Desa Wisata Wangun Harja dan Curug Bentang

Kampung Banceuy adalah satu dari empat lokasi yang ditetapkan Pemerintah Kabupaten Subang sebagai Desa Wisata Wangun Harja sejak tahun 1999. Empat desa yang berada pada ketinggian 800-1.100 meter di atas permukaan laut itu meliputi Desa Sanca, Cibitung, Cibadak, dan Cibeusi. Semuanya di wilayah Kecamatan Ciater.

Kampung Banceuy berjarak sekitar 30 km dari pusat Kabupaten Subang, 32 km dari Bandung, atau 185 km dari Jakarta (melalui Tol Jakarta-Cikampek). Dari Subang atau Bandung, lokasi itu bisa ditempuh selama 40-60 menit perjalanan darat melalui Desa Palasari, Sarireja, atau Kasomalang di Kecamatan Jalancagak.

Atang Mulyana (66), Ketua Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) Desa Wisata Wangun Harja, mengatakan, kawasan Wangun Harja memiliki sejumlah obyek yang bisa dikunjungi. Di area seluas sekitar 100 hektar itu terdapat Bukit Wangun Harja, Curug Bentang (di perbatasan Desa Sanca dan Cibitung), Curug Cibareubeuy (Desa Cibeusi), dan Situs Cibadak (Desa Cibadak). Di desa tersebut terdapat sebuah sungai besar yang menjadi sumber air bagi pertanian penduduk. Pada aliran sungai inilah terdapat curug bentang yang biasanya para wisatawan mandi di bawah curug tersebut.

Ada pula beberapa makam yang masih diziarahi, seperti makam Aki Leutik (Raden Ismail Saleh), makam Prabu Jaya Tumenggung, dan makam Eyang Haji Pungkur (Haji Singadiraksa). Keberadaannya dilindungi dan telah ditetapkan sebagai Situ Kampung Adat Banceuy oleh Balai Pengelolaan Kepurbakalaan Sejarah dan Nilai Tradisional.

Setiap tahunnya di desa tersebut diadakan acara pesta rakyat yaitu Ruatan Bumi yang telah dikemas dalam suatu paket wisata. Ruatan Bumi adalah salah satu upacara adat masyarakat agraris yang sampai saat ini masih dilaksanakan oleh masyarakat Subang, tepatnya di Kampung Banceuy Wangun Harja. Ruatan berasal dari kata rawat atau merawat yang artinya mengumpulkan seluruh masyarakat kampung serta hasil bumi, baik yang masih mentah maupun yang sudah diolah. Upacara Ruatan Bumi dilaksanakan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan YME atas keberhasilan hasil pertanian dan sebagai tolak bala serta ungkapan penghormatan terhadap nenek moyang mereka yang telah berjasa meningkatkan taraf hidup di Kampung Banceuy tersebut. Acara Ruatan Bumi di Kampung Banceuy ini telah dilaksanakan sejak tahun 1800 Masehi.

Berita Terkait: