Paguron Ciung Wanara, Mandiri dan Berprestasi dalam Senyap

KOTASUBANG.com, Subang – Kagum dengan aksi koreografi silat di film the Raid ? Adegan-adegan berbahaya yang diperagakan oleh para aktor yang juga merupakan atlet pencak silat, membuat kagum penonton film tersebut hingga kemudian membuat silat lebih dikenal di dunia internasional.

Ternyata, kemampuan koreografi “canggih’ pencak silat seperti dalam film the Raid juga dimiliki oleh sekumpulan anak muda Subang. Aksi tangan kosong maupun teknik silat bersenjata sudah mereka kuasai dengan baik. Mereka tergabung dalam Paguron pencak silat Ciung Wanara, Wanareja, Subang.

Paguron Pencak Silat Ciung Wanara diasuh oleh kang Jajat dan Kang Ave. Ada puluhan remaja dan anak-anak yang giat berlatih di Paguron Ciung Wanara tersebut.

“Yang paling aktif ada sekitar 20 orang, kebanyakan berasal dari Pagaden, Cipunagara, Compreng dan Sukasari,” kata Kang Jajat putra pendiri atau generasi kedua perguruan Ciung Wanara.

Menurut kang Jajat puluhan muridnya tersebut kemudian melatih pencak silat di beberapa sekolah di daerahnya masing-masing.

“Jadi kalau dijumlah sebenarnya banyak yang telah berlatih silat bersama Ciung Wanara. Hal itu terbukti dengan kita mampu mengirim hingga 2000 pesilat Subang ketika ada pemecahan rekor MURI Pencak Silat di Sumedang tahun 2014 lalu.” ujarnya.

Pesilat Ciung Wanara bukan hanya jago silat seni, tanpa banyak pemberitaan perguruan silat ini telah menyumbangkan banyak prestasi pada berbagai pertandingan pencak silat untuk Kabupaten Subang.

“Para pesilat Ciung Wanara sudah beberapa kali menyumbangkan medali untuk Kabupaten Subang pada gelaran PORDA, POPDA, POPWIL maupun O2SN,” kata Kang Jajat.

Selain itu Paguron Ciung Wanara sudah beberapa kali dipercaya menjadi pembuka dalam berbagai kegiatan dengan penampilan apik pencak silat yang digabungkan dengan Sisingaan.

“Terakhir kita dipercaya menjadi pembuka acara Pekan Paralympic Pelajar Nasional VII/ 2015 yang digelar di Bandung, Juni lalu” ujar Kang Jajat.

“Bahkan mungkin karena panitia melihat penampilan kita yang memukau, kita dipercaya kembali untuk menjadi pembuka dalam acara POPNAS mendatang di Bandung,” tambahnya.

Sebelumnya pencak silat yang di gabungkan dengan Sisingaan ini juga ditampilkan dalam acara O2SN di Subang dan pembukaan Sanggar Seni Budaya Eco Bambu di Lembang tahun lalu.

Ke depan Kang Jajat memang berkeinginan untuk mengkolaborasikan pencak silat dengan kesenian-kesenian Subang yang lebih populer seperti jaipongan atau Sisingaan. Menurutnya, dengan demikian pencak silat akan lebih sering ditampilkan dan dengan semakin banyaknya kesempatan untuk tampil, maka pencak silat akan berkembang kembali di Subang.

Kang Jajat sendiri merupakan juara Nasional pencak silat 6 kali dan peraih medali emas pencak silat Sea Games 1997. Sedangkan pesilat pentolan Ciung Wanara lainnya telah menjadi juara PON, Sea Games, kejuaraan Asia Pasifik dan beberapa kali meraih juara dunia pencak silat.

kang jajat ciung wanara
Kang Jajat dari Ciung Wanara Bersama Presiden Persilat Eddie Nalapraya

Sejarah Paguron Ciung Wanara

Ciung Wanara berawal dari keinginan Endang Yohana yang tak lain adalah ayahnya Kang Jajat untuk belajar silat.

“Waktu itu sekitar tahun 1950-an Bapak masih kecil seemuran anak SD, ketika ada pertunjukkan Silat di Dayeuh Kolot, Bandung ia ditawari manggung oleh Pak Endang Suganda dari perguruan Domas. Waktu itu Bapak saya bilang gak bisa silat,” kata Kang Jajat bercerita.

“Kemudian secara mendadak dipinggir panggung Bapak saya diajarin 12 gerakan silat oleh beliau hingga bisa. Hingga kemudian diakhir pertunjukkan Bapak saya bisa ikut tampil dengan 12 gerakan yang baru dipelajari sebelumnya tersebut,” jelasnya.

Berbekal 12 gerakan yang dipelajarinya tersebut kemudian Endang Yohana kecil mengembangkan silat sendiri. Ia sering kali masuk ke dalam hutan untuk mengembangkan kemampuan silatnya. Alam hutan Gedong Peteng di Bandung selatan membantunya mengembangkan jurus-jurus pencak silat yang kemudian menjadi cikal bakal silat Ciung Wanara.

“Ketika seusia anak SMP Bapak saya sudah memiliki murid,” kata Kang Jajat.

Dirasa kemampuannya sudah cukup mumpuni, kemudian Endang Yohana mendirikan Paguron Pencak Silat dengan nama Ciung Wanara.

“Sebelumnya dahulu nama perguruan Ciung Wanara pernah dipakai oleh Bapak Manan di Bandung, namun karena tidak aktif, Bapak saya kemudian meminta izin untuk menggunakan nama ini,” ungkapnya.

Menurut Kang Jajat nama Ciung Wanara mengadung filosofi kemandirian dalam hidup. Hal ini sesuai dengan legenda Ciung Wanara dan sejarah ayahnya sendiri yang dahulu secara mandiri telah mengembangkan pencak silat Ciung Wanara.

Paguron Ciung Wanara kemudian semakin dikenal karena seringkali menjadi juara umum dalam kejuaraan yang di gelar di Bandung, terutama di Kecamatan Cibeunying Kaler / Bandung Timur. Dari sana perguruan ini kemudian menyebar ke Garut, Tasik, Ciamis, Sumedang, Majalengka hingga Subang.

Di Subang, Perguruan Ciung Wanara berkembang atas prakarsa wakil Bupati Subang ketika itu H. Iing Kosim (1998-2003). Ia mengajak Kang Jajat untuk mengembangkan pencak silat di Subang.

“Ketika Wakil Bupatinya beliau pencak silat mulai berkembang di Subang, bahkan ketika itu sering diadakan gebyar pendekar di Subang,” ungkapnya.

“Namun setelah beliau tidak bertugas lagi di Subang, pamor pencak silat kembali menurun di Subang,” ujarnya menyayangkan.

Menurutnya kurangnya event yang digelar adalah salah satu faktor yang menyebabkan tidak berkembangnya pencak silat di Subang saat ini.

Berita Terkait: