Energi Perubahan dari Blanakan

“Ayo Tanam Pohon, BUKAN Plastik ……!”

KOTASUBANG.com, Blanakan – Perubahan ke arah yang lebih baik merupakan cita-cita dan impian bagi semua orang. Temasuk sekolah-sekolah di Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang yang memimpikan kondisi lingkungan yang lebih baik. Peran sekolah sebagai institusi pendidikan sangat berpeluang untuk menciptakan agen-agen perubahan lingkungan.

Kecamatan Blanakan merupakan salah satu kecamatan yang secara teritorial merupakan ujung dari Kabupaten Subang dan perbatasan langsung dengan Kabupaten Karawang. Posisi strategis Blanakan yang diapit oleh laut dan darat membuat sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani. Sayangnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah, terutama sampah plastik sangatlah rendah. Sampah plastik terus-menerus dihasilkan oleh masyarakat setiap harinya namun tidak diikuti kesadaran bagaimana cara menanggulanginya. Alhasil sampah plastik berserakan bahkan tertanam di sawah dan di sungai. Fenomena seperti ini jika terus dibiarkan tentunya mengancam produktivitas lahan, kenekaragaman hayati di tanah, sungai dan laut, mengingat plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk dapat terurai.

01.e.Aksi-Pungut-Sampah-dan-Kampanye-Lingkungan

Aksi lingkungan dan lokakarya bertema “Ayo Tanam Pohon BUKAN Plastik (Let’s Plant Tree NOT Plastic)” menjadi bagian yang sangat penting dalam upaya menyadarkan masyarakat terhadap isu sampah plastik. Kegiatan yang diinisiasi oleh SDN Cilamaya Girang, SDN Bojongsari, Forum Komunikasi Hutan Pendidikan Iklim Blanakan dan DeTara Foundation dan didukung oleh PT. PHE-ONWJ, sejalan dengan upaya para pihak di Kecamatan Blanakan untuk membangunan Hutan Pendidikan Iklim Blanakan (HPIB) yang diinisiasi sejak tahun 2011. Konsep HPIB yang dikembangkan dengan konsep upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim ditingkat komunitas khususnya di Cilamaya Girang menjadi titik masuk untuk mendorong terjadinya perbaikan dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik.

Camat Blanakan, Nano, menyambut baik kegiatan yang diadakan di wilayah kerjanya ini.

“Aksi lingkungan ini merupakan kegiatan bertema lingkungan pertama di Kecamatan Blanakan. Saya berharap kegiatan seperti bisa dilakukan juga di daerah lain yang juga punya permasalahan sampah dan permasalahan lingkungan lainnya”. ujarnya.

03.Minikob-Mini-Bioskop

Berbagai rangkaian kegiatan diselenggarakan di dua lokasi, yaitu SDN Cilamaya Girang dan di lokasi HPIB, melibatkan lebih dari 500 peserta. Sebanyak melibatkan 338 siswa dan 37 guru dari 13 sekolah tingkat SD, SMP dan SMA/SMK dan 138 orang tua murid SDN Cilamaya Girang dan masyarakat berpartisipasi dalam ragam kegiatan melalui lomba maupun aksi lingkungan dan peningkatan pemahaman. Lomba mewarnai bertema bahaya sampah plastik diikuti siswa kelas 1 dan 2, lomba menggambar lingkungan diikutisiswa kelas 3sekolah dasar, sementara aksi pungut sampah di sekolah dan lingkungan kampung sekitar sekolah dilakukan siswa kelas 4, 5 dan 6, hampir 10 karung besar sampah anorganik yang berhasil dikumpulkan dan dipilah serta dipilih yang masih memiliki nilai ekonomi untuk di daur ulang.

Kegiatan lainnya dilakukan untuk siswa kelas 1, kelas 2 serta orangtua siswa adalah Minikop-Mini Bioskop yaitu acara putar film lingkungan dalam rangka memperkenalkan topik dan permasalahan lingkungan yang sebetulnya banyak bermula dari diri sendiri, salah satunya sampah plastik yang banyak tersebar di wilayah Cilamaya Girang. Sementara kegiatan untuk orang tua murid dan masyarakat sekitar, pengenalan konsep KuGuLang (Kurangi-Gunakan Kembali-dan Daur Ulang) disampaikan oleh salah satu guru dan relawan DeTara. Kegiatan untuk mengakomodir kreativitas siswa, diisi dengan pentas seni tari, lagu, yel-yel dari siswa sekolah dasar.

6.a.Lomba-Melukis-Tong-Sampah-1

Bagi siswa sekolah menengah pertama dan atas atau kejuruan, kegiatan utama ditempatkan di lokasi Hutan Pendidikan Iklim Blanakan, kawasan seluas 2.5 Ha tersebut saat ini tengah dibangun untuk lebih dikembangkan menjadi pusat pembelajaran tentang lingkungan khususnya terkait permasalahan perubahan iklim. Waktu sekitar setengah hari dimanfaatkan untuk memberikan penjelasan terkait manfaat dan rencana pengembangan Hutan Pendidikan Iklim, melalui diskusi interaktif secara singkat, aksi langsung tanam jenis-jenis pohon, lomba yel-yel dan melukis tong sampah untuk mendorong kreativitas tentang lingkungan para pelajar. Hampir 50 peserta yang terdiri dari guru, siswa dan wakil masyarakat telah turut menanam 40 jenis tanaman lokal Jawa Barat pada kegiatan hari ini.

Sementara kondisi hutan Pendidikan Iklim saat ini luasan yang sudah mulai ditanami sekitar 9000m2 dengan sistem tanam gundukan bukan dibuat lubang tanam mengingat kondisi alam di lokasi dimana cukup sering terjadi banjir ROB dan jenis tanah yang banyak mengandung tanah liat.

Sejauh ini di HPIB telah tertanam 50 jenis flora Indonesia, antara lain: Akasia fisula, Alkesa, Bungur, Buni kraton, Cemara laut, Cendana jawa, Damar, Dukuh, Duren, Duwet, Gaharu, Huni/Buni, Jakaranda, Jambu laut, Kantil, Keben, Kemang, Kemiri, Ketapang,Ki acret, Kupa/Gowok, Mangga (9 jenis mangga: indramayu, arumanis, gedong gincu, arumanis, golek, apel, gajah, pari, kelapa). Penanaman dilakukan juga di sekolah SDN Cilamaya Girang dan SDN Bojongsari serta perkampungan masyarakat sebanyak 20 pohon.

Kegiatan setengah hari ini, selanjutnya ditutup dengan penulisan harapan dari para siswa untuk penataan dan pengelolaan hutan pendidikan Iklim ke depan, antara lain : Semangat terus untuk menjaga lingkungan, pilah sampah, tanam pohon dll.

05.b.Kegiatan-di-Hutan-Pendidikan-Iklim-Penanaman

Perwakilan PT. PHE-PNWJ, Daryoko (CSR-PHEONWJ) mengungkapkan apa yang dilakukan di Blanakan juga bisa dilakukan di daerah lain.

“Anak-anak dapat menjadi teladan untuk menjaga lingkungan, dan tema hari ini bahwa kita harus Tanam Pohon Bukan Plastik dapat diterapkan di Cilamaya Girang”

Hal senada juga di ungkapkan oleh Komite Pemberdayaan Masyarakat Blanakan, Ade. Menurutnya anak-anak harus diajarkan kecintaan terhadap lingkungan sejak dini.

Camat Blanakan juga menyampaikan kebanggaannya atas dibangunnya hutan Pendidikan Iklim di Blanakan.

“Alhamdulillah, Hutan Pendidikan Iklim Blanakan yang dulu hanya mimpi sekarang sudah mulai terwujud, ditangan kalian siswa-siswa yang akan terus mengembangkannya.” katanya.

Sementara Bapak Helmi Purnama (HSE-PHW ONWJ) mengungkapkan Hutan Pendidikan Iklim dapat menjadi media belajar bagi sekolah, masyarakat baik di Blanakan maupun kecamatan dan Kabupaten lain.

Menurut Bapak Sanusi, salah satu guru SDN Cilamaya Girang, kegiatan ini sangat bagus untuk membentuk karakter siswa agar mencintai lingkungan.

“Acara ini sangat bagus untuk membentuk pemahaman siswa-siswi terhadap permasalahan lingkungan”. katanya.

Wildan Novebiyatno yang merupakan perwakilan Relawan DeTara Foundation, putra asli daerah Subang berpendapat, kegiatan ini dapat dijadikan momentum untuk merehabilitasi lingkungan di seluruh pelosok Subang.

“Kegiatan ini merupakan gerbang awal perubahan di Kecamatan Blanakan “Kegiatan ini merupakan merupakan energi positif bagi anak muda di Kabupaten Subang. Kegiatan pro-lingkungan seperti ini masih sangat jarang di Kabupaten Subang, kami berharap kegiatan ini merupakan langkah awal kami mengajak anak muda di Kabupaten Subang sebagai relawan untuk melalukan banyak perubahan berawal dari tempat terdekat”. paparnya.

Nara Hubung:

Ika Satyasari (0813 169 20258)
M. Baidowi (0857 4201 6101)
DeTara Foundation
Jl. Panorama No. 8, RT. 05/RW.05
Sindangbarang Jero, BOGOR 16117, INDONESIA
Email: fdetara@gmail.com

Berita Terkait: