Tiga Jenis Buah Produksi Petani Subang Ini Jadi Komoditas Ekspor

KOTASUBANG.com, Subang – Tiga jenis komoditas buah-buahan produksi petani di Kabupaten Subang, yaitu Nenas, Rambutan, dan Manggis sudah bisa di ekspor ke beberapa negara. Namun buah manggis menjadi paling banyak menembus pasar ekspor.

Saat ini hampir 30 persen produksi manggis Subang sudah bisa di ekspor ke beberapa negara Asia dan Timur tengah. Sedangkan sisanya masih dijual dipasar lokal, baik retail maupun tradisional.

“Produk holtikultura Subang yang sudah bisa ekspor baru ada tiga, yaitu Manggis, Nanas dan rambutan. Dari tiga jenis buah-buahan itu yang paling banyak ekspornya dalam jumlah cukup besar yaitu buah manggis, dan sudah mendapat ISO Prima 3,” kata Kepala Seksi Holtikultura, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Subang, Tatang Gustian, saat dihubungi, Minggu (26/4/2015).

Dia mengatakan produksi buah manggis Subang saat ini per tahunnya mencapai 3.000 ton. Dari produksi sebanyak itu, baru 30 persen yang sudah diekspor. Sedangkan sisanya dijual ke pasar-pasar retail maupun tradisional dalam negeri.

“Negara-negara yang menjadi tujuan ekspor buah manggis produk petani Subang yaitu Asia dan Timur tengah. Misalnya, Hongkong, Singapura, Abu Dhabi, Yaman dan Saudi Arabia,” ujarnya.

nanas-simadu-subang

Tatang mengungkapkan luas areal tanam manggis di wilayah Subang saat mencapai 750 hektar tersebar di beberapa kecamatan wilayah Selatan. Namun dari luas areal manggis tersebut yang sudah berproduksi baru 450 hektar. Sedangkan sisanya belum bisa berproduksi optimal karena masih merupakan tanaman peremajaan.

“Kemungkinan tanaman peremajaan itu baru akan bisa berproduksi optimal tiga tahun ke depan. Selain buah manggis, nenas dan rambutan sudah ada yang bisa ekspor, tetapi volumenya masih terbatas ke beberapa negara di Timur tengah,” ujarnya.

Seorang petani manggis asal sentra manggis di Kecamatan Cisalak, Jamal, mengatakan, harga jual buah manggis untuk pasar ekspor lebih tinggi dibandingkan lokal dan harganya relatif stabil.

Terakhir dirinya bisa mendapatkan harga Rp 18 ribu per kilo gram untuk pasar ekspor. Sedangkan harga buah manggis yang dijual ke pasar swalayan Rp 15 ribu per kilo gram, dan di pasar tradisional maupun eceran Rp 7.000 – Rp per kilogram.

“Harga itu sesuai kualitasnya, kalau untuk ekspor sangat selektif dan pilihan. Selain kualitas, ukurannya juga menyesuaikan dengan permintaan konsumen di luar negeri,” katanya.

Sementara itu Bupati Subang, Ojang Sohandi mengharapkan Dinas Pertanian Tanaman Pangan mampu membina sumber daya manusia, yaitu para petani agar semua produk unggulan Subang bisa menembus pasar ekspor.

“Saya ingin lebih banyak lagi komoditas unggulan Subang bisa di ekspor, jangan cuma buah manggis, nenas serta rambutan,” katanya.

Diakui Ojang, untuk memenuhi pasar ekspor banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Selain kualitas harus memenuhi standar, juga kontinuitasnya juga. Itu yang sering kali menjadi kendala petani memenuhi pasar ekspor.

Misalnya, ekspor nenas masih terkendala produksi. Sebab Korea Selatan meminta pasokan 150 ton per bulan, petani di Subang baru mampu 40 hingga 60 ton nenas yang layak ekspor per bulannya.

Dikatakan Ojang, produksi nenas Subang kini luas areal tanamnya sekitar 4.500 hektar, dan produksi per tahunnya mencapai 90 ribu ton. Produksi sebanyak itu sebagian di pasarkan ke pabrik-pabrik makanan olahan, sebagian lagi di pasar tradisional maupun eceran untuk konsumsi buah segar.

“Kalau buah rambutan, pasar ekspornya cukup terbuka ke Arab, Jepang dan Singapura. Namun terkendala berbagai persyaratan yang ketat, termasuk masalah kandungan kontaminasi hama dan pestisida. Ini yang harus jadi perhatian dinas pertanian, supaya produk buah-buahan Subang bisa memenuhi pasar ekspor,” ujarnya. (Pikiran Rakyat)