Bulog Subdivre Subang Menghentikan Pembelian Gabah

Bulog Sub Divre Subang sejak akhir Oktober lalu sudah menghentikan pembelian gabah petani untuk kebutuhan pengadaan beras dalam negeri tahun 2014. Selain musim panen sudah berakhir, harga gabah di pasaran juga sudah tinggi. Dengan kondisi tersebut, saat ini bulog Subang tengah fokus memantau perkembangan harga beras di pasaran.

Mengenai hal itu dibenarkan Kepala Bulog Sub Divre Subang, Dedi Supriadi dikantornya, Senin (24/11/2014). Dia mengatakan pengadaan beras dalam negeri dengan membeli gabah dari petani sudah dihentikan. Sebab sesuai fungsi bulog, pembelian gabah dari petani dilakukan selain untuk memenuhi stok juga mengamankan harga dasar di tingkat petani.

sagalaherang-subang-sawah

“Sejak akhir Oktober lalu, musim panen sudah berakhir, dan harga gabah di petani sudah tinggi di atas harga pembelian pemerintah. Untuk musim tanam 2014/2015 sementara instirahat, pengadaan baru akan dilaksanakan lagi ketika memasuki musim panen diperkirakan sekitar Maret 2015 mendatang,” katanya.

Dikatakan Dedi, dari target pengadaan sebanyak 55 ribu ton, hingga dihentikan pencapaiannya baru 64 persen atau sebanyak 36 ribu ton. Meski target pengadaan tak tercapai, tetapi stok beras di gudang sudah cukup banyak. Stok beras digudang bulog Subdivre Subang saat ini ada sebanyak 22 ribu ton. Stok beras sebanyak itu mencukupi untuk memenuhi kebutuhan penyaluran raskin selama delapan bulan ke depan, maupun stok untuk cadangan beras pemerintah.

“Pengadaan ini fungsinya untuk mengamankan harga dasar ditingkat petani. Sejak akhir Oktober lalu, harga dasar gabah di petani sudah aman, diatas harga pembelian pemerintah. Malahan sudah termasuk tinggi,” ujarnya.

Selain itu mengamankan harga dasar, lanjut Dedi, bulog juga harus ikut menstabilkan harga beras di tingkat konsumen, jangan sampai terlalu tinggi.
Dijelaskannya, untuk penyaluran raskin di Kabupaten Subang tahun 2014 saat ini masih ada sebanyak 150 ton belum disalurkan. Penyebabnya banyak desa yang menunggak, sehingga penyalurannya ditangguhkan sementara. Beras itu bisa disalurkan lagi apabila desa sudah melunasi tunggakannya. “Tunggakan raskin tersebar di sejumlah desa totalnya mencapai Rp 1,4 miliar itu termasuk dengan tunggakan berjalan,” tambahnya.

Sementara itu harga eceran beras di beberapa pasar tradisional sebelum kenaikan harga BBM diberlakukan sudah terus naik. Kenaikan harga itu lebih disebabkan karena faktor sudah berkurangnya areal panen, dan umumnya petani tengah bersiap-siap melakukan tanam. “Sebelum BBM naik, harga beras per kilogramnya terus naik bertahap, seperti kualitas medium asalnya Rp 7.000 menjadi Rp 7.500 – Rp 7.600,” kata Neti seorang pedagang beras di pasar panjang Subang. (Pikiran Rakyat)