Oncom Dawuan

Desa Dawuan, Kecamatan Dawuan mungkin selintas hanya desa biasa di pinggir jalan raya Subang-Jakarta. Tapi, bagi penggemar kuliner lokal, desa ini sejak dulu terkenal dengan oncomnya. Ke desa ini, tak sedikit orang dari Subang kota, Pamanukan, Pabuaran, dan kecamatan-kecamatan lain di Subang sengaja datang hanya untuk membeli oncom yang konon rasanya sangat khas. Bahkan, tak sedikit warga Bandung, Jakarta dan beberapa kota di Jawa Tengah yang menyempatkan diri membeli oncom Dawuan ini sebagai oleh-oleh khas Subang. Doni (35 tahun), misalnya, sengaja datang dari Subang kota untuk membeli oncom Dawuan untuk dikirim ke kerabatnya di Pontianak, Kalbar. Rasa oncom Dawuan ini beda dengan oncom buatan tempat lain, sehingga pantas dijadikan oleh-oleh, katanya.

Tak hanya itu, oncom Dawuan juga tersebar ke pasar-pasar di Subang. Di Pasar Kalijati misalnya, oncom buatan Dawuan sudah cukup mendarah daging sebagai komoditas perdagangan paling dicari setelah sembako. Di Pasar Baru, Subang, jenis oncom Dawuan ini juga merupakan komoditas yang paling dicari. Bahkan, konon masih banyak pembeli fanatik di Pasar Baru ini yang sengaja mencari oncom Dawuan.

Di Dawuan oncom pertama kali dirintis sekitar tahun 1960-an. Kemungkinan, sejak dulu produksi kacang tanah di desa ini cukup melimpah. Menurut Ketua Kelompok Usaha Kejar Usaha Oncom, Harun (55 tahun), kemudahan bahan dasar kacang tanah ini menjadi daya tarik warga Dawuan untuk mengembangkan usaha keluarga selain pertanian padi. Bapak empat orang anak ini mengaku menggeluti usaha produksi oncom ini sejak tahun 1969, tatkala masih berusia 17 tahun. Kini, Harun yang hanya lulus SD ini konsisten mengelola unit pembuatan oncom berskala rumah tangga.

Banyak suka dukanya menjadi pembuat oncom dawuan ini, kang, katanya. Ia mengenang masa jaya-jayanya oncom Dawuan sekitar sepuluh tahun lalu. Saking terkenalnya oncom Dawuan, kata suami Ny. Uminah ini, oncom Dawuan pernah dipamerkan dalam sebuah event di lokasi wisata air panas Ciater. Menjadi kebanggaan saat itu, karena banyak orang bertanya tentang oncom Dawuan selain tentunya membeli dengan jumlah banyak, kenangnya.

Memproduksi oncom Dawuan sebenarnya tidak terlalu sulit. Jenis oncom yang dibuat warga Dawuan ini terdiri atas oncom suuk (kacang) atau lazim disebut oncom asli dan oncom dadut dengan bahan campuran kacang dan ampas tahu. Proses pembuatannya rata-rata dua hari dengan bantuan ragi dan pengolahan sederhana melalui kompor minyak tanah. Bambu juga digunakan sebagai bahan sasag atau dasar/alas tempat meletakkan oncom, sedangkan minyak tanah untuk proses penanakannya.

Untuk pengadaan bahan baku, para produsen oncom dawuan ini mengandalkan Pasar Inpres untuk kacang tanah dan Kopti untuk ampas tahu. Rata-rata untuk satu produsen perhari dibutuhkan bahan baku sebanyak 5 kwintal, dengan harga kacang tanah rata-rata Rp 10.000/kg. Untuk membuat oncom yang rasanya enak, harus dibuat dari kacang tanah yang berkualitas. Untuk membuat oncom yang rasanya enak harus dibuat dari kacang tanah yang berkualitas tinggi. Tidak boleh bercampur dengan kacang tanah yang sudah berhama atau buruk karena akan memengaruhi rasa dan aroma oncom.

Kacang tanah yang berkualitas juga mengandung kadar minyak yang cukup tinggi.

Biasanya dari 100 kg kacang tanah bisa menghasilkan minyak kacang sebesar 20 kg. Kacang tanah yang telah dibersihkan dimasukkan ke kampa, sejenis mesin penggilingan kacang tanah. Setelah itu, wujudnya menjadi bungkil mentah. Bungkil mentah tersebut lalu dicetak. Kadar minyaknya dipisahkan dan menjadi bungkil. Bungkil ini selanjutnya direndam dengan air yang sudah dimasak. Setelah 7 jam proses perendaman, bungkil yang sudah berubah jadi serbuk oncom tersebut dimasukkan ke dalam carangka.

