Subang, Kota Industri atau Agraris ??

KOTASUBANG.com, Subang -Tampaknya visi kabupaten Subang yang menyatakan “Terwujudnya Kabupaten Subang sebagai Daerah Agribisnis, Pariwisata dan Industri yang Berwawasan Lingkungan” perlu ditinjau ulang pelaksanaannya, pasalnya kini masyarakat mulai mengidentikkan Subang sebagai kota industri dari pada kota Agraris apalagi kota wisata. Setidaknya hal itu tergambar dari jawaban kuisioner puluhan siswa peserta pelatihan dasar riset yang digelar di kampus STIESA, Sabtu (10/10/2015). Menurut persepsi para pelajar, Subang saat ini adalah kota industri (59% siswa menjawab hal tersebut) dan yang menjawab Subang sebagai agraris sebanyak 34% sedangkan yang menjawab Subang sebagai kota wisata hanya 7%.

Dalam pertanyaan kuisioner selanjutnya para pelajar Subang menyatakan setuju jika Subang kelak menjadi kota industri (70%) dan sisanya (30%) menyatakan tidak setuju. Kemudian para pelajar juga ditanya mengenai ikon yang cocok dengan Kabupaten Subang saat ini. Dimata para pelajar, ciri khas atau ikon yang cocok dengan Subang adalah Sisingaan (56,82%) sedangkan sebanyak 36,36% lainnya menjawab nanas yang merupakan komoditas pertanian unggulan Subang.

Pelatihan Riset TRPIP

Kuisinoer ini memang hanya diisi oleh segelintir siswa dari ribuan pelajar yang ada di Subang. Namun jawaban dari para pelajar ini seharusnya menjadi warning bagi Pemerintah Kabupaten Subang sejauh mana visi misi yang telah disusun itu terlaksana dengan baik. Artinya jika arah kebijakan Pemkab ingin menjadikan Agribisnis sebagai visi utama maka harus diambil langkah-langkah prioritas untuk mewujudkan hal tersebut baru kemudian diikuti pengembangan pariwisata dan industri, bukan sebaliknya.

Kemudian dalam kuisioner tersebut para siswa ini juga ditanya mengenai tujuan setelah lulus sekolah, hasilnya 50% siswa menjawab ingin kuliah sedangkan 45,45% siswa memilih bekerja. Meskipun hampir separuhnya menjawab akan bekerja setelah lulus, namun ketika ditanya mengenai jenis pekerjaan yang akan digeluti, 22,74% siswa menjawab ingin menjadi wirausahawan. Sedangkan 22,74% siswa lainnya ingin menjadi anggota Polisi / TNI, 15,91% ingin menjadi guru/dosen dan baru sisanya 6,82% menyatakan ingin menjadi karyawan pabrik.

Melihat banyaknya siswa yang ingin berwirausaha setelah lulus sekolah, Pemkab Subang sebaiknya mempersiapkan hal tersebut. Diantaranya dengan mengadakan pelatihan-pelatihan kewirausahaan di sekolah untuk menciptakan wirausahawan baru. Sedangkan bagi siswa yang ingin langsung bekerja, menurut Sosiolog Yanu Endar Prasetyo, pemerintah juga seharusnya menjadi fasilitator aktif bagi sekolah vokasional untuk mengenalkan dunia industri sejak dini. Diantaranya mengadakan program pendidikan yang bisa menambah skill untuk kesiapan di dunia industri. Selain itu para siswa juga harus dibekali pendidikan karakter seperti disiplin, kerja keras, sikap terbuka, bermental baja dan skill beradaptasi dalam tekanan yang akan terjadi di dunia kerja.

subang trpip 4

“Para calon tenaga kerja juga dibekali penguasaan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya, tentunya dengan tidak melupakan bahasa aslinya,” ujarnya.
Sedangkan Esty Setyorini dari Serikat Pekerja-LEM SPSI yang juga turut hadir dalam acara tersebut dan berbagi pengalaman kerja dengan para siswa mengungkapkan, meskipun kenyataannya kondisi saat ini tak banyak memberikan pilihan bagi lulusan SMA/SMK sederajat senaiknya menjadi buruh pabrik jangan dijadikan cita-cita. Masuknya industri di Subang, menurutnya tidak serta merta merubah pola pikir warga masyarakat yang tadinya agraris, yang suka mengatakan“sakieu oge uyuhan aya industri masuk Subang, dan masih bisa kerja”. Padahal kata Esty, ketika sudah masuk ke dunia industri (suasana kerja di pabrik), buruh dituntut untuk produktif, tapi tidak diimbangi dengan pemenuhan hak – hak buruh yang semestinya.
“Sekedar gambaran, situasi kerja di dalam pabrik tidaklah sesederhana yang dibayangkan oleh para calon pencari kerja. Untuk jenis industri tertentu, standar/latar belakang pendidikan tidaklah menjamin tingginya upah yang diterima, skill lebih diutamakan. Dan ini menjadi preseden buruk bagi dunia pendidikan. Ada pernyataan, buat apa sekolah tinggi, kalo cuma lulus SMP saja masih bisa kerja di pabrik. Hal ini perlu dicermati dan dicari solusinya, jika tidak entah generasi macam apa yang akan tumbuh di Kabupaten Subangnantinya,” ungkapnya.

Dalam Pelatihan Riset tingkat dasar yang di selenggarakan oleh Tim Relawan Pengkaji Informasi Publik (TRPIP) bersama Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sutaatmadja (STIESA) tersebut peserta yang terdiri dari para siswa tersebut dikenalkan tentang apa itu riset, khususnya metode penelitian survey untuk tingkat dasar. Para siswa diajarkan untuk memahami populasi, sampel, dan teknik-teknik pengambilan sampel.