Ketika Masyarakat Pantura Berupaya Membangun Hutan, Apa Kabar Hutan Kota Subang ??

KOTASUBANG.com, Blanakan – Membanggakan. Di lahan yang tandus di ujung paling utara Kabupaten Subang kini setahap demi setahap tengah di sulap menjadi hutan, tepat di tepi sungai Cilamaya yang memisahkan Subang dan Karawang. Adalah De Tara Foundation atas prakarsa PT. PHE ONWJ bahu membahu dengan masyarakat desa Cilamaya Girang, Kecamatan Blanakan kini tengah membangun hutan pendidikan iklim Blanakan (HPIB).

“Hutan ini dibangun untuk pembelajaran lingkungan dan sebagai upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim,” ujar Ir. Latifah Hendarti founder De Tara Foundation di sela acara Global Exploration 2015. (baca juga : Puluhan Pelajar Belanda Belajar di Blanakan Subang)

hutan pendidikan iklim subang

Site Plan Hutan Pendidikan Iklim (HPIB) yang meyerupai perahu

global exploration de tara subang 2

Diskusi di bawah rindangnya tanaman Hutan Pendidikan Iklim Blanakan

Sebagai tahap awal kini telah dikembangkan seluas 2.5 hektar untuk hutan yang sudah ditanami 1068 tanaman yang terdiri dari 50 jenis tanaman (27 family) mulai mahoni, hibiscus, jengkol, sukun, mangga, jambu dan beberapa jenis pohon lainnya.

HPIB didesain dengan konsep lansekap perahu dengan tema “The Ship for Conserving Biodiversity for Present and Future Generation”. Sebagaimana ketika zaman dahulu nabi Nuh berupaya menyelamatkan manusia beserta hewan dan tumbuhan dari bencana. Demikian pula HPIB ibarat sebuah perahu yang sedang dipersiapkan untuk membawa benih-benih kekayaan hayati Indonesia agar berkembang membentuk tingkatan keanekaragaman hayati ekosistem, khususnya ekosistem hutan yang berfungsi untuk mebantu upaya mitigasi dan adaptasi iklim.

akses hutan iklim blanakan subang

Akses jalan menuju Hutan Pendidikan Iklim Blanakan rusak parah

hutan iklim blanakan subang

Akses menuju Hutan Pendidikan Iklim Blanakan lebih mudah dijangkau melalui Karawang dengan perahu nelayan

Selain membangun hutan pendidikan iklim, De Tara Foundation juga berupaya mengajak partisipasi aktif masyarakat untuk menjaga hutan tersebut dan mendidik masyarakat dilingkungan sekitar hutan untuk berperilaku mencintai lingkungan.

“Diantaranya kita bekerjasama dengan komunitas Suara Lingkungan (SULING) Blanakan, mengajak masyarakat sekitar untuk lebih untuk peduli lingkungan. Kita berupaya merubah mindset masyarakat perlahan-lahan dan tak bisa instan, melalui pendidikan ke sekolah-sekolah dengan pendampingan, lokakarya dan pelatihan,” kata Ika Satyasari officer De Tara Foundation.

Ironis. Upaya yang tengah dilakukan masyarakat pesisir pantura Subang yang tengah bersusah payah membangun hutan ternyata bertolak belakang dengan apa yang terjadi di pusat kota Subang, tempat dimana orang-orang terpelajar Kabupaten Subang ini tinggal. Hutan Ranggawulung yang hanya berjarak sekira 1 Km dari kantor Bupati Subang kini perlahan-lahan mulai habis.

hutan iklim blanakan subang 3

Lurah Cigadung Yuli Merdekawati berdiskusi dengan founder DeTara Ir. Latifah Hendarti mengenai lingkungan

“Apa yang ada disini memberi semangat dan menginspirasi kami dalam penyelesaian permasalahan di kawasan Hutan Ranggawulung yang kebetulan berada di wilayah kami. Kini keberadaan hutan Ranggawulung terancam karena adanya aktivitas galian C. Sampai hari ini kami kami masih harus menunggu tindak lanjut Pemprov Jabar untuk menutupnya secara permanen” ujar Yuli Merdekawati, Lurah Cigadung disela-sela kunjungannya ke Hutan Iklim Blanakan.

Menurut Yuli jika prosesi penutupan galian-galian C di sekitar Ranggawulung selesai, maka masih ada pekerjaan lanjutan yang harus dilakukan yaitu normalisasi hutan Ranggawulung.

“Tentunya kita perlu pendampingan dari pihak-pihak yang berkompeten dan punya keahlian untuk normalisasi hutan, seperti dari DeTara dan IPB seperti yang diutarakan bu Latifah tadi. Kita harus bersinergi dan tetap kompak untuk peduli pada lingkungan alam sekitar kita,” ujarnya.

Sementara itu pecinta alam yang juga aktivis buruh SPMKB, Dani Afgani mengungkapkan yang dilakukan di Blanakan harus menjadi motivasi lebih untuk kita semua dalam kasus Ranggawulung.

“Blanakan baru mulai menanam, 10-15 tahun lagi baru jadi hutan. Ranggawulung juga harus diselamatkan. Ke depan kampanye penyelamatan Ranggawulung mungkin dapat dilakukan dengan melakukan lebih banyak lagi kegiatan positif di sana sehingga lebih banyak lagi yang aware,” jelasnya.

Ir. Latifah Hendarti dari DeTara Foundation mengungkapkan kesiapannya membantu upaya-upaya penyelamatan lingkungan dimanapun termasuk di Ranggawulung. (baca juga : Energi Perubahan dari Blanakan)