Cinta Indonesia, Bule Ini Kunjungi Museum Subang

KOTASUBANG.com, Subang – Adalah lumrah bagi orang asing, khususnya orang Eropa untuk mengunjungi museum ketika ia berkunjung ke suatu daerah atau negara. Itu pula yang dilakukan oleh Jeany (29), warga negara Inggris yang tengah berlibur di Subang. Tempat pertama yang ia kunjungi adalah museum Wisma Karya. Sebelumya ia juga pernah menunjungi beberapa museum di Jakarta, Surabaya, Makassar dan Manado. (baca juga : Inilah 3 Museum yang Wajib Dikunjungi di Subang )

“Barang-barang (koleksi museum) di sini bagus-bagus,” ujar Jeany sambil mengamati berbagai artefak yang ada di museum Wisma Karya, Selasa siang (30/12/2014).

Ia sangat tertarik ketika melihat koleksi senjata kuno yang dipajang di sana. Ia tampak  mengamati, kemudian memotret koleksi senjata itu.

“Saya senang sejarah Indonesia, makanya saya tertarik ketika melihat koleksi pistol kuno di sana. Saya jadi bisa membayangkan dari apa yang saya baca di  buku, mengenai bagaimana kekejaman kolonial menggunakan senjata itu dulu,” katanya.

Menurut Jeany di negaranya, sejarah kolonialisme Inggris dianggap sejarah kelam, sehingga tidak terlalu banyak diungkap dan dipelajari, bahkan peninggalannya tidak banyak disimpan di museum Inggris.

Turis asal Australia tampak sedang memotret koleksi museum Wisma Karya, Subang (30/12/2014)

Turis asal Australia tampak sedang memotret koleksi museum Wisma Karya, Subang (30/12/2014)

“Kalo di Inggris sejarahnya melulu tentang pergantian raja-raja saja, kadang suka bikin bingung, nama-nama raja Inggris kan banyak yang sama,” ujarnya sambil tersenyum.

Kini ia lagi senang mempelajari sejarah revolusi di Indonesia. Menurutnya itu berawal dari buku-buku Pramoedya Ananta Toer yang ia baca di Australia tempat ia menetap sekarang. Di sana, selain berkuliah jurusan Bahasa dan Sastra indonesia, ia juga mengajar Bahasa Indonesia kepada anak-anak SD hingga SMA di sana.

Jeany juga mengamati bejana perunggu yang menjadi salah satu koleksi utama museum Wisma Karya.

“Apa ini ? bentuknya aneh,” tanya Jeany. Kemudian petugas museum menerangkan bahwa artefak tersebut berasal dari zaman perunggu ribuan tahun yang lalu.

“Jadi ribuan tahun yang lalu di Subang sudah ada peradaban,” kata petugas Museum. Jeany mengangguk kagum.

Namun tiba-tiba Jeany bertanya kepada petugas mengenai cara perawatan artefak yang ada di museum tersebut.

“Apakah ada perawatan khusus untuk benda-benda museum ini?,” tanya Jeany sambil memperhatikan etalse museum yang mulai keropos dimakan rayap.

 Sadar melihat kondisi museum yang kurang representatif, petugas museum kemudian tersenyum.

“Harusnya sih ada perawatan khusus, ke depan kita akan upayakan untuk membuatnya lebih representatif,” jawab petugas museum Wisma Karya.

Ketika ditanya mengenai kenapa ia tertarik mempelajari bahasa dan sastra Indonesia, ia hanya menjawab singkat.

“Saya sudah terlanjur cinta Indonesia,” jawabnya singkat. (baca juga : Menelusuri Jejak Sejarah di Museum Daerah Subang )