Serbuk oncom itu pada sekira pukul 1.00 dini hari diseupan alias dikukus hingga masak, setelah itu dicetak berbentuk empat persegi panjang. Selama 12 jam potongan-potongan oncom tersebut ditutup atau diselimuti dengan karung setelah sebelumnya ditaburi ragi oncom secukupnya agar nantinya timbul jamur-jamur oncom. Setelah berjamur, potongan-potongan oncom diberi sasag yang terbuat dari bambu. Baru selanjutnya oncom siap dipasarkan. Menurut para produsen oncom dawuan, permasalahan yang dihadapi dalam proses produksi ini adalah hasil fermentasi yang tidak stabil, sehingga memungkinkan oncom membusuk.

Kini, pamor oncom Dawuan dirasakan Harun dan rekan-rekannya sesama produsen oncom dirasakan menurun. Penurunan ini ditandai dengan makin sedikitnya pembeli dibanding 5 atau 10 tahun lalu, kata beberapa anggota Kelompok Usaha Kejar Usaha Oncom. Ketika ditanya penyebabnya, mereka umumnya tak mengetahui secara pasti. Namun, Harun mensinyalir adanya perubahan selera makan masyarakat yang cenderung beralih ke menu orang kota. Disisi lain, katanya, kemungkinan penyebab lain adalah berkurangnya arus kendaraan yang melewati ruas jalan Subang-Kalijati-Jakarta. Mungkin, orang-orang dari arah barat (Jakarta-red) menuju Bandung kini lebih suka menggunakan jalan tol, ungkapnya. Saat ini untuk memasarkan produknya, mereka juga membuat outlet sederhana di rumah untuk melayani pembeli yang datang, selain menjualnya langsung ke pasar-pasar.

Alasan ini juga diakui beberapa produsen oncom yang masing-masing tinggal tak berjauhan. Mungkin juga kurang promosi kata mereka. Promosi ini menjadi kendala tersendiri bagi mereka. Maklum, kemampuan para pembuat oncom ini baru terbatas pada aspek produksi saja, belum ke aspek perluasan pasar. Meredupnya pamor oncom Dawuan ini tak pelak mengembalikan pola ekonomi rakyat setempat kebentuk pertanian lagi dari sektor industri kecil. Kini, untuk membiayai kebutuhan sehari-hari, kami menggarap sawah yang tidak begitu luas, kata Harun. Hal ini dilakukan karena ia masih berkewajiban membiayai sekolah dua dari empat anaknya.

Dengan bahan baku 5 kuintal, kata Harun, ia meraup keuntungan kotor Rp 75 ribu per hari. Penghasilan bersih tentunya lebih kecil, karena harus dikurangi biaya untuk modal, keluhnya. Penghasilan ini didapat dari penjualan sekitar 5 ancak dari 10 ancak yang diproduksi perhari. Tarip per ancak oncom Dawuan ini tergantung dari jenisnya. Untuk oncom suuk/kacang harganya Rp 50 ribu per ancak atau Rp 500 per potong. Untuk 1 ancak, bisa menjadi sekitar 1.000 potong, kata Harun. Lain halnya dengan oncom dadut, harganya jauh lebih murah. Dengan uang Rp 20 ribu, pembeli dapat memperoleh satu ancak oncom dadut. Murahnya harga oncom dadut ini dikarenakan bahan bakunya campuran antara kacang tanah dan ampas tahu. Sementara oncom asli bahannya melulu kacang tanah.

Selama ini, Harun dibantu anggota keluarganya untuk memproduksi oncom. Pola pemanfaatan tenaga kerja keluarga ini juga diterapkan para produsen lain. Langkah ini mengurangi biaya tenaga kerja yang saat ini tak mungkin terbayar, kata rekan-rekan harun. Untuk permodalan, selama ini ia beserta kelompok usahanya menjalin kerjasama dengan pihak BRI unit. Mengenai berbagai kendala ini, Harun dan rekan-rekannya berharap adanya ketulusan pihak terkait untuk lebih memperhatikan para produsen oncom yang belum terfasilitasi, baik dari segi pemasaran maupun permodalan. Harapan kami, dimasa depan produksi oncom meningkat dan dikembangkan dengan memproduksi gorengan oncom, kata mereka.