Diskusi Publik Subang : Buruh Perempuan Jadi Sorotan Utama

KOTASUBANG.com, Subang – Diskusi kedua mengenai kesiapan Subang menghadapi era Industri kembali digelar di Aula SKB, Jalan Marsinu Subang. Puluhan peserta yang berasal dari berbagai elemen masyarakat hadir dalam diskusi kali ini. Pada diskusi yang digelar kedua kalinya ini masalah buruh perempuan kembali menjadi yang paling disorot para peserta diskusi. (baca juga : Diskusi Industrialisasi: Regulasi dan Kondisi Sosial Jadi Prioritas Kajian)

Dadang peserta diskusi asal Ciangsi, mengungkapkan kini di daerahnya mulai terasa dampak signifikan dari adanya pabrik, mulai dari kemacetan hingga fenomena siswa putus sekolah yang lebih memilih bekerja di pabrik.

“Selain itu fenomena buruh wanita yang menyebabkan kurangnya waktu berkomunikasi dengan anaknya akan berpengaruh pada kepribadian terutama bagi anak perempuan. Peran Pemda untuk mengantisipasi masalah-masalah seperti ini bagaimana?” katanya.

Anggota DPRD Subang yang juga turut hadir dalam diskusi tersebut Nurul Mukmin juga menyoroti hal tersebut. Saat ini menurutnya buruh wanita yang baru saja melahirkan harus sudah masuk kerja setelah 40 hari cuti.

“Dan bayinya, generasi Subang ini kemudian terpaksa hanya meminum air gula bukan ASI,” katanya.

“Selain itu adapula fenomena anak-anak lulusan SMP yang bekerja di pabrik dengan mengakali menaikan umurnya njadi 18 tahun,”ujarnya.

Ia tak menampik bahwa DPRD Subang hingga saat ini belum membahas mengenai peraturan daerah mengenai ketenagakerjaan ini.

IMG_20150615_152128

Diskusi II, Hadapi Industrialisasi Siapkah Subang ??? di Aula SKB (14/6/2015)

Ketua Himpaudi H. Ade Mulyana mengungkapkan masalah buruh perempuan harus menjadi prioritas karena berhubungan dengan generasi Kabupaten Subang masa depan.

“Industrialisasi tak bisa dihalangi, tapi kita tidak boleh gagap hadapi industrialisasi ini terutama mengenai masalah buruh perempuan,” katanya.

“Usia 0-6 tahun merupakan usia emas (golden age). Pola didik anak harus sesuai dengan pola perkembangannya, disinilah peran ibu menjadi sosok sentral. Di PAUD kami hanya bisa membimbing akak paling sekitar 2 jam sehari, selebihnya harus orang tua sendiri dalam hal ini ibunya yang mengambil peran,” paparnya.

Ketua Paguyuban Pasundan, H. Agustias Amin menyoroti investor yang masuk ke wilayah Subang. Menurutnya harus diprioritaskan industri yang berbasis pada kekuatan lokal.

“Misalnya mengutamakan industri yang menyerap bahan baku dari Subang untuk diproduksi menjadi barang jadi, mengutamakan investor lokal atau BUMD,” katanya.

Sementara itu Pendiri Facebooker Subang Rohadian Rahmat menyoroti banyaknya oknum-oknum LSM dan Karang Taruna dan LSM disekitar pabrik.

“Rekruitmen tenaga kerja dengan pungutan dari oknum pemuda setempat sangat merugikan para calon buruh, belumĀ  lagi bayaknya LSM yang rebutan proyek atau limbah, ini juga harus diperhatikan,” katanya.

Ferdi Fathurohman dari Sekjen DPC HA IPB Subang mengungkapkan masuknya industri di Subang harus bisa dimanfaatkan oleh orang Subang.

“Dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada, orang Subang harus mampu memanfaatkan ini, jangan cuma jadi penonton,” katanya.

Sementara itu perwakilan dari Keluarga Besar Pecinta Alam (KBPA) Subang Gingin Sujalaga menyoroti kerusakan lingkungan sebagai dampak Industialisasi. Berdasarkan pengamatannya telah tampak kerusakan lingkungan di beberapa titik akibat kurang baiknya analisis dampak lingkungan pendirian pabrik. Ia mencontohkan saluran air yang tidak lancar di sekitar pabrik dan adanya pembuangan limbah pabrik yang tidak sesuai aturan.

Dari diskusi selama hampi 4 jam ini kemudian disepakati akan dilanjutkan dengan sebuah riset / kajian yang dilakukan bersama-sama para peserta diskusi mengenai dampak industrialisasi di Subang. Riset yang dilakukan secara parsitifatif voluntarisme ini merupakan sebuah peran serta aktif civil society yang peduli terhadap keadaan Subang saat ini.

“Nantinya para relawan ini akan disebar ke 7 zona industri untuk mengumpulkan data mengenai dampak industrialisasi di daerah tersebut,” kata Yanu Endar Prasetyo, peneliti LIPI yang merupakan salah satu inisiator riset berbasis parsitifatif voluntarisme ini. (baca juga : Peserta Diskusi Publik Siap Lakukan Riset Bersama Tentang Dampak Industri)