Wayang Subang Terpinggirkan di Kota Sendiri

KOTASUBANG.com, Subang – Pentas pewayangan baik wayang golek maupun wayang kulit di Kabupaten Subang terancam punah. Hal tersebut disebabkan karena kurangnya intervensi pemerintah dalam memfasilitasi pentas dan pertunjukan para dalang lokal untuk mementaskan keahliannya tersebut.

Menurut Ketua Persatuan Pedalangan Indondonesia (Papadi) Kabupaten Subang, Ade Mulyawadi saat ini ada sebanyak 42 dalang yang berasal dari Kabupaten Subang, namun para dalang tersebut tidak pernah dilibatkan dalam acara –acara pemerintah, seperti halnya dalam perayaan ulang tahun kecamatan dan desa.

“Kita akan berupaya memasyarakatkan kembali atau membuat seni pedalangan di Kabupaten Subang tidak punah. Untuk memasyarakatkan seni pedalangan tentunya harus ada dukungan dari pemerintah untuk melakukan intervensi terhadap kesenian itu,” kata Ade Mulyawadi, Selasa (2/12).

Jika ada intervensi pemerintah dalam memberdayakan para dalang lokal dalam semua kegiatan pemerintah yang disaksikan oleh banyak masyarakat, itu akan menjadi promosi untuk para dalang lokal supaya dikenal masyarakat banyak.

“Kita harus mengenalkan, bahwa di Subang itu banyak dalang. Bukan hanya dalang dari Bandung saja yang sering dilibatkan, seprti dalam ulang tahun Kabupaten, masyarakat juga harus dikenalkan kepada dalang-dalang yang ada di Subang,” tuturnya.

Saat ini dari jumlah dalang sebanyak 42 dalang yang tergabung dalam Papadi Kabupaten Subang, yang masih aktif melakukan aktivitas melakukan pentas ada sekitar 20 dalang. sedangkan yang sebagiannya lagi terancam punah.

“Saat ini hanya 50% yang masih aktif mendalang, sisanya terancam punah, kenapa bisa tidak aktif? Karena seni dan pedalangan ini bisa hidup karena ada yang ngundang. Tapi sekarang realitanya dalang Bandung yang menjadi primadona hiburan di Subang dan dalang Subang hampir dilupakan,” katanya.

Papadi Kabupaten Subang, saat ini akan berusaha mendesak pemerintah untuk melakukan intervensi dan setiap ulang tahun kecematan dan desa harus ada pentas dalang, bahkan akan diupayakan setiap bulannya di kantor radio benteng pancasila (benpas) setiap sebulan sekalinya itu harus ada pentas wayang, supaya pedalangan di Subang itu tetap eksis.

Selain harus dilakukannya intervensi pemerintah, untuk membuat kesenian pedalangan di Kabupaten Subang kedepannya Papadi Kabupaten Subang berharap ada dukingan wayang saba desa. Supaya dalang lokal ini bisa dikenal, selain itu wayang saba desa merupakan upaya pelestarian.

Wayang Golek

Wayang Golek

“Yang jelas kita tidak bisa lepas dari pemerintah, pelestarian budaya harus ada dukungan dari pemerintah. para pelaku seni terutama para dalang yang berjumlah 42 dalang, yakni 11 dalang wang kulit dan 31 dalang wayang golek meminta saya untuk kembali menghidupkan seni pewayang, baik wayang golek maupun wayang kulit,” tuturnya.

Sementara, Kasie Kesenian Dinas Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Subang, Warman mengatakan, memang saat ini pentas wayang di Subang sudah sedikit berkurang, kalaupun ada itu adalah dari luar Subang. Padahal masih banyak para dalang lokal yang harus diberdayakan, supaya kesenian pedalangan di Subang tidak punah.

“Memang kedepannya kita akan mendukung semua padepokan-padepokan seni seperti pedalangan, tari jaipong, sisingaan dan lain sebagainya untuk kembali dikenalkan kepada masyarakat. Hal itu akan kita lakukan untuk kemajuan seni di Kabupaten Subang. Namun untuk merealisaikan hal itu, kita memerlukan management yang propesional karena Subang saat ini merupakan dapur kesenian Bandung,” kata Warman.

Masih menurut Warman, menang saat ini permintaan pentas dalang-dalang Bandung lebih banyak, ketimbang dalang-dalang lokal, selain karena kalah pamor, pihaknya mengakui bahwa pemerintah saat ini memang kurang mempromosikan para pelaku kesenian asli Subang.

“Mudah-mudahan semua rencana pemerintah untuk menghidupkan kembali kesenian seperti halnya wayang saba desa dan pentas wayang setiap sebulan sekali di benpas bisa terlaksana. Kita sangat mendukung masukan itu karena hal itu adalah upaya untuk menyelamatkan para dalang-dalang asli Subang dari kepunahan,” katanya.

Saat ini, dipaparkan Warman, pemerintah akan memfasilitasi semua kreativitas lokal, hal itu untuk membuat kesenian, terutama kesenian lokal tidak punah dan bisa diturunkan kepada generasi selanjutnya.

“Untuk dalang sendiri kita saat ini sudah melakukan pembinaan terhadap bibit-bibit dalang cilik, kemaren saja pas ada festival dalang tingkat Jabar kita kirim tujuh dalang cilik dan satu dalang dari SMPN 1 Subang berhasil memperoleh penghargaan,” tutupnya. (Fakta Jabar)