Gadis Cantik Pemain Kendang, Inspirasi Untuk Remaja Subang

KOTASUBANG.com, Bandung – Wajahnya ayu. Kebaya warna coklat tampak serasi membalut tubuh mungilnya. Dengan semangat ia menaiki panggung di gedung kesenian SMKN 10 Bandung (dulu SMKI). Rabu (25/2/2015) kemarin, ia harus menjalani Uji Kompetensi dengan memberikan penampilan terbaiknya di bidang Karawitan yang ia pelajari selama 3 tahun bersekolah di sana. Uji kompetensi itu dikemas dalam sebuah pertunjukkan seni yang sesungguhnya. Ratusan tamu undangan dan para penikmat seni tampak hadir menyaksikan acara tersebut.

“Peserta no 809, Julaeha dengan bidang keahlian kendang!”, kata pembawa acara memperkenalkan peserta kepada para hadirin.

Sontak saja, hal ini menarik perhatian. Bagaimana tidak, seorang wanita mungil yang cantik akan memainkan kendang yang biasanya dimainkan oleh laki-laki.

subang kendang wanita

May, senyumnya terus mengembang selama mengiringi pertunjukkan dengan kendangnya

Ya, namanya Julaeha atau biasa dipanggil May oleh kawan-kawannya. Gadis kelahiran Sumedang 18 Juni 1997 ini memang berbeda denganĀ  gadis lainnya. Di saat gadis-gadis seusianya keranjingan K-POP ia justru mendalami seni sunda, di saat wanita seusianya sedang hobi dandan ia justru mau belajar kendang yang sangat jauh dari hobi feminis dan lebih berkesan gahar karena biasanya hanya dimainkan oleh laki-laki.

Sebagian hadirin mengira, kendang yang akan dimainkan May seperti halnya dalam tarian rampak kendang yang biasa dibawakan para wanita. Ternyata lebih dari itu, ia memainkan kendang seperti halnya pemain kendang laki-laki lainnya. Dengan mudah ia berhasil mengiringi musik Kiliningan yang ditampilkan bersama kelompok seninya. Bahkan ia juga dengan lancar bisa mengiringi ketuk tilu yang musiknya lebih dinamis. Ditangannya, memainkan kendang seperti terlihat mudah, senyumnya terus mengembang dari wajah cantiknya selama penampilannya. Padahal, membutuhkan fisik yang kuat untuk bisa meminkan kendang apalagi dalam waktu yang tidak sebentar. Di setiap akhir penampilannya selalu diganjar tepuk tangan meriah dari para hadirin.

kendang wanita subang

May dengan mahir bisa mengiringi Ketuk Tilu, yang bahkan sulit bagi pemain kendang pria sekalipun

May mengaku sudah mulai memainkan kendang pada saat usianya masih belia, yaitu sejak duduk di bangku Sekolah Dasar.

“Saya belajar otodidak, dari alam, mungkin karena punya garis keturunan seniman,” ujar May kepada KOTASUBANG.com.

May mengungkapkan orantuanya mulai dari kakek buyut hingga ayahnya semuanya merupakan seniman. Kakek buyutnya seorang pemain rebab, kakeknya pemain reog, sementara ayahnya berkecimpung dalam berbagai kesenian dari mulai jaipongan, kuda renggong hingga reak.

Kecintaannya pada dunia seni kemudian membawanya ke SMKN 10 Bandung untuk memperdalam seni sunda. Di sekolah ini ia kemudian mendalami instrumen kendang. Sebuah alat musik yang tak lazim untuk seorang wanita.

“Ya justru itu, saya mengambil instrumen kendang karena sangat langka ada wanita yang bisa ngendang. Saya mau jadi wanita yang jago ngendang itu,” ujarnya.

Mengenai telapak tangannya yang kini menjadi kasar karena terlalu sering memainkan kendang, May mengaku tak memperdulikannya.

“Telapak tangan saya kini jadi sedikit kasar dan jari-jarinya mulai membesar, saya sih cuek aja, yang penting hobi saya tersalurkan,” ungkapnya polos.

Lulus dari SMKN 10 Bandung May berniat melanjutkan studinya di bidang kesenian. Pilihannya antara Universitas Pendidikan indonesia atau ke Sekolah Tinggi Seni Indonesia.

“Kalo di STSI Insya Allah saya akan lebih memperdalam memepelajari instrumen kendang,” pungkasnya.

Siswa lainnya yang mengikuti uji kompetensi adalah Robi Gunawan. Sama halnya dengan Juleha, remaja kelahiran 23 April 1997 ini juga mendalami kendang selama pendidikannya di Sekolah. Berawal dari ajakan teman-temannya bermain calung ketika dibangku SMP. Kemudian ia ketagihan mendalami seni sunda. Di saat teman-teman seusianya menyenangi perbengkelan di SMK, ia justru mendalami kendang dan bersekolah di jurusan kesenian.

“Saya pengen mengembangkan seni sunda, abis lulus dari SMK saya mau lanjut ke STSI dan nantinya mau jadi guru seni,” kata pria yang beberapa bulan lalu praktek kerja industri di Sanggar Seni Ringkang Nonoman Subang ini.

smkn 10 bandung subang

Ayang aprilianti, suaranya yang khas mampu menghipnotis penonton yang mendengar kawihnya

Selain Robi dan Juleha adapula Ayang Aprilianti, berbeda dengan keduanya Ayang menggeluti kawih sunda selama bersekolah. Berawal dari juara lomba pupuh ketika SMP, ia kemudian ingin memperdalam seni sunda, hingga masuk ke SMKN 10 Bandung dan mendalami karawitan terutama kawih sunda.

“Insya Alloh lulus dari sini nanti mau melanjutkan ke UPI atau STSI, cita-cita saya mau jadi seniman dan mau punya sanggarseni,” ungkap gadis kelahiran Pangalengan, 30 April 1997 ini.

Baik May, Robi maupun Ayang adalah contoh dari segelintir remaja yang lebih memilih mencintai dan turut serta melestarikan budaya negeri sendiri, hal ini harus menjadi inspirasi bagi remaja Subang.