Koperasi di Subang yang Anggotanya 100% Wanita Ini Berhasil Memberantas Rentenir

Pengurus Koperasi Mekar Saluyu

Pengurus Koperasi Mekar Saluyu

ULET dan pantang menyerah menjadi kunci keberhasilan dari Koperasi Wanita (Kopwan) Mekar Saluyu, Kampung Cihuni Desa Jambelaer, Kecamatan Dawuan Kabupaten Subang. Koperasi yang anggotanya 100 persen wanita dan dikelola oleh para ibu rumah tangga ini mampu bertahan ditengah gempuran perbankan, yang kini berlomba-lomba membiayai UMKM maupun para rentenir, yang rela masuk ke pelosok mencari korban yang kebanyakan kaum ibu.

Meski lokasi berada ditengah-tengah hutan karet dan jalan berlubang serta berlumpur ketika hujan, Kopwan Mekar Saluyu mampu  membantu perekonomian masyarakat di wilayah Jambelaer dan sekitar kecamatan Dawuan. Kehidupan berkoperasi di wilayah Desa Jambelaer telah mengakar jauh sebelum dibentuknya Kopwan Mekar Saluyu. Sejak tahun 1986 kehidupan berkoperasi dirintis melalui perkumpulan ibu-ibu pengajian di kampung Cihuni yang dipelopori Hj Een Kurniati dengan anggota 20 orang, modal awal Rp 20.000,-.

Setelah berjalan 2 (dua) tahun, perkumpulan ini pada tahun 1988 diberi nama PERINI (Persatuan ibu-ibu Cihuni) dan melakukan kegiatan usaha simpan pinjam dengan jumlah anggota menjadi 200 orang dengan modal usaha Rp 200.000,-. Guna meningkatkan pengalaman dan keterampilan di bidang manajemen dan keuangan, PERINI menjalin kerjasama dengan KUD Wahana Mukti Kecamatan Kalijati Kabupaten Subang.

Hampir setahun PERINI dibina KUD Wahana Mukti, pada tahun 1989 PERINI berganti nama menjadi Kelompok Wanita Mekar Saluyu beranggotakan 400 orang dengan simpanan pokok Rp 3.000,- dan Simpanan Wajib Rp 6.000,-. Dalam perjalanannya Kelompok Wanita ini berkembang dengan pesat dan menarik perhatian ILO (International Labour Organization/Organisasi Buruh Dunia) untuk melakukan pembinaan. Mulai 1992-1993, ILO memberikan pendidikan dan pelatihan bagi anggota dan pengurus Kelompok Wanita Mekar Saluyu.

Pada 3 September 1998, Kelompok ini statusnya menjadi Koperasi Wanita Mekar Saluyu dengan Badan Hukum No 10/BH/ KDK.1011/IX/ 1998 Tanggal 3 September 1998. Tahun 2000 Kopwan Mekar Saluyu mendapatkan pinjaman modal kerja dari pemerintah melalui Program Subsidi BBM sebesar Rp 100 juta yang masa pengembalian 10 tahun. Namun, pada 2008 dana tersebut sudah dikembalikan oleh Kopwan.  Hingga saat ini Kopwan Mekar Saluyu tidak menggunakan modal dari luar.

Menurut Een, Ketua Kopwan Mekar Saluyu, membangun koperasi butuh keseriusan dan keikhlasan. Selain itu, pantang menyerah dan mengelola koperasi secara profesional menjadi kunci keberhasilan Kopwan Mekar Saluyu.  “Lokasi kopwan ini jauh dari kota. Mau ke sini harus melewati hutan karet dan jalan yang rusak. Alhamdulilah, koperasi ini sudah mendapatkan berbagai penghargaan baik tingkat nasional, provinsi maupun kabupaten/ kota. Kita sering dikunjungi dari berbagai daerah untuk studi banding tentang koperasi. Prinsip kami kejujuran dan taat membayar hutang menjadikan kopwan kami banyak mendapatkan tawaran mendapatkan kredit. Namun kami menolak dan lebih senang menggunakan modal sendiri,” katanya.

Kopwan Mekar Saluyu telah berhasil membangun kantor sendiri dengan menghabiskan dana Rp 125 juta dan membangun masjid Rp 95 juta. Unit usaha yang dikelola kopwan ini antara lain Unit Simpan Pinjam, Unit Usaha Saprotan/ KUT, unit usaha angkutan dan unit usaha listrik. Berdasarkan RAT tahun buku 2012 jumlah anggota Kopwan Mekar Saluyu sebanyak 1.971 orang semuanya wanita. Simpanan mencapai Rp 2,02 miliar, volume usaha Rp 7,7 miliar, aset Rp 7,3 miliar, Sisa Hasil Usaha Rp 157,8 juta. Untuk volume usaha Rp 7,7 miliar berasal dari pusat Rp 1,75 miliar, simpan pinjam Rp 4,7 miliar, BBM Rp 613,5 juta, LED Rp 432,9 juta dan Bansos Rp 251,5 miliar.

Een mengatakan, keberadaan Kopwan berhasil menghapuskan praktek rentenir di wilayah Jambelaer, Curug Agung, Cisampih dan Margasari.  “Renternir tidak mau masuk ke-4 desa ini, yang nota bene wilayah kerja kita. Masyarakat disini lebih senang menjadi anggota koperasi dan meminjam di koperasi karena bunganya 1,6%/ bulan menurun. Coba bandingkan dengan renternir yang mencapai 20%/ bulan,” paparnya.

Kerja ikhlas dan menolong masyarakat serta mengetengahkan prinsip-prinsip koperasi, menjadi bagian dari keberhasilan Kopwan Mekar Saluyu dalam usahanya.  Selain itu, RAT tepat waktu yakni Bulan Januari, jadi bagian dari kewajiban pengurus untuk melaporkan hasil kerjanya kepada anggota. Lewat RAT inilah partisipasi aktif anggota sangat diharapkan demi kemajuan koperasi.

“Masyarakat disini tidak begitu mengandalkan bank. Mereka lebih mengenal koperasi dibanding bank. Selain persyaratan mudah, pelayanan cepat menjadikan koperasi pilihan masyarakat Jambelaer dan desa sekitarnya. Alhamdulilah anggota kita kaum ibu yang kebanyakan pelaku UMKM. Jadi mereka meminjam untuk meningkatkan kegiatan usaha,” katanya.

Berbagai perhargaan telah diraih Kopwan Mekar Saluyu,  tahun 2001, 2003, 2007, 2008 penghargaan Bupati Subang sebagai koperasi terbaik.  Tahun 2010 penghargaan Bupati Subang sebagai Koperasi Berprestasi. Tahun 2003 dan 2006, 2012 penghargaan Gubernur Jabar sebagai koperasi terbaik dan berprestasi. Tahun 2003 dan 2004 penghargaan Meneg KUKM sebagai koperasi berprestasi. Tahun 2007 dan 2009 penghargaan Dekopinda Award sebagai koperasi terbaik dan berprestasi.

Sementara Kepala Dinas KUMKM Jawa Barat, H. Anton Gustoni pada kunjungan kerjanya ke Kopwan Mekar Saluyu, Senin (15/4/2013) mengaku, sangat senang dengan potensi yang dimiliki kopwan ini.  “Luar biasa, ini koperasi hebat. Anggotanya semua wanita, berkembang dengan begitu bagus. Ini bukti bahwa wanita hebat dan mampu menjadi penopang dan membantu suami dalam meningkatkan ekonomi keluarga,” katanya.

Koperasi wanita di Jawa Barat banyak yang berkembang dengan baik. Hal ini disebabkan, usaha yang dikelola kaum wanita cenderung maju karena wanita lebih ulet dan pantang menyerah. Untuk itu, kopwan di Jawa Barat perlu ditumbuhkembangkan dan diberdayakan secara maksimal sehingga mampu menjadi soko guru perekonomian regional maupun nasional.

Sumber : jabarcyberkoperasi.com