Lahirnya Karya Seni Bukan Semata Untuk Komersialisasi (Toleat)

“Mang Parman mawa beja urang Subang
Bagja teh lain diukur ku harta
Nyorangan neuleuman nalungtik diri
Hirup nu sampurna mun apal jati dirina
Mang Parman niup toleat sorangan
Mere beja yen lembur aya nu robah
Ngukur diri bebejaka balarea
Ngan saukur bisa ngobrol diri jeung toleat”

Penggalan syair (rumpaka) di atas khusus saya buat dalam rangka acara “Ngadabrul Toleat Ti Jaman Ka Jaman” yang diselenggarakan Komunitas Sanggar Seni Ringkang Nonoman, sebagai bentuk apresiasi terhadap Sang Kerator dan Inspirator SeniToleat, MangParman. Kepiawaian Mang Parman menangkap gejala fenomena sosial di sekitarnya, membangkitkan dayakreasi dani novasinya untuk mewujudkan sebuah produk budaya berupa alat musik Toleat. Ketakjuban saya tidak hanya berhenti sebatas produk budaya, tapi Mang Parman mampu menempatkan seni pada posisi yang ideal, dimana bukan saja seni dibangkitkan lagi optimalisasi fungsinya sebagai alat komunikasi, penghayatan estetis dan peingtegrasian sosial, namun Mang Parman juga mampu menempatkan produk seninya sebagai sebuah media yang tidak semata-mata bergantung dan berorientasi pada aspek komersialisasi.

Bercermin dari rentang perjalanan Mang Parman Sang Maestro seni Toleat, yang menangkap fenomena perubahan dengan sebuah proses pencarian, dan kemudian diwujudkan dalam sebuah produk seni, adalah refleksi faktual betapa aspek komersialisasi bukanlah orientasi utama lahirnya sebuah karya seni. Adapun selanjutnya karya seni tersebut mampu merambah wilayah ekonomi, itu karena dampak dari “sesuatu” yang terdapat pada karya seninya, baik secara kualitas maupun kekuatan pesan yang disampaikannya.

Adalah MangParman, sosok pencetus gagasan dan kreator terlahirnya produk seni alat musik toleat, yang terinspirasi dari fenomena perubahan sosial disekitarnya, dimana pesawahan bukan lagi menjadi tempat popular untuk anak-anakseusianya dulu berekspresi, sebagai arena bermain dan berkreasi. Setelah perwujudan alat musik toleatnya terealisasi, tidak sertamerta Mang Parman menggiring kreasi alat musiknya, menjadi alat musik berorientasi komersial. Terbukti dengantoleat yang awalnya hanya dipergunakan sebagai “teman sepinya”.Menemani rasa kesepian Mang Parman akan sebuah fenomena perubahan sosial yang terjadi di depan matanya. Pada saat itu, Toleat hanyalah dipergunakan Mang Parman sebagai alat musik kalangenan (menghibur diri sendiri). Di sela-sela istirahat dalam kegiatan menggembala ternaknya, Mang Parman mengekspresikan dirinya untuk berkomunikasi dengan alam melalui media alat musik toleat, seperti halnya ekspresi lirik musisi Ebiet G Ade untuk bertanya pada “rumput yang bergoyang”.

NANDANG-KUSNANDAR-ETHNOMUSICOLOG

Itulah sebabnya dan penting adanya, untuk melihat sebuah karya seni tidak semata hanya dilihat dari wujudhasilnya, tapi alangkah lebih bijak apabila kita mengapresiasi sebuahkarya seni seraca integral, dimana kita mampu melibatkan diri kita dengan aspek-aspek “di balik layar” hadirnya sebuah mahakarya seni tersebut. Diyakini bersama bahwa sakralitas karya seni adalah dengan mampunya kit amelibatkan diri dengan konsep gagasan, pesan dan latarbelakang terlahirnya sebuah karyaseni. Adalah sebuah nilai-nilai estetis yang tak ternilai, manakala kita mampu melihat fenomena seni bukan hanya pada “wilayah hasil”, yang semata hanya dengan melihat keindahan gerak, nada, cerita maupun racikan warna, sungguh menikmati nilai-nilai estetis sebuah karya seni bukanlah berhenti pada aspek bentuk apresiasi di atas, namun juga akan lebih lengkap adanya, apabila petualangan imajinasi kita, mampu bercengkerama dengan konsep gagasan dan orientasi pesan sang kreator seni kepada kita sebagai objek apresiator seninya.

MangParman menyiratkan sebuah pesan eksistensi berkesenian, yang tidak selalu terjebak dalam lingkaran orientasi komersial. Banyak makna dibalik lahirnya sebuah karyaseni, yang notabene terlahir dari kekuatan imajinasi dan inspirasi sang kreator seni, menjadi hal yang terlupakan dan terabaikan, sehingga terkadang sebuah karya seni kehilangan “ruh” saat diapresiasi, ataupun denganistilah lain, banyak orang yang merasa puas hanya dengan sekedar menikmati seni dari sudut “cangkang (kulit)nya” tapi sangat disayangkan,tidak banyak orang yang mampu menikmati seni dengan “isinya”.

Tuhan telah memerintahkan kepadaorang-orang yang berpikir untuk mampu bisa membaca kebesaranNya, dengan menganalisa tanda-tanda maupun simbol-simbol yang ada di seantero langit dan bumi. Beruntung seniman turut serta mengambil peran penting itu, dengan menangkap berbagai fenomena alam dan sosial, untuk kemudian diaplikasikan menja disebuah produk kesenian berupa karya seni. Tidak sampai disitu, seniman dengan keahliannya turut serta “mensyiarkan” hasil bacaannya melalui pesan singkat kepada para apresiatornya. Terlahirlah beragam produk karyaseni dengan latar belakang petualangan imaji dan inspirasi sang kreator seni, akan fenomena hidup yang dialaminya.

Akhirnya terbersit sebuah pertanyaan sederhana, “bagaimana orang akan mampu mengoptimalkan analisa pemaknaan dan pemahaman akan muatan pesan dalam sebuah karya seni, apabila kita dan banyak orang hanya puas membaca dan mengapresiasi sebuah karya seni, hanya pada sudut bacaan“fenomena cangkang”?. Untuk sebuah nilai pencapaian apresiasi seni berkualitas dan berwawasan, saatnya momentum hari ini untuk masa depan, mampu kita tegakan dengan mewarnai perjalan hidup serta isi nya, dengan kekuatan sebuah komunitas yang bertanggungjawab, menuntun generasi muda ke depan,dengan kualitas apresiasi seni yang tidak hanya membicarakan dan mempraktekan kemampuan “seni cangkang”, namun juga mampu bersama menjunjung tinggi nilai-nilai yang terkandung pada “seni isi”.

(Penulis : Nandang Kusnandar, S.Sn / Sanggar Ringkang Nonoman)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here