Belajar Dari MaTA, Desa Akan Maju

Koordinator MaTA H. Ade Mulyana, Ketua DPRD Subang Ir Beni Rudiono dan Anggota DPD RI Aceng Fikri pada Dialog Publik di Desa Cidadap. Pagaden Barat (14/12/214)

KOTASUBANG.com, Pagaden Barat – Ada pemandangan berbeda di desa Cidadap, Pagaden Minggu malam kemarin (13/12/2014), ratusan warga menyemut di depan sebuah panggung yang biasanya digunakan untuk hiburan hajatan warga. Tapi kali ini warga tidak sedang menyaksikan organ tunggal atau hiburan hajatan lainnya, justru mereka mengikuti sebuah acara dialog atau diskusi “serius” dengan anggota DPD RI dan Ketua DPRD Subang. Acara dialog yang biasanya digelar oleh para aktivis di gedung-gedung atau hotel ini, justru diadakan di kampung. Sangat jarang atau mungkin baru pertama kali di Subang yang sengaja mengadakan acara seperti ini kecuali acara seremonial ketika ada kunjungan pejabat.

Adalah Masyarakat Tranparansi Anggaran (MaTA), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berkantor pusat di Desa Cidadap, Kecamatan Pagaden Barat yang sengaja mengadakan acara dialog publik ini dalam rangka memperingati miladnya yang ke-2. Acara yang di gagas MaTA ini mengajak masyarakat untuk lebih kritis mengenai kondisi daerahnya terkait kebijakan pemerintah.

Koordinator MaTA, H. Ade Mulyana memberikan santunan kepada warga jompo pada peringatan milad MaTA ke-2 (14/12/2014)
Koordinator MaTA, H. Ade Mulyana memberikan santunan kepada warga jompo pada peringatan milad MaTA ke-2 (14/12/2014)

Menurut koordinator MaTA, H. Ade Mulyana, kerena singkatannya Masyarakat Transparansi Anggaran, kadang lembaga swadaya ini sering dimaknai sempit sebagai LSM yang cuma mengkritisi APBN atau APBD. Padahal menurutnya lembaga ini memiliki makna yang lebih luas. Ade mengungkapkan transparansi adalah wujud tanggung jawab, kejujuran dan pemberdayaan. Transparansi anggaran itu harus dimulai dalam hubungan antar manusia, antar keluarga dan masyarakat.

“Transparansi atau keterbukaan itu harus dibangun dari ruh rakyat kita, sehingga akan menjadi budaya atau kebiasaan dalam hubungan dengan keluarganya, dengan komunitasnya dan dengan masyarakat,” ujarnya

“Sehingga kantor MaTA itu ada di desa, saya berharap minimal hubungan sosial masyarakat kami dilandasi kejujuran dan tanggung jawab.  Misalkan dalam pengelolaan lumbung padi  yang kini coba kami hidupkan kembali, pengelolaannya dilandasi tarnsparansi, ada tanggung jawab dan kejujuran pengurusnya dan ada pemberdayaan untuk anggota. Itulah wawasan MaTA ke depan, yaitu kemandirian rakyat yang harus dibangun terlebih dahulu.”paparnya.

Koordinator MaTA H. Ade Mulyana, Ketua DPRD Subang Ir Beni Rudiono dan Anggota DPD RI Aceng Fikri pada Dialog Publik di Desa Cidadap. Pagaden Barat (14/12/214)
Koordinator MaTA H. Ade Mulyana, Ketua DPRD Subang Ir Beni Rudiono dan Anggota DPD RI Aceng Fikri pada Dialog Publik di Desa Cidadap. Pagaden Barat (14/12/214)

Selain lumbung padi beberapa progam MaTA yang lain diantaranya zakat, bank sampah dan tabungan surga, yang semuanya dikelola dengan transparan. Masyarakat diajak untuk menyisihkan uangnya sebesar Rp. 500,- saja perhari dan meyisihkan sebagian hasil panennya untuk lumbung padi.

Anggota DPD RI Aceng Fikri mengungkapkan LSM seperti MaTA patut dicontoh oleh daerah atau Kabupaten/Kota lainnya.

“Kalau organisasi seperti MaTA ada di 27 Kab/Kota di Jawa Barat, saya yakin membangun Jawa Barat tidak akan susah. Basic dari pembangunan itu berawal dari kebudayaan, yaitu membangun kesadaran masyarakat seperti ini (MaTA),” katanya.

Hal senada juga diungkapkan Ketu DPRD Ir. Beni Rudiono, pihaknya akan mendorong pemerintah untuk menerapkan apa yang dilakukan MaTA di tempat lain.

“Kita akan coba evaluasi lebih dalam supaya ini menjadi contoh diterpkan di desa lain. Saya kira jika kemudian diterapkan hal ini akan mempermudah program pemerintah,” ujarnya.

Koordinator MaTA H. Ade Mulyana, Ketua DPRD Subang Ir Beni Suasana Dialog Publik di Desa Cidadap. Pagaden Barat (14/12/214)
Koordinator MaTA H. Ade Mulyana, Ketua DPRD Subang Ir Beni Suasana Dialog Publik di Desa Cidadap. Pagaden Barat (14/12/214)

Mengenai hal ini Ade Mulyana juga mengatakan MaTA akan menjadi pilot project sehingga bisa menjalar ke desa-desa lain.

“Tapi sekarang kita masih melakukan evalusi, sekarang yang terlihat kemadirian masyarakat Cidadap belum sepenuhnya terwujud tapi sudah terlihat ke arah sana. Jika sudah berhasil maka akan diterapkan di desa-desa lain.” pungkasnya.

Acara milad ini selain diisi dengan dialog publik sebelumnya juga diisi berbagai acara perlombaan dan pemberian santuan kepada puluhan warga jompo disekitar Cidadap.

“Itulah MaTA, anggota kita bukan yang hanya memikirkan kepentingan dirinya tapi memikirkan pemberdayaan masyarakat di sekelilingnya. Jadi, wujud dari Lembaga Swadaya Masyarakat itu ingin benar-benar bermanfaat bagi masyarakat, tidak ingin LSM itu dikesankan hanya membuat “ribet” pemerintah,” pungkas Ade.

Berita Terkait: