Diminta Jokowi, Kadin Realisasikan Proyek Percontohan Sentra Nelayan di Subang

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Kelautan dan Perikanan, saat ini, tengah merealisasikan proyek percontohan sentra nelayan versi Kadin dengan konsep business to business di Kampung Nelayan, Desa Blanakan, Subang, Jawa Barat.

Proyek ini merupakan permintaan Presiden Terpilih Joko Widodo, saat melakukan pertemuan dengan Kadin di Balai Kota Jakarta, Senin 6 Oktober 2014 lalu.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan, Yugi Prayanto, Kamis 15 Oktober 2014, mengatakan sentra produksi perikanan ke depan harus terintegrasi, mulai dari kapal nelayan, cold storage, termasuk processing unit, sesuai dengan kebutuhan tiap kelompok dan kampung nelayannya, hingga permodalan dari perbankan dan asuransi.

“Pengusaha dalam Kadin Kelautan dan Perikanan telah siap menyatakan untuk menjadi off taker (penampung)nya,” kata Yugi dalam keterangannya.

Dia menjelaskan, masyarakat di desa Muara, Subang, mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan.

Berawal dari kampung nelayan, kemudian berkembang dengan adanya Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan Koperasi Unit Desa (KUD) Mandiri Mina Bahari, yang kemudian akan dilakukan pembenahan menjadi sentra nelayan percontohan.

“Aktivitas rutin penangkapan ikan dan pelelangan sudah biasa berjalan. Hanya saja, ke depan kami akan benahi beberapa hal, agar lebih terintegrasi dan menjadi sentra produksi perikanan yang baik,” kata dia.

Yugi menjelaskan, hambatan yang ditemui adalah masyarakat masih fokus kepada penangkapan ikan saja, belum mengarah pada proses pengolahan hingga pemasarannya.

Tempat Pelelangan Ikan Blanakan
Tempat Pelelangan Ikan Blanakan

“Pengolahan ikan belum bisa dilakukan, karena terkendala kepada sarana proses ikan mesin pembeku ikan (ABF), mesin es, cold storage, dan sarana pemasaran. Kami akan usahakan pengadaannya, termasuk modal usaha dan SDM untuk pengolahan,” kata Yugi.

Dia menargetkan, kapasitas ikan olahan per bulan bisa mencapai 50 ton. Idealnya, sentra perikanan paling tidak memiliki satu unit sarana processing ikan dan udang dengan kapasitas tiga ton per hari, satu unit mesin pembeku dengan kapasitas tiga ton per proses, cold storage dengan kapasitas 40 ton, dan mesin es dengan kapasitas tiga ton.

Biaya investasi sarana itu mencapai Rp3,2 miliar dengan bantuan pengembalian modal kerja hingga 2,5 tahun.

Yugi juga mengatakan, untuk menunjang usaha pengolahan dan pemasaran ikan, pihaknya merealisasikan kendaraan bermotor roda tiga berpendingin untuk memasarkan ikan dari koperasi nelayan setempat.

“Ke depan, kami berharap, sentra pengolahan ikan di daerah itu bisa terintegrasi mulai dari usaha penangkapan, usaha pengasinan ikan, serta usaha tambak udang dengan ditunjang manajemen pemasaran yang baik,” kata dia.(Vivanews)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here