Odo Wikanda, Sang “Penemu” Maestro Toleat

KOTASUBANG.com, Subang – Dengan perlahan tubuh rentanya membukakan pintu untuk kami. Beliau terlihat bugar, meski usianya menginjak 82 tahun. Dari wajahnya tampak sedikit bingung melihat wajah kami yang tak ia kenal sebelumnya. Tapi kemudian begitu kami sebut nama sebuah benda, air mukanya langsung berubah.

“Kami mau tahu sejarah Toleat pak,” ujar teman saya, setelah sebelumnya memperkenalkan diri.

Air mukanya yang tadinya tampak bingung kemudian menjadi tersenyum dan mempersilahkan kami masuk.

Dialah Odo Wikanda, pensiunan penilik kebudayaan, yang di masa akhir pengabdiannya menemukan  “Mutiara seni pesawahan” di daerah kerjanya, Pamanukan. Mutiara seni itu adalah Mang Parman, sang maestro Toleat, yang kemudian karyanya menjadi kekayaan budaya Subang yang sangat berharga.

Setelah mempersilahkan kami duduk, kemudian dia meminta kami untuk mendekat. Usia telah membuat ketajaman pendengarannya memudar, sehingga kami harus sedikit mendekat dan mengeraskan volume suara kami.

“Maklum, Bapak dulu keseringan deket sound system”, ujarnya sambil tertawa.

Kemudian ia mengambil sebuah buku panjang, seperti buku yang biasanya dipakai untuk catatan utang piutang. Ia mulai membuka lembaran-lembaran buku itu, seperti mencari sebuah catatan penting. Rupanya, ia mencatat berbagai hal di buku tersebut, termasuk sebuah lagu tentang Toleat, yang dahulu diciptakan khusus untuk diiringi Toleat.

“Toleat awi saruas
pikir pa ulang pa uling
manungsa kelingan jalma
kelap kelip diri kuring
rebab jangkung jeung kacapi
nalangsa saumur-umur
tolak jangkung wadah barang
mana melang-melang teuing
lampit awi gurung gupuh pipikiran”

Itulah sebagian lirik yang Pak Odo lagukan, usianya yang tak lagi muda membuatnya harus beberapa kali mengatur nafas. Mendengar beliau ngawih diusia setua itu membuat kami merinding mendengarnya.

“Dulu itu daerah Pamanukan kan daerah pesawahan, nah anak-anak di sana sering membuat empet-empetan atau tatarompetan (terompet) dari batang jerami,” katanya seusai ngawih.

Di sanalah ada tokoh seni yang namanya Maman Suparman yang kemudian lebih dikenal dengan nama mang Parman. Mang Parman kecil yang suka main empet-empetan kemudian karena jiwa seni dan kreatifitasnya, empet-empetan tersebut ia coba buat dengan berbagai bahan yang lain seperti pelepah pepaya dan bambu sehingga menghasilkan nada yang lebih baik dan tahan lama.

pk odo toleat subang
Pak Odo Wikanda (Penilik Kebudayaan Subang 1988-1993). Beliau yang berjasa memasyarakatkan Toleat

“Bapak pertama kali ketemu mang Parman waktu jadi penilik (sekitar tahun 1988) di Tegal Urung, waktu itu dia lagi maen sama rombongan Sisingaan.” kata Pak Odo melanjutkan cerita.

Kemudian Pak Odo terkejut, ternyata dalam rombongan Sisingaan itu tidak ada pemain terompet. Dia hanya menemukan mang Parman memainkan alat yang masih asing baginya sebagai penilik kebudayaan. Hingga kemudian alat musik yang menyerupi suling dan bernada seperti terompet tersebut dikenal dengan nama Toleat.

“Dari situ Bapak tertarik, kemudian suatu saat Bapak bawa bambu tamiang bekas gagang sapu dari rumah, maksudnya biar mang Parman mencoba buat Toleat dari bahan ini. Dan ternyata setelah mang Parman buat, suaranya bagus,” jelasnya.

Pertemuan Pak Odo dengan Mang Parman kemudian membawa babak baru bagi Mang Parman dan Toleat ciptaannya. Terkait tugasnya sebagai penilik kebudayaan, Pak Odo benar-benar melaksanakan fungsinya. Ia berusaha membawa Toleat ke ranah lebih luas, yaitu menjadi bagian dari sebuah seni pertunjukkan. Setiap ke Pamanukan Pak Odo selalu mengajak Mang Parman berlatih Toleat.

“Tembang yang tadi itu dulu Bapak nyayikan dengan diiringi Toleat. Mang Parman Bapak suruh latihan pake lagu itu. Butuh waktu setahun Mang Parman hingga kemudian bisa mengiringi lagu itu dengan Toleat,” lanjut pria kelahiran 1933 itu.

“Menurut Mang Parman, ia sangat tersentuh dengan lagu itu. Seperti mewakili dirinya,” katanya.

Hingga kemudian pada waktu HUT Kabupaten Subang, Pak Odo membawa Toleat untuk dipamerkan di halaman Wisma Karya. Ternyata gayung bersambut, Bupati Subang waktu itu H. Oman Sachroni sangat tertarik dan meminta mang Parman memainkannya. Mulai dari situ Toleat dan Mang Parman menjadi semakin di kenal karena sering diminta manggung oleh Bupati.

“Bahkan waktu acara nikahan saudara-saudaranya di Bandung, Bupati selalu minta Toleat yang ditampilkan,” ungkap pria beruia 82 tahun ini.

“Dan Toleat juga pernah ditampilkan dihadapan presiden Soeharto dalam acara panen raya,” ujar Pak Odo bangga.

Kini, di usia senjanya Pak Odo punya harapan besar. Ia ingin Toleat yang sudah ia perkenalkan ini tidak kemudian hilang begitu saja.

“Ini kan sudah dicatat di Pemprov Jabar, maunya sih lebih dikembangkan lagi, saya harap anak-anak muda mau belajar lagi Toleat,” ungkapnya.

Pak Odo juga menyayangkan dinas terkait yang dinilainya kurang berperan bagi perkembangan Toleat.

Harapan Pak Odo harusnya menjadi perhatian semua pihak, atas jasa Pak Odo dan Mang Parman kini Subang memiliki alat musik khas yang bisa dibanggakan.

Berita Terkait: