Sisingaan

The Sisingaan (lion dance) is a mass event in colossal cultural ceremonies. A lion sculpture, originating in Subang, is carried around by four to six men, accompanied merrily by the musical drums of Pencak Silat. Dashing gestures and colorful clothing allow the dancers to impart an impression of courage and heroism.

It’s a kind of very famous traditional not only in West Java or Indonesia but however internationally, the Dance festival is held and followed by the groups of the art coming from all sub districts in Subang Regency.

With every performance, the Sisingaan hopes to spread knowledge and appreciation of West Javanese dance and to continue its practice among new generations. (wstjv)

 

Sisingaan, odong-odong yang asli dari Subang

Beberapa kesenian tradisi menempatkan hewan singan sebagai tokoh. Salah satunya adalah kesenian Sisingaan, khas Kabupaten Subang, Jawa Barat. Di salah satu sudut kampung, tepatnya di jalan raya yang tak terlalu padat lalu lintasnya, sejumlah anak, yang rata-rata balita tampak ceria. Mereka menaiki odong-odong, yakni semacam becak kayuh yang dirancang scdemikian rupa untuk mengangkut anak-anak putar putar kampung sambil mendengarkan alunan musik.

Di Jakarta, odong-odong dimodifikasi semenarik mungkin agar anak-anak yang menaikinya dapat duduk manis dan aman di atasnya. Ada yang memodifikasi dengan sepeda mini, boneka, dsb (sebagai pengganti tempat duduk), ada pula yang sengaja mendesign dengan nuansa etnik, atau bahkan ala kadarnya. Setiap anak yang tertarik menaikinya dikenakan tarif sekitar Rp. 1.000-1.500,- per satu lagu. Selama lagu diputar, anak-anak diajak berkeliling kampung sekitar rumah.Rata-rata tiap anak bisa mengorder 3-5 lagu. Tak sedikit pula yang lebih. Dari menjual jasa inilah si abang penarik odong-odong mengais rejeki.

Entah bagaimana, rata-rata penarik odong-odong berasal dari kawasan Pantura-Jawa Barat. Notabene, dari kawasan inilah permainan tradisional Odong-odong alias Gotong Singa alias Sisingaan berasal. Kalau ingin menyaksikan odong-odong yang ‘asli’ yakni Sisingaan (bukan mainan anak seperti banyak terdapat di Jakarta), sisakan saja waktu anda sekitar bulan Agustus. Sebab biasanya beragam kesenian pertunjukan tradisional, acap dipertontonkan di hadapan massa. Tak hanya di Kabupaten Subang khususnya, maupun Jawa Barat umumnya. Bahkan di Ibukota Negara (Jakarta), Sisingaan kerap dipertunjukkan dari tahun ke tahun, mulai dari tingkat komunitas kampung sampai Istana Presiden.

Konon dikisahkan, kesenian Sisingaan terkait erat dengan salah satu bentuk perlawanan rakyat terhadap penjajah. Perlawanan tersebut diwujudkan melalui binatang Singa kembar. Dua singa yang ditandu digambarkan sebagai lambang penjajah, sementara pengusungnya, dilambangkan sebagai rakyat yang terjajah. Singa sendiri adalah lambang negara Inggris. Sementara dalam Sisingaan, boneka singa dinaiki anak kecil, dimaksudkan untuk memperolok penjajah (Inggris) yang datang ke Indonesia dengan membonceng tentara Belanda.

Seperti diketahui, tahun 1942 perang dunia kedua tak hanya melanda negara-negara besar. Bahkan Nusantara pun kena getahnya. Di sebuah lapangan terbang militer yang terletak di Kalijati (terdapat di selatan Subang) berlangsung sebuah perjanjian yang membawa bangsa Indonesia menjadi jajahan Jepang sebelum akhirnya berhasil memproklamasikan diri sehagai sebuah negara yang merdeka. Tampaknya hal ini sangat menginspirasi tetua setempat hingga muncullah kesenian Sisingaan.

Lepas dari bentuk perlawanan tersebut, dalam perkembangannya, ada yang menyebut Sisingaan sebagai penolak bala, ada pula yang sebatas ditampilkan untuk menyemarakkan arak-arakan (yang dalam istilah Sunda disebut helaran). Bahkan bagi sebagian masyarakat Sunda, menampilkan kesenian Sisingaan dalam hajatan sunat anak laki-laki mereka adalah sebuah kebanggaan.Kondisi geografis acap mempengaruhi bentuk kesenian di berbagai belahan dunia. Demikian pula Sisingaan.

Di Kabupaten Subang Jawa Barat misalnya, terdapat 3 macam wilayah, Subang atas (pegunungan), Subang dataran, dan Subang pesisir. Masing-masing wilayah memiliki kebudayaan tersendiri yang mau tidak mau memengaruhi perkembangan kesenian Sisingaan. Perkembangan secara keseluruhan pun terbilang signifikan. Dari bentuk boneka singa kembar yang sangat sederhana, menjadi singa-singa yang tampak gagah lagi menarik. Kostum para pengusung singa kembar pun tak mau kalah, dari yang tampak ala kadarnya sampai penuh warna dan kadang kontras menyolok mata.

Seolah ingin menunjukkan ‘inilah kami’. Demikian pula dengan pola gerak, alat musik pengiring, lagu-lagu yang rata-rata sedang populer di masyarakat dengan aransemen khas Sisingaan, sampai penambahan penari latar yang rata-rata perempuan. Pada dasarnya Sisingaan terdiri dari tetabuhan berbagi instrumen musik tradisional yang rancak, dipadukan dengan sejumlah gerakan yang terdiri dari Pasang (Kuda-kuda), Bangkaret, Masang (Ancang-ancang), Gugulingan, Sepakan Dua, Langkah Mundur, Kael, Mincid, Ewag, Jeblag, Putar Taktak, Gendong Singa, Nanggeuy Singa, Angkat Jungjung, Ngolecer, Lambang, Pasagi Tilu, Melak Cau, Nincak Rancatan, dan Kakapalan.Alat musik yang digunakan antara lain Kendang Indung (2 buah), Kulanter, Bonang (ketuk), Tarompet, Goong, Kempul, dan Kecrek yang dimainkan sambil berdiri atau berjalan, dengan alat musik yang diikat ke tubuh.

Lagu-lagu dalam Sisingaan diambil dari lagu-lagu kesenian Ketuk Tilu, Doger, dan Kliningan. Maraknya grup kesenian Sisingaan membuat tiap kelompok seolah ingin tampil special dan menjadi kelompok paling digemari. Meski masih banyak pula yang setia pada pakemnya. Dengan jumlah ratusan grup yang tersebar di berbagai pelosok, Pemkab Subang tergolong rajin menggelar festival setiap bulan April, dimana hari jadi kabupaten ini diperingati. Daerah-daerah lain di Jawa Barat yang turut menyokong pertumbuhan kelompok Sisingaan antara lain Sumedang, Kabupaten Bandung, Purwakarta, dan Majalengka.

Untuk menyaksikan kesenian Odong-odong yang asli (Sisingaan), Anda bisa ke pusat Kota Subang, Jawa Barat, tiap bulan April (Hari Jadi Kota Subang – red) atau Agustus ada gelaran festival Sisingaan. Dengan mobil sendiri dari Jakarta, melewati Kecamatan Pamanukan (di simpang empat belok kanan), atau via jalur Purwakarta lewat tol Cikampek ke arah Sadang. Jika menggunakan kendaraan umum dari Terminal Kampung Rambutan, tersedia bus AC/Non AC. Tarif sekitar Rp 20.000. bisa pula menyaksikan berbagai festival/karnaval seni setiap bulan Agustus, seperti di Jakarta ataupun Bandung.