Membangkitkan Semangat Seniman Dalam Penciptaan Karya Seni Untuk Usia Dini

Adanya persinggungan budaya modern terhadap budaya tradisional berdampak pula pada jenis karya seni lokal. Perubahan ini disinyalir sebagai peristiwa adaptasi terhadap perkembangan jaman. Keterbukaan informasi dan komunikasi serta kemajuan teknologi modern, yang menyediakan alternatif pilihan aneka jenis kesenian baru, didukung etalase “penampilan” peralatan kesenian yang dianggap modern, perkembangan pendidikan formal dan non formal yang menjadi “corong” sosialisasi penanaman wawasan perkembangan itu, menjadi faktor pendukung adanya perubahan-perubahan ini.

Pemahaman dikotomi tradisi – modern, kuno – kini, pada sebagian orang disikapi sebagai bentuk “keharusan untuk hijrah” ataupun dengan istilah “bedol budaya”, untuk menggiring berbagai hasil budaya lokal “menyesuaikan” dengan perkembangan kekinian. Yang tidak melakukan “hijrah” dengan “gebyar kekinian”, dianggap ketinggalan jaman. Kesenian sebagai unsur kebudayaan, sangat merasakan dampak pola-pola pemahaman seperti ini. Salah satu dampaknya adalah, adanya perubahan pola pandang terhadap nilai-nilai kebanggaan dengan pencapaian dari potensi-potensi kesenian lokal, yang dianggap tidak mampu mengimbangi pencapaian potensi-potensi budaya luar.

sisingaan-cilik-5

sisingaan-cilik-4

Bagi sebagian besar anak-anak masa kini, mungkin jarang yang menyisakan memorinya untuk menyimpan deretan puncak kepopuleran seni permainan anak-anak masa lalu, sebagai salah satu kepiawaian para leluhur untuk membuat pola-pola seni permainan anak-anak yang sesuai dengan nilai-nilai muatan budaya lokal, yang menjadi kebanggaannya. Seni permainan anak-anak yang muncul sebagai bagian dari pola-pola pendidikan leluhur untuk generasinya, merupakan upaya untuk tetap menjaga penerapan dan pemahaman anak, akan nilai-nilai budaya lokal yang harus tetap ada sebagai manifestasi kebanggan terhadap identitas budayanya.

Para leluhur seniman kita telah melakukan upaya untuk menciptakan seni dalam berbagai aspek, sesuai dengan perspektif pribadinya dalam menempatkan tanggung jawab individu terhadap nilai-nilai pesan seni yang ingin disampaikan untuk kelangsungan generasi selanjutnya. Seni permainan anak-anak seperti; oray-orayan, sorgetok, alung sarung, jajampanaan, ucing sumput, maen karet, maen kaleci, jeblag panto, hahayaman, bebentengan, jajangkungan/egrang, merupakan permainan yang sangat dinamis.

sisingaan-cilik-2

Permainan-permainan tersebut mengandung unsur-unsur keterampilan yang menjadi satu kesatuan yang terpadu antara irama, gerakan, serta sikap yang sifatnya positif. Ditinjau dari segi kesehatan, irama-irama nyanyian atau tetabuhan dari peralatannya dapat melatih kepekaan pendengaran, serta berdampak pada kepekaan psikomotorik.

Gerakan-gerakan permainan dapat melatih motorik anak menjadi terampil. Selain itu, permainan-permainan itu menguras energi seperti layaknya olah raga. Gerakan badan dan sistem syaraf akan lebih terkoordinasi dengan baik. Ini akan membuat anak lebih sehat. Ditinjau dari segi sosialisasi, di balik permainan itu ada pula unsur-unsur sosial yang secara tidak langsung dilatihkan. Sikap-sikap itu merupakan sikap yang membentuk kepribadian seseorang. Sikap sportif, setia kawan, tekun, ulet, gotong royong, saling menolong, saling menghargai, adalah penenaman nilai-nilai dan norma-norma dalam seni “kaulinan barudak”, serta dipercaya mampu melatih berpikir cerdas dan kreatif.

Sondah, salah satu kaulinan yang dilombakan dalam Alimpaido Kecamatan Cibogo, 18/08/2014 (Foto by @Kec_Cibogo)
Sondah, salah satu kaulinan yang dilombakan dalam Alimpaido Kecamatan Cibogo, 18/08/2014 (Foto by @Kec_Cibogo)

Sebuah pertanyaan mendasar untuk saat ini, apa yang sudah dilakukan oleh para seniman kekinian untuk generasi selanjutnya?, Adakah nilai tanggung jawab moral untuk tetap menjaga nilai-nilai budaya lokal melekat pada generasi penerusnya?, atau cukup dibiarkan mereka mengadopsi dan merasa bangga dengan produk-produk seni dari budaya luar?, ataupun juga, kita tidak terketuk sama sekali, manakala generasi ini akan kehilangan sebuah identitas budayanya?.

Mudah-mudahan momentum ini menjadi titik perenungan bersama bagi semua unsur terkait, bahwa sikap profesionalisme berkesenian, bukan hanya diukur dari seberapa besar “kucuran” materi mengapresiasi karya-karya seniman, tapi disamping itu juga, mampu mengedepankan tanggung jawab moral seniman dalam berkesenian, terhadap pola penyampaian pesan nilai-nilai budaya lokal untuk sebuah kebanggaan generasi penerusnya akan identitas budayanya.

alimpaido subang

Langkah kecil para seniman, mungkin dapat dimulai dengan sebuah proses pemikiran untuk merancang pola karya cipta seninya, dengan memfokuskan pada karya seni yang akan diaplikasikan pada anak usia dini, sebagai pondasi penyampaian nilai-nilai dan pola norma-norma berkesenian semenjak dini. Sungguh menjadi cerminan harmonis, manakala semua penggiat dan praktisi seni bahu membahu mewujudkan semangat kebersamaan ini, dengan sebuah landasan orientasi pencapaian, menjadikan calon-calon generasi penerus menyikapi perkembangan kekinian dengan tidak melepaskan nilai-nilai kebanggaan akan identitas budayanya. Bahan-bahan untuk penciptaan karya seni di Kabupaten Subang sangat mumpuni, karena kepopuleran Kabupaten Subang sebagai lumbungnya potensi Sumber Daya Manusia (SDM) seni, serta Sumber Daya Kultural (SDK).

Bagi semua pihak yang terpanggil dengan semangat dan tanggung jawab moral ini, komunitas Seni Ringkang Nonoman membuka ruang untuk bersama sebagai bagian keluarga besar seni di Kabupaten Subang, mewujudkan langkah-langkah kecil ini. Hanya untaian kalimat yang suatu saat akan kami sampaikan untuk generasi seni Kabupaten Subang selanjutnya, setelah apa yang kami lakukan:

“Bral geura miang anaking

Mawa ciri nu mandiri

Keur sajatina urang Subang…”

Penulis : Nandang Kusnandar, S.Sn (Pembina Sanggar Seni Ringkang Nonoman, Cigadung)

Berita Terkait: