Haru di Malam Apresiasi Sang Maestro Toleat

KOTASUBANG.com, Subang – Murdiyana (14) benar-benar tak menyangka, tiba-tiba ayah yang telah meninggalkannya 2 tahun lalu begitu diagungkan oleh para pecinta seni di Subang, tempat kelahiran ayahnya. Ketika pertama kali menerima buku berjudul “Jejak Sang Maestro Toleat” ia hanya terpaku sambil membolak-balik isi buku tersebut. Ada foto Ayahnya disana lengkap dengan sejarah Ayahnya, yang mungkin ia sendiri baru mengetahuinya.

Kemudian timbullah rasa bangga terhadap Ayahnya. Ayah yang dulu cuma ia tahu sebagai tukang tarompet Sisingaan yang selalu mengajaknya main di sawah sambil ngurek belut semasa hidupnya, ternyata telah berjasa bagi dunia seni di Subang dan Jawa Barat melalui hasil karyanya.

toleat-1

Kebanggaan terhadap sosok Ayahnya semakin memuncak ketika tepat dihari ulang tahunnya yang ke 14 secara khusus ia bersama ibu dan beberapa keluarganya diundang ke Subang untuk menghadiri acara yang khusus dipersembahkan untuk Ayahnya, Jumat malam (24/10/2014). Sebuah acara bertajuk “Malam Apresiasi Sang Maestro Toleat” yang diselenggarakan oleh Sanggar Seni Ringkang Nonoman, Sobat Budaya Subang dan para pegiat seni ini didedikasikan untuk Mang Parman, Sang Maestro Toleat yang merupakan Ayahnya Murdiyana.

“Saya tak menyangka ternyata Ayah saya begitu dihormati. Terima kasih kepada semua pihak atas segalanya, saya bangga sama Ayah saya” kata Murdiyana kepada kotasubang.com.

Hal senada juga diungkapkan Tasem, istri Mang Parman. Ia hanya bisa mengungkapkan rasa terima kasihnya dihadapan para hadirin.

“Terima kasih untuk semuanya,” kata Tasem singkat sambil menangis haru di depan para pejabat dan berbagai pihak yang menghadiri acara tersebut.

Hadir dalam acara tersebut wakil ketua DPRD Subang Agus Masykur, Kadisbudparpora Asep Nuroni, Kadis Infokom Ida, Kasi Kebudayaan Disbudparpora Warman Santi, para pelajar, komunitas dan para pegiat seni. Hadir pula Kabid Kebudayaan Kabupaten Purwakarta mewakili Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.

Kepala Dinas Kebudayaan Parawisata Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) Kabupaten Subang, Asep Nuroni mengatakan pihaknya merasa terharu saat menghadiri acara tersebut.

“Iya, saya kagum dan bangga mempunyai generasi muda yang memiliki kontribusi serius dalam mempopulerkan kembali alat musik khas Subang, kita sangat apresiasi itu,” katanya.

Selanjutnya Asep mengatakan  pihaknya akan segera membuat pengajuan untuk mempatenkan alat musik tersebut.

“Mudah-mudahan 2015 alat musik toleat sudah dipatenkan. Untuk mempatenkan alat musik ini Alhamdulillah kita mendapat dukungan dari masyarakat dan pemerintah. Kita juga akan memberi penghargaan kepada penciptanya,” tuturnya.

Foto bersama keluarga Mang Parman
Foto bersama keluarga Mang Parman

Sementara itu Agus Masykur mengatakan pembangunan Subang ke depan perlu dukungan tokoh-tokoh utamanya memajukan seni budaya. Kemudian mengajak kepala dinas terkait untuk sama-sama memberikan dukungan.

Apalagi sebelumnya ada janji dari Gubernur Jabar yang akan menyediakan sarana gedung seni, itu artinya tinggal melanjutkan dalam merealisasikannya.

“Dari Pemda juga akan mendukung, sesuai visi Subang tingkatkan budaya dan pariwisata. Pembahasan Toleat juga nantinya saya harap bisa digelar lebih besar lagi,” katanya.

Wakil dari Kabupaten Purwakarta juga mengapresiasi acara yang khusus di persembahkan untuk Sang Maestro ini.

“Saya sangat mengapresiasi acara ini, terlebih kami tahu betul siapa Mang Parman, sudah beberapa kali kami bekerjasama dengan beliau termasuk mengisi acara di radio,” ungkapnya.

toleat mang parman 2
Penyerahan uang kadeudeuh hasil donasi para hadirin untuk keluarga Mang Parman

Mewakili komunitas, Rohadian Rahmat dari Facebooker Subang mengaku sangat bangga atas dedikasi Mang Parman dengan Toleatnya. Dia juga mendesak agar pemerintah segera mempatenkan Toleat.

Ketua HIPMI Jabar Yedi Karyadi yang ditemui sesaat sebelum dimulainya acara, mengaku pihaknya sangat mendukung acara semacam ini terlebih ini untuk menghargai seniman yang telah berjasa bagi Jawa Barat. Hal senada diungkapkan owner Hotel Dafam Betha, Evi Natalya, pengusaha yang concern terhadap budaya dan wisata Subang ini berharap acara-acara seperti ini semakin sering diadakan.

Wisnu, salah seorang warga dari Dawuan mengaku terharu menyaksikan acara tersebut. Dia terharu melihat semua pihak bahu membahu secara sukarela menyelenggarakan acara tersebut.

“Banyak sekali para pemuda terutama pelajar yang terlibat dalam acara yang dikemas apik ini, tentunya mereka memiliki kepedulian yang tinggi terhadap Sang Maestro dan seni budaya Subang pada umumnya,” ungkapnya.

“Namun sayang saya tidak melihat Bupati dan wakil Bupati di sini. Tapi mungkin karena sudah ada yang mewakilinya,” ungkapnya menyayangkan.

Acara malam Apresiasi ini dikemas dengan menampilkan berbagai pementasan kreasi seni, termasuk kolaborasi alat musik Toleat dengan musik modern. Tampil sebagai pengisi acara SMKN 10 Bandung, SMK Kesenian Subang, YPIB, Sanggar Ringkang Nonoman, Teater SMAN 1 Jalan Cagak, Lorong Teater, NOJ Project, Hagaboku, Sanggar seni Sadewa Compreng dan penampilan khusus Toleat Kalangenan oleh Wa Amar ynag merupakan salah satu murid Mang Parman.

Panitia dan pengisi acar melakukan evaluasi akhir acara
Panitia dan pengisi acara melakukan evaluasi akhir acara

Kolaborasi Toleat yang dimainkan Wa Amar dengan NOJ project dengan membawakan lagu Led Zeplin, serta permainan perkusi yang apik membuat hadirin terpana dibuatnya.

Diakhir acara dilakukan pembacaan paparan biografi “Jejak Sang Maestro Toleat, Mang Parman” oleh etnomusikolog yang juga pegiat seni di Sanggar Ringkang Nonoman, Nandang Kusnandar. Para hadirin tampak dengan seksama menyimak pembacaan biografi yang menjadi lebih syahdu dengan iringan alunan Toleat Wa Amar. Kemudian buku berjudul “Jejak Sang Maestro Toleat” diserahkan Nandang kepada istri Mang Parman.

Selanjutnya dilakukan pengumpulan uang kadedeuh untuk perbaikan pusara Sang Maestro. Hasil pengumpulan uang tersebut langsung diserahkan kepada keluarga Mang Parman saat itu juga.

 

Berita Terkait: