolaan terbaik nasional ini  benar-benar menjadi etalase Subang. Sejarah dan Budaya Subang yang lengkap mulai dari masa pra sejarah bisa diketahui di sini. Bukan hanya di dalam gedung, beberapa replika benda-benda prasejarah dalam ukuran lebih besar juga ada yang pajang di taman luar Wisma Karya, bahkan replika bejana perunggu peninggalan 2000 SM dipajang di pertigaan jalan Agus Salim. Benar-benar mengesankan Subang sebagai kota sejarah.

Tugu lampu satu tahun 1970-an
Tugu lampu satu tahun 1970-an
Kantor Besar P nT Land tahun 1940-an
Kantor Besar P nT Land tahun 1940-an

Gedung bekas kantor besar P n T Land kini kembali difungsikan sebagai kantor, halamannya ditanami rumput dan dibiarkan tanpa pagar sehingga gedung ini tampak gagah ketika dipandang, tak terhalang apapun. Semetara itu tugu lampu satu yang ada di depan kantor Besar sudah berganti wajah. Bentuk tugu lampu satu ini dikembalikan ke bentuknya yang lampau sehingga kesan klasik begitu terasa, berpadu dengan gedung ex kantor besar.

Pagar tinggi yang mengelilingi alun-alun Subang telah dibongkar, hanya berganti dengan pembatas yang menghalangi kendaraan bermotor agar tak bisa masuk ke dalam Alun-alun, sehingga rumputnya tetap terjaga. Bupati mengatakan sebagian rumput alun-alun harus dijaga dan dipertahankan, tak boleh berganti menjadi Paving Block karena memiliki nilai sejarah. Rumput tersebut bagian dari lapangan golf jaman kolonial. Jauh sebelum kota lain memiliki lapangan golf, dulu di Subang pernah ada.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Fabriek_te_Soebang_West-Java._TMnr_60031891
Gedung pabrik tahun 1920-an

Dan yang sedikit ambisius adalah pembangunan Taman Atelir di sebelah selatan Alun-alun (sebrang jalan S.Parman). Sebuah gedung bergaya kolonial bertuliskan “SOEBANG” di dinding atasnya dibangun kembali. Sebuah rumah mewah belanda tempo doeloe juga dibangun ulang, di depannya tumbuh sebuah pohon kitambleg dimana belasan ekor rusa biasa berteduh di bawahnya. Di sebelah timur taman Atelir ini terdapat teras-teras tepat di sisi sungai Cipanggilingan lengkap dengan lampu-lampu dan kursi taman. Teras ini terhubung dengan teras (taman sisi sungai) yang juga di bangun di kedua sisi bantaran Sungai Cipanggilingan di samping kiri Wisma Karya melalui kolong jembatan jalan S. Parman. Sebuah jembatan dengan arsitektur eropa menghubungkan kedua sisi teras taman pinggir sungai tersebut. Pohon-pohon berbunga warna-warni sengaja dipilih untuk ditanam di taman, biasanya ketika musim kemarau tiba, bunganya bermekaran bersamaan, terlihat sangat indah. Tak mengherankan kalau Subang kini sering meraih Adipura, karena selain bersih juga sangat indah.

subang cipanggilingan
Sungai Cipanggilingan sebelah timur Wisma Karya tahun 2015
Sungai Cipanggilingan sebelah timur Atelir tahun 2015
Sungai Cipanggilingan sebelah timur Atelir tahun 2015

Biasanya para pengunjung berjalan kaki menyusuri pedestrian untuk menikmati keindahan kota Subang. Kendaraan termasuk bus wisata diparkir di area GOR Gotong Royong, sebuah komplek olahraga terpadu lengkap dengan tamannya yang direvitalisasi ketika Subang menjadi tuan rumah PORDA beberapa tahun lalu. Selain berwisata sejarah sambil menikmati taman di pusat kota, biasanya para wisatawan juga berkunjung ke Lanud Suryadarma Kalijati. Tak ketinggalan pengunjung biasanya juga menyaksikan pertunjukan seni di gedung kebudayaan yang rutin di gelar setiap hari rabu, sabtu dan minggu.  Hari selanjutnya biasanya para wisatawan mengunjungi destinasi wisata alam lainnya.

Setelah sebelumnya makan siang di Chandra Mall, jalan Soeprapto, kami kembali ke gedung Kebudayaan Titim Fatimah. Mall tersebut merupakan satu-satunya pusat perbelanjaan yang lengkap termasuk bioskop di dalamnya. Bupati hanya mengizinkan pendirian 1 buah mall di Subang.

Tiba di gedung Tutum Fatimah pertunjukkan baru saja dimulai dengan atraksi sisingaan dari anak kecil. Penampilan yang memukau. Selanjutnya ditampilkan berbagai kesenian seperti doger kontrak, tari topeng jati, tardug dan sebagainya.

Waktu menunjukan pukul 16.30 WIB ketika pertunjukkan seni selesai. Dari sana kami memutuskan untuk check in di salah satu guest house berdekatan dengan cafe Landhuis di jalan Ade Irma Suryani. Malam harinya, sehabis hujan reda kami menyempatkan berjalan-jalan kembali keliling kota. Kilau lampu jalan memantul di pedestrian yang masih basah dan sedikit menggenang, memendarkan warna kuning keemasan. Indahnya malam itu….

Selasa, 2 Januari 2035

Hari terakhir di Subang. Pagi ini kami langsung meluncur ke pantura, sudah lama saya ingin melihat pantai utara Jawa. Perjalanan lengang menuju pantura, kami hanya tersendat di Pamanukan. Pusat kota kecamatan Pamanukan ini memang berkembang pesat. Dulu daerah ini sering terkena banjir, namun setelah bendungan Sadawarna di Kecamatan Cibogo selesai beberapa tahun lalu, banjir di pantura bisa diminimalisir.

Menuju pantai Cirewang kami melalui jalan-jalan desa yang relatif baik dengan saluran air di sisi jalannya. Dana untuk desa dari pemerintah pusat sebagian digunakan untuk perbaikan infrastruktur oleh desanya masing-masing. Di beberapa titik di bangun tepat pembuangan sampah sementara sehingga masyarakat tak kebingungan membuang sampah.

Langit cukup teduh ketika kami tiba di Cirewang. Saya hanya duduk di ranting pohon yang mati sambil melihat lalu lalang kapal-kapal besar di kejauhan. Kapal-kapal besar itu menunggu giliran untuk keluar masuk ke pelabuhan Patimban. Pelabuhan yang diresmikan Bapak Presiden beberapa tahun lalu.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB, masih rindu rasanya untuk keliling pantura terutama melihat buaya Blanakan. Sayang, waktu tak memungkinkan saya harus segera menuju BIJB Kertajati untuk melanjutkan perjalanan menuju Bali.

Ayah saya kemudian mengantarkan saya ke bandara melalui tol Cipali. Gapura raksasa penanda batas Kabupaten Subang dan Indramayu di tol Cipali seakan mengucapkan selamat tinggal kepada saya, berat rasanya meninggalkan Subang dengan bermacam kenangan di dalamnya.

Dari sana kemudian saya tertidur di mobil,  hingga Ayah membangunkan saya.

“Bangun..bangun..bangun”, kata Ayah saya sedikit teriak.

“Sudah sampai yah?” tanya saya.

“Sampai mana??, Shalat subuh sana!!” ujarnya.

Saya tertegun sejenak, kemudian melihat handphone. Ternyata saya hanya mimpi. Ini masih tanggal 2 Januari 2016.

Ah, Subang….. :)

(Sangara)

Berita Terkait: