Antara Tugu Pancoran Jakarta dan Wisma Karya Subang

KOTASUBANG.com, Subang – Siapa yang tak mengenal patung Pancoran di Jakarta, patung yang menggambarkan seorang pria tangguh menjejak bumi seakan hendak terbang ke angkasa. Patung tersebut oleh Bung Karno dinamakan patung Dirgantara, menggambarkan semangat keberanian bangsa Indonesia untuk menjelajah angkasa meskipun ketika itu belum bisa membuat pesawat terbang.

Salah satu miniatur patung pancoran tersebut kini menghiasi sebuah ruangan di gedung Wisma Karya Subang. Miniatur tersebut diberikan langsung oleh sang pencipta patung pancoran kepada pihak museum Subang dalam sebuah perjalanan kilas balik sejarah yang dilakukannya beberapa tahun lalu.

“Sekitar tahun 2007 lalu pencipta patung pancoran ini ke sini, kilas balik perjalanan hidupnya dan gedung ini menjadi salah satu saksi sejarah beliau,” ungkap Yusep Wahyudin, Kasi UPTD Museum Subang kepada KOTASUBANG.com.

Dialah Edhi Sunarso. Subang bagi sang pematung ini adalah sebuah kota dimana dirinya ditempa dan Wisma Karya, gedung peninggalan kolonial ini adalah saksi dimana sejarah pilu harus ia alami di salah satu ruangannya.

“Ketika itu beliau sempat menjadi tawanan perang dan ditahan di salah satu ruangan sangat sempit di Wisma Karya ini yang dijejali sekitar 30 orang tahanan. Katanya beliau bahkan harus menyaksikan dan merasakan siksaan di dalam ruangan tersebut,” ungkap Kadar Hendarsyah, Staff Museum Wisma Karya Subang.

Ya, Edhi Sunarso ternyata bukan seniman biasa, kisah hidupnya justru dimulai sebagai pejuang kemerdekaan bahkan pada usia yang sangat muda.

Lahir tanggal 2 Juli 1932 Edhi kecil diberi nama Sunarso oleh keluarga Holan Atmojo seorang kepala Mantri Ukur Pertanahan Belanda yang mengangkatnya sebagai anak dari ayah kandungnya, Somo Sardjono. Dengan jabatannya orang tua angkatnya itu, Soenarso berkesempatan masuk Vroobel School atau taman kanak-kanak di Gunungsari (kini Gunung Sahari, Jakarta) tahun 1939 dan berbagai fasilitas anak pejabat. Namun hal ini tak berlangsung lama, tragedi jatuhnya pesawat Belanda di Kemayoran menyebabkan kebakaran besar. Hal ini membuat dia terpisah dari keluarganya. Sunarso yang pada waktu itu berada di sekolah diungsikan oleh Hadiwidjaja yang merupakan guru di Vanlith School.

pancoran

Miniatur Patung Dirgantara

Lama dipengungsian, dia tak kunjung ditemukan keluarga angkatnya. Akhirnya, keluarga Hadiwidjaja membawa Sunarso ke Cikampek. Namun, baru seminggu di Cikampek bertepatan dengan rencana kedatangan Dai Nippon, Sunarso dibawa ke Pegaden Baru, Subang. Di Pagaden Sunarso mulai kembali bersekolah sambil terus mencari tahu keberadaan orang tuanya. Namun setelah bertahun-tahun ia tak kunjung bertemu dengan keluarganya.

Pada masa pendudukan Jepang kondisi ekonomi keluarga Hadiwidjaja benar-benar dalam kesulitan. Kondisi semakin tidak menentu ketika Hadiwidjaja meninggal sehingga Sunarso hanya tinggal dengan istri Hadiwidjaja, Romlah. Di tengah kondisi yang tak menentu inilah, Sunarso berkenalan dengan sejumlah pejuang pro republik yang kerap singgah di rumah Hadiwidjaja.  Di sana ia bertemu Komandan Soepriyatna yang kemudian memberikan tugas perjuangan untuk Sunarso. Dia bertugas mengantarkan surat ke pos-pos penjagaan pro republik dengan menyamar sebagai anak sekolah.

Tentara Belanda tak ada yang menyangka kalau dia adalah kurir surat pro republik karena penampilannya sebagai anak sekolah. Bahkan Sunarso kerap menumpang truk-truk Belanda untuk berkeliling ke desa-desa menyampaikan surat ke pos-pos pro republik tanpa dicurigai.

Namun suatu ketika ia mendengar kabar tewasnya Komandan Soepriyatna di Pamanukan akibat granatnya sendiri. Kala itu menurut kisah yang ia dengar, secara tidak sengaja granat dari saku Soepriyatna jatuh ketika hendak mengambil sapu tangan di kantongnya, lalu meledak. Kematian Soepriyatna ini kemudian dirahasiakan dari pihak Belanda. Ketika itu Sunarso yang masih berusia 14 tahun ditunjuk sebagai pengganti Soepriyatna. Bukan hanya menggantikan tugas, bahkan nama Sunarso pun harus diganti menjadi Soepriyatna sehingga Belanda tetap mengira Soepriyatna masih hidup. Sunarso harus mempimpin 23 orang lainnya dan melakukan gerakan sabotase di daerah-daerah.

Hingga suatu saat ia melakukan pencegatan patroli bersama dengan Mayor Soekirno di Cikuda, Kalijati. Saat itu salah seorang anggota Mayor Soekirno bernama Edi tertembak dan tewas di tempat. Edi adalah salah satu pejuang yang pemberani. Usianya ketika itu masih 17 tahun, namun dia selalu berdiri di garis terdepan dan melakukan penyerangan terhadap musuh. Tewasnya Edi membuat Mayor Soekirno terpukul, pasalnya Edi adalah salah satu dari anggotanya yang paling ditakuti oleh NICA dan tak lain keponakan Mayor Soekirno. Karean kecintaannya, Mayor Soekirno kemudian memberikan nama Edi pada Soenarso. Mulai saat itulah Sunarso dikenal dengan nama Edhi Sunarso .

Tapi nahas, saat melakukan perjalanan pulang dari Cikuda, NICA meyergap Edhi Sunarso dan kawan-kawan. Edhi terpaksa menyerah karena sebagian dari anggotanya telah terlebih dahulu tertangkap oleh NICA saat melewati perkampungan yang dibakar oleh NICA. Sejak saat itulah Edhi Sunarso mulai merasakan pedihnya siksaan sebagai tawanan dan berpindah-pindah dari tahanan ke tahanan. Salah satu tempat dimana ia ditahan adalah sebuah ruangan sempit di gedung Wisma Karya (Societiet), Subang. Ia kemudian dipindah ke penjara Kebon Waru, Bandung. (baca juga : Museum Wisma Karya )

Wisma Karya tahun 2012

Wisma Karya tahun 2012

Pada Juli 1949, menjelang usia 17 tahun Edhi dibebaskan. Kemudian ia melakukan perjalanan ke Yogyakarta. Di sana kemudian ia melapor ke kantor KUDP (Kantor Urusan Demobilisasi Pejuang) agar terdaftar sebagai pejuang RI.

Kemudian ia mulai memasuki fase sebagai seniman, setelah diajak oleh pengajar ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) bernama Hendra Gunawan dan atas bantuan Hendra Gunawan, Affandi, dan Katamsi, Edhi yang tak memiliki ijazah apapun diterima sebagai siswa “istimewa” di ASRI. Pada tahun 1953 Edhi Sunarso mengikuti kompetisi patung Internasional di London. Ketika itu karyanya yang berjudul “The Unknown Political Prisoner” meraih posisi kedua dari 117 negara yang ikut serta. Hal ini kemudia di ketahui oleh presiden Soekarno.

Tahun 1958, menjelang pelaksanaan Asian Games IV di Jakarta yang akan diselenggarakan pada tahun 1962, Bung Karno memanggil Edhi ke Jakarta dan memintanya mengerjakan patung Selamat Datang. Kemudian pada tahun 1962 Edhi Sunarso dipercaya kembali membuat patung Pembebasan Irian Barat di lapangan Banteng. Dan pada tahun 1964 Edhi ditugaskan bung Karno membuat patung Dirgantara atau yang dikenal dengan patung Pancoran.
Pengerjaan patung Dirgantara sempat mengalami keterlambatan karena peristiwa Gerakan 30 September PKI pada tahun 1965 yang berujung pergantian pemerintahan. Konon pengerjaan patung tersebut menghabiskan biaya Rp. 12 juta (nominal ketika itu). Biaya awal pembuatan patung itu ditanggung oleh Edhi Sunarso. Bung Karno juga menjual mobil pribadinya seharga Rp. 1.750.000  untuk biaya pengangkutan patung dari Yograkarta ke Jakarta. Pemerintah sendiri ketika itu baru membayar 5 juta rupiah kepada Edhi. Konon hingga saat ini sisanya belum pernah terbayar. (kotasubang/academia.edu)