TRPIP Akan Gelar Diskusi Akbar Bersama Tokoh Nasional dan Launching Riset Berbasis Relawan di Subang

KOTASUBANG.com, Subang – Sebuah diskusi akbar direncanakan akan digelar pertengahan September mendatang di salah satu pusat industri di Subang. Hal itu terungkap dalam acara Halal bi halal dan Diskusi III tentang kesiapan Subang menghadapi Industri yang bertempat di Masjid At-Taqwa, Desa Cidadap, Kecamatan Pagaden Barat, Minggu (9/8/2015) siang.

“Acara bulan September tersebut merupakan rangkaian dari beberapa diskusiĀ  yang sudah digelar sebelumnya, nantinya kita akan mengundang tokoh nasional untuk turut berdiskusi dalam acara tersebut,” kata Yanu Endar Prasetyo, salah seorang inisiator diskusi dan riset.

Dalam acara tersebut nantinya juga akan diisi oleh orasi beberapa tokoh masyarakat Subang dari berbagai elemen dan bidang keilmuan mengenai dampak industrialisasi dan kesiapan Subang menghadapi dampak tersebut. Tokoh-tokoh tersebut diantaranya berasal dari tokoh pemuda, pendidikan, agama, lingkungan hidup, perempuan dan buruh. Acara tersebut nantinya juga akan dipadukan dengan pertunjukkan seni budaya Kabupaten Subang. (baca juga : Diskusi Industrialisasi: Regulasi dan Kondisi Sosial Jadi Prioritas Kajian).

Bersamaan dengan diskusi akbar tersebut akan dilakukan pula launching riset mengenai industrialisasi di Subang dari Tim Relawan Pengkaji Informasi Publik (TRPIP) yang telah terbentuk dari hasil diskusi sebelumnya. Para relawan dari TRPIP ini berasal dari belasan elemen masyarakat yang telah mengikuti beberapa kali diskusi tentang industrialisasi ini. (baca juga : Peserta Diskusi Publik Siap Lakukan Riset Bersama Tentang Dampak Industri)

salah seorang relawam, Tita Irama tengah menjelaskan mengenai hasil tryout

Salah seorang relawan, Tita Irama tengah menjelaskan mengenai hasil tryout (9/8/2015)

“Ini adalah paradigma baru gerakan aktivis, dimana berbagai elemen masyarakat secara bersama-sama dengan sukarela mencari penyebab sekaligus solusi atas permasalahan di daerahnya. Sebuah gerakan yang konstruktif dan solutif” ujar H. Ade Mulyana. (baca juga : Inilah Sinergitas Semua Elemen Untuk Membangun Subang)

Para peserta diskusi yang kemudian membentuk TRPIP sangat serius mempersiapkan riset berbasis relawan ini. Sebelum launching atau dimulainya riset, terlebih dahulu telah dilakukan tryout atau ujicoba lapangan di daerah Cipeundeuy yang merupakan salah satu sentra industri di Subang. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan metode riset yang paling efektif yang akan digunakan kemudian.

Dalam diskusi III ini dipaparkan hasil tryout riset yang telah dilakukan dan dibahas pula berbagai kendala teknis yang dialami enumerator riset (pewawancara). Dari pengalaman para relawan yang telah melakukan uji coba di lapangan tersebut dapat diketahui ternyata lama waktu yang dibutuhkan untuk mengisi kuisioner sekitar 20-40 menit.

“Kita akan coba menyempurnakan kuisionernya sehingga nantinya pengisian kusionernya tidak memakan waktu terlalu lama,” kata Yanu.

Namun hal yang menggembirakan menurut Yanu, kuisioner yang dibawa oleh relawan yang menjadi enumerator ternyata dapat diisi dengan baik oleh mereka yang diwawancara.

“Ini sangat menggembirakan ternyata sukarelawan ini bisa menjadi petugas enumerator yang baik, sudah seperti petugas riset sebenarnya,” ujarnya.

Dari hasil uji coba yang telah dilakukan terhadap buruh wanita di daerah Cipeundeuy tersebut ternyata sudah dapat diperoleh gambaran mengenai kondisi buruh wanita Subang saat ini. (baca juga : Diskusi Publik : Buruh Perempuan Jadi Sorotan Utama).

“Namun hasil uji coba tersebut tidak akan di-share ke publik, nanti hasil riset yang sesungguhnya baru akan kita umumkan secara terbuka,” pungkasnya.