Semangat Bandung di Museum Konperensi Asia Afrika

KOTASUBANG.com, Bandung – Sekilas, ketika kita melewati gedung Merdeka di jalan Asia Afrika kota Bandung , gedung tersebut tampak sepi kecuali beberapa orang yang berfoto di depan gedung yang memiliki arsitektur kuno yang unik tersebut. Tapi cobalah buka sebuah pintu yang berada di sebelah kiri gedung tersebut, maka seketika Anda akan merasa bangga menjadi warga Indonesia. Bagaimana tidak, di dalam gedung yang disulap menjadi sebuah museum dengan interior megah tersebut kita bisa mengetahui kesuksesan Indonesia menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika yang menjadi inspirasi kemerdekaan dan perdamaian negara – negara di Asia dan Afrika.

Saat itu Indonesia menjadi negara pertama yang sukses menyeleggarakan konferensi bertaraf internasional pasca era kolonial. Sebanyak 29 pemimpin negara di Asia dan Afrika menghadiri konferensi tersebut. Acara diawali dengan upacara pembukaan tanggal 18 April 1955 yang dilaksanakan di Gedung Merdeka. Para pemimpin negara berjalan kaki secara berkelompok dari hotel Homann dan hotel Preanger menuju lokasi acara di sambut meriah ribuan rakyat yang berderet disepanjang jalan Asia – Afrika, peristiwa ini kemudian dikenal dengan istilah The Bandung Walks / Historical Walks.

Gedung Merdeka, Bandung Tahun 2012

Gedung Merdeka, Bandung Tahun 2012

Setelah melalui beberapa sidang kemudian disepakati sebuah komunike bersama sebagai keputusan konferensi pada tanggal 24 April 1955 yang dikenal dengan Dasa Sila Bandung yang intinya mengenai prinsip-prinsip dasar dalam usaha memajukan perdamaian dan kerja sama dunia. Konferensi ini kemudian mengilhami terbentuknya Gerakan Non Blok pada tahun 1961.

Gedung yang digunakan sebagai museum Konferensi Asia Afrika sebenarnya berbeda dengan gedung Merdeka yang merupakan tempat berlangsungnya konferensi. Karena letaknya bersebelahan kemudian kedua gedung ini dihubungkan dengan sebuah koridor sehingga menjadi saling menyatu. Gedung yang digunakan sebagai museum Konferensi Asia Afrika dibangun pada tahun 1940 oleh Arsitek A.F. Aalbers sedangkan gedung Merdeka pada awalnya bernama Societiet Concordia yang dibangun pada tahun 1895 oleh 2 orang arsitek Belanda Van Galenlast dan C.O. Wolf Shoomaker.

Museum Konperensi Asia Afrika

Museum Konperensi Asia Afrika

Pendirian Museum KAA merupakan gagasan dan prakarsa Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmaja, SH.,LL.M. Sebagai Menlu RI (1978-1988). Gagasan tersebut di dukung penuh oleh Presiden Soeharto hingga kemudian dapat terwujud dan diresmikan pada 24 April 1980 saat puncak HUT 25 Konferensi Asia-Afrika. Ruangan museum ini di bagi menjadi beberapa bagian, diantaranya terdapat Ruang Pameran Tetap, Ruang Pameran Tidak Tetap, Ruang Audio Visual, Perpustakaan dan Ruangan Gedung Merdeka tempat berlangsungnya Konferensi.

Di dalam Ruang Pameran Tetap dipamerkan foto-foto dan berbagai artikel yang berkaitan dengan Konferensi, mulai dari pertemuan – pertemuan pendahuluan hingga puncak Konferensi. Display Foto – foto tersebut ditata dengan apik dipadukan dengan tata lampu yang cantik sehingga terlihat megah.

Di dalam Ruang Pameran Tidak Tetap kita akan memperoleh informasi mengenai profil negara – negara Asia – Afrika. Di pamerkan pula berbagai barang antik yang di gunakan saat itu seperti telepon, mesin tik, kursi rotan dan lain-lain. Uniknya, telepon kuno yang dipajang bisa kita angkat dan kita bisa mendengarkan replika percakapan telepon dari Presiden Yugoslavia Joseph Broz Tito dengan Presiden Soekarno.

Interior Museum Konferensi Asia Afrika

Interior Museum Konferensi Asia Afrika

 

Ruang Audio Visual dibuat pada tahun 1985 atas prakarsa Abdullah Kamil. Di ruangan audio visual ini pengunjung bisa menyaksikan film dokumenter mengenai Konferensi Asia Afrika. Atas prakarsa beliau pulalah kemudian di buat perpustakaan di salah satu ruangan museum. Perpustakaan ini memiliki koleksi buku mengenai sejarah, sosial, politik, dan budaya negara-negara Asia Afrika.

Ruangan utama tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika juga bisa kita kunjungi. Di dalam ruangan megah yang merupakan ruangan utama gedung Merdeka tersebut kita bisa melihat bendera negara – negara Asia Afrika berderet dibelakang podium. Di sisi kanan podium terdapat Gong Perdamaian yang dibuat untuk memperingati 50 tahun Konferensi Asia Afrika tahun 2005 lalu.

Sekali lagi kita patut berbangga, keberadaan museum Konferensi Asia Afrika ini menjadi saksi keberhasilan politik luar negeri Indonesia. Sebagai pemrakarsa dan tuan rumah konferensi, prestise Indonesia meningkat dan mulai diperhitungkan dalam kancah Internasional. Meskipun saat itu baru beberapa tahun kita merdeka, namun telah mampu menyelenggarakan event internasional yang menghasilkan sebuah kesepakatan yang menjadi acuan politik dan masa depan bangsa – bangsa di Asia dan Afrika. Hingga kini “Semangat Bandung” masih menjadi inspirasi bagi bangsa – bangsa di dunia